Berapa lama untuk Belajar Bahasa Asing?

27 Apr

12-bahasa-daerah-yang-sudah-punah-di-indonesia-bahasa-daerah-punah-150408x

Anda tahu berapa lama yang dibutuhkan untuk menguasai bahasa asing?

Jawabnya: Tidak ada yang instant. Cobalah anda tengok, anda belajar B. Inggris klo generasi saya sejak SMP sampai dengan lulus kuliah bahkan disertai kursus segala tetap saja B. Inggris orang Indonesia umunya belepotan.

Lalu kebanyakan dari anda menyalahkan metode balajar di sekolah yang buruk dalam pengajaran B. Inggris. Tuduhan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak akurat.

Mari lihat para Indonesianist orang asing yang konon katanya bisa berbahasa Indonesia. Contoh sajalah Romo Frank Magnis Suseno, filsuf Jerman yang berganti WNI. Hampir 30 tahun di Indonesia toh B. Indonesianya tidak lebih baik dari pada saya yang berbahasa Jerman :)

Jadi berapa lama anda butuh waktu belajar bahasa asing? Hasil obrolan santai saya dengan pengajar B. Jerman baik dari Berlitz atau pun Goethe Institut dapat saya ambil kesimpulan sbb:

1. Untuk bisa kuasai gramatik dan percakapan sehari-hari secara lancar anda butuh waktu kursus intensif sekitar 2-3 tahun

2. Untuk membuat B. Asing anda lancar berdiskusi secara serius dalam tema-tema khusus maka anda butuh hidup di negara tersebut paling tidak 10 tahun dan bekerja di level “white collar” atau memiliki komunitas intelektual baik dalam riset ataupun akademisi dan berkomunikasi dalam bahasa mereka.

Sepanjang waktu tersebut pun anda harus terus belajar menyempurnakan bahasa anda.

3. Untuk membuat anda begitu amat fasih sehingga mendekati bahasa ibu mereka maka anda perlu seumur hidup anda menyempurnakan bahasa asing anda.

Belajar bahasa itu seperti bernafas. Melatih kemampuan bahasa seperti melatih kemampuan otot dengan berolah raga. Begitu anda tidak berolah raga untuk vitalitas tubuh anda. Begitu anda tidak olah raga maka tubuh anda tidak fit. Begitu anda tidak selalu menyempurnakan bahasa anda maka bahasa asing anda pun akan hilang.

Jadi, jangan berpikir instans apalagi ada cerita yang bilang dalam waktu beberapa bulan saja orang bisa lancar berbahasa asing. Iya, mungkin dia bisa ngomong tapi di level mana? :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Filsafat Elang Samudera: ini yang membedakan antara Pemenang dan Pecundang!

16 Apr

4d3671a0161b50e5b6b4e65570719328779a7c8f.sea-eagle-in-the-clouds_FULL(Deutsch)
Wenn der Strum losbricht, handelt jeder Mensch entsprechend seiner Natur.
Manche verstummen vor Schrecken,
manche eilen davon,
manche vergerben sich,
und manche breiten einem Adler gleich die Flügel aus und lassen sich vom Wind emportragen.

(English)
When the storm breaks, each man acts in accordance with own nature:
Some are dumb with terror.
Some flee.
Some hide.
and some spread their wings like eagles and soar on the wind…

(Indonesia)
Saat gelombang badai menerjang, setiap orang akan bersikap sesuai dg jati dirinya:
Sebagian diam dalam teror kebodohan.
Sebagian lari.
Sebagian sembunyi
tetapi sebagian justru bak elang bentangkan kedua sayap & menari diantara gelombang badai…

(Sumber tulisan: tidak diketahui)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia Jerman (IASI) Prakarsai Profesor Jerman Jadi Dosen Tamu di Vokasi UGM

15 Apr

DISKUSI2-770x470

IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia Jerman) mendedikasikan diri untuk kemajuan Indonesia!

Kali ini Program Pengirim Dosen Tamu Para Professor Senior Jerman ke Sekolah Vokasi UGM. Semoga kerja sama Pengirim Professor Senior Jerman ini dapat dilanjutkan dengan pengembangan Vocational Center dan Engineering Center di SV UGM, serta merintis Praktikum mahasiswa atau alumni SV UGM di Industri Jerman ke depan kelak, sehingga SV UGM bisa menjadi salah satu sekolah vokasi terbaik di Asia.

Semoga juga Program-Program Vokasi di Indonesia baik itu Sekolah Vokasi Tinggi atau pun Politeknik terus semakin berkembang sehingga para lulusan Sekolah Vokasi Tinggi (D4/Sarjana Terapan) akan siap menjadi “Kapten-Kapten Industri” untuk menghadapi persaingan kapitalis global yang frontal dan brutal!

Dalam waktu dekat ini juga IASI sedang membantu merintis Kerja Sama Program Vokasi Tinggi Indonesia supaya sekualitas dengan Fachhochschule Jerman serta SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) sekualitas dengan Realschule Jerman.

Jerman menjadi maju dan hebat karena mereka mencetak lulusan-lulusan vokasi terbaik di dunia.


Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia Jerman (IASI) Prakarsai Profesor Jerman Jadi Dosen Tamu di Vokasi UGM

Link berita dari ISIGOOD:
http://www.isigood.com/pendidikan-beasiswa/ikatan-ahli-dan-sarjana-indonesia-jerman-iasi-prakarsai-pengiriman-profesor-jerman-jadi-dosen-tamu-di-vokasi-ugm/

Untuk mencetak lulusan yang siap bersaing dan memenangkan pasar global, maka diperlukan perluasan network global pula. Perluasan jejaring ini akan semakin membuka pintu akses di segala bidang, dan seluas-luasnya, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pengembangan kompetensi dan skill mahasiswa Indonesia. Oleh karena itu, kerjasama internasional dalam bidang pendidikan (termasuk pendidikan tinggi terapan/vokasional) merupakan target krusial yang harus dicapai, agar lulusan pendidikan vokasi menjadi solusi kongkret bagi permasalahan bangsa. Outcome-nya adalah, lulusan pendidikan tinggi Indonesia akan mampu berkarya nyata dalam bingkai kompetisi global.

Jerman merupakan salah satu negara maju di dunia, yang kemajuan bangsanya bertumpu pada SDM lulusan perguruan tinggi vokasi yang berkualitas tinggi. ‘Fachhochschule’ di Jerman (sering disebut ‘Politeknik’ atau ‘Sekolah Vokasi’ di Indonesia) merupakan institusi pendidikan tinggi vokasional penghasil SDM unggul dan bermutu tinggi di Jerman. Dengan telah terbuktinya Jerman menumpukan kemajuan bangsanya di pundak lulusan perguruan tinggi vokasionalnya, maka tidak salah bila Indonesia harus mampu menyerap konsep pengembangan pendidikan dan aplikasinya di Jerman.

Kolaborasi dan sinergitas nyata telah terjalin baik antara pihak Fachhochschule dengan Sekolah Vokasi UGM. Salah satu jalinan kerjasama yang sudah berhasil dikembangkan yaitu menghadirkan expert dari Jerman ke Sekolah Vokasi UGM untuk menjadi dosen tamu di SV-UGM. Serta bertindak pula sebagai konsultan yang memberi masukan dalam rangka pengembangan kurikulum dan suasana pembelajaran di Sekolah Vokasi UGM. Expert yang dihadirkan adalah seorang profesor yang tergabung dalam suatu lembaga, yaitu Senior Experten Service (SES) yang memiliki kantor pusat di Jerman. Lembaga inilah yang menerima proposal dari Sekolah Vokasi UGM (melalui prakarsa IASI), dan berkontribusi signifikan di dalam mencarikan dan menghadirkan profesor Jerman di Indonesia.

Kerjasama ini terbangun berkat prakarsa aktif dari pihak IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia Jerman). Seperti dilansir di laman www.iasi-germany.de, organisasi yang anggotanya terdiri dari mahasiswa, akademisi, serta kalangan professional ini memiliki misi untuk meningkatkan dan memajukan SDM bangsa Indonesia dengan berbagai program sentral yaitu: mengupayakan pratisipasi aktif dari para expert di Jerman sesuai dengan kebutuhan di Indonesia, serta membangun dan mengembangan hubungan strategis Indonesia dan Jerman, meliputi pula perluasan di bidang bisnis dan network sosial, serta berbagai bidang lainnya.

“Prakarsa awal dicetuskan oleh Bapak Ferizal Ramli, Presiden IASI, yang menawarkan kehadiran expert serta beberapa professor dari Jerman menjadi dosen tamu di Sekolah Vokasi UGM”, ujar Ir. Hotma Prawoto S, MT., IP-Md. ketika ditemui isigood.com (Rabu, 15/4/2015) di ruangannya. “Tawaran ini kemudian kami wujudkan menjadi kenyataan dengan bantuan pihak SES di Indonesia, yaitu Bapak Adam Pramana, hingga prosposal kami disetujui untuk mendatangkan dua orang professor dari Fachhochschule Jerman”, kata Hotma.

Beberapa waktu yang lalu, dosen tamu untuk Program Diploma Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM (Professor Bert Hofmann) telah berhasil melakukan tugasnya di Sekolah Vokasi UGM, sekitar kurang lebih hampir sebulan tinggal di Yogyakarta. “Pihak SES telah mendukung program ini dengan sangat signifikan, dan kerjasama ini sungguh menguntungkan bagi semua pihak, dan kami telah merasakan manfaatnya”, demikian dipaparkan oleh Wakil Direktur Sekolah Vokasi UGM, Dr. Wikan Sakarinto. Kemudian Wikan menambahkan, “Berikutnya kami sudah bersiap menyambut kedatangan seorang professor Jerman berikutnya yang akan menjadi dosen tamu di Program Diploma Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM.”

“Kehadiran Prof. Hofmann menjadi sangat penting karena Prodi Diploma Teknik Sipil SV-UGM sedang menyiapkan kurikulum pembelajaran yang berwawasan global dan future-oriented”, seperti dijelaskan oleh Dr. Agus Nugroho, Ketua Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM. Oleh karena itu, lajut Agus, Prof. Bert Hofmann, telah berdiskusi secara komprehensif tentang kurikulum dan konsep pembelajaran, bersama dengan tenaga pengajar di kampusnya. Dr. Iman Haryanto, selaku Wakil Ketua Departemen Teknik Sipil SV-UGM menambahkan bahwa untuk menghadapi isu terkini, sesuai masukan dari Prof. Hofmann, terdapat beberapa bidang yang mesti dieksplorasi lebih jauh yaitu permasalahan lingkungan dan spesialisasi lulusan yang mesti diperkuat. Selain itu, Prof. Hofmann juga memberikan pengayaan bahan ajar dan Kuliah Umum tentang Struktur Baja. Kuliah umum telah dilaksanakan pada 24 Maret 2015 lalu yang dihadiri 200 orang mahasiswa Teknik Sipil Sekolah Vokasi UGM.

Berbagai kesan yang sangat mendalam dialami oleh sivitas akademika Teknik Sipil SV-UGM terhadap Prof. Hofmann. Menurut Iman, “Meski posisinya adalah mantan presiden Fachhochschule dan dengan jabatan akademiknya sebagai professor, Prof. Hofmann selalu bersikap egaliter yang tidak memandang jabatan dan pangkat. Semua mendapatkan penghargaan yang sama”. Nilai-nilai inilah yang juga menjadi pembelajaran bagi sivitas akademika Sekolah Vokasi UGM.

Tentang sisi lain Prof. Hofmann, Iman menambahkan, “Meski agak kecil kemungkinannya dia kembali lagi ke sini, namun kami yakin dia akan kembali lagi karena dia masih penasaran dengan wajah Gunung Merapi. Sampai dua kali dia naik hingga Dusun Kinahrejo untuk melihat wajah Gunung Merapi, namun sayang, dua kali pula wajah sang gunung selalu tertutup oleh awan dan kabut tebal.”

IASI sebagai pemrakarsa program ini, serta pihak SES, akan terus meningkatkan komitmennya mewujudkan visi dan misinya. Dan Sekolah Vokasi UGM merespon, “Kami selalu siap untuk meningkatkan level kerjasama internasional ini, meningkat ke berbagai kegiatan lain, misalnya joint research, pengiriman mahasiswa ke Jerman, pertukaran mahasiswa internasional, pengembangan magang kerja ke Jerman, dan sebagainya”, demikian pungkas Hotma sembari mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada IASI dan SES.

KULIAH-UMUM1 KULIAH-UMUM3

Berhenti Mimpikan Jokowi Jatuh!

12 Apr

Joko3Ayo sekarang saatnya kerja secara serius untuk Indonesia. Yang di DALAM NEGERI:

1. Jika anda pengusaha maka beri lapangan kerja sebesar-besarnya buat yang membutuhkan.
2. Jika anda swasta maka buat perusahaan-perusahaan anda berkerja menjadi World-Class dan bisa intervensi pasar internasional
3. Jika anda PNS wujudkan program nyata pemerintah dan gunakan kekuasaan anda untuk majukan bangsa ini, jangan korup.
4. Jika anda aparat hukum, tegakan hukum dengan adil dan jangan korup.
5. Jika anda pendidik maka didik murid-murid anda dengan penuh dedikasi, dikarenakan mereka akan jadi pelari-pelari terdepan bangsa ini kelak
6. Jika anda dokter bantu pasien-pasien anda tanpa bedakan strata ekonominya
7. Jika anda Ustadz atau pemuka agama maka beri semangat optimis bagi umat anda…

Jika anda di LUAR NEGERI jadilah “brain-HUB” untuk bangsa Indonesia; bisa dalam bentuk bantu transfer knowledge, jembatani investasi asing atau bantu perusahaan Indonesia “go international”, termasuk juga melakukan diplomasi budaya, dll., dll…

Boleh-boleh saja bicara politik mengkritik atau sebaliknya membela Jokowi seperti hiruk pikuk saat ini. Hanya ndak usah terlalu serius tentang hal itu. Jadikan itu “bunga-bunga” kehidupan belaka. Jangan memimpikan untuk jatuhkan Jokowi. Jokowi itu tidak akan jatuh! Kedudukan Presiden Indonesia itu amat kuat secara UUD. Lha wong SBY yang sudah kalah di Parlemen dalam kasus dugaan korupsi Century saja tetap kokoh memerintah kok. SBY tetap tak tergoyahkan.

Apalagi politisi yang menjadi musuh-musuh Jokowi itu begitu banyak punya dosa masa lalu. Terbebas dari dosa masa lalunya saja mereka (musuh-musuh politik Jokowi) ndak akan bisa, bagaimana mungkin mencari-cari salahnya Jokowi untuk dimakzulkan? Menjatuhkan Jokowi itu suatu yang nyaris “hil nan mustahal!”

Tapi ndak apa-apa anda tetap mengkritisi, atau nyinyir atau iyik ke kebijakan Jokowi. Dikarenakan kekuasaan jika tidak diawasi, meskipun Jokowi baik maka dia tetap bisa terpeleset. Hanya sebaiknya gunakan argumentasi karena ini akan memperkaya sudut pandang masyarakat kita yang membacanya. Jadi, gunakan dialektika mengkritisi pemerintahan itu sebagai proses membagi sudut pandang secara argumentatif.

Ingat, saat ini kita sedang memiliki momentum pas untuk menjadi bangsa besar!
Bloomberg baru-baru ini mengatakan 15 tahun lagi kita masuk 20 besar Ekonomi dunia di urutan no 13.
McKenzie juga pernah mengatakan 30 tahun ke depan Ekonomi Indonesia no 7 kekuatan dunia.
Jadi, saatnya buat kita semua harus bersama membuktikan ramalan mereka menjadi kenyataan atau malah kita lampauinya.

India yang penduduk miskinnya massif dan jurang kaya miskinnya begitu besar serta ndak punya Sumber Daya Alam plus begitu banyak yang buta huruf saja, bisa begitu optimis menghadapi masa depan.

China yang dalam ketertutupan politik dari Partai Komunis yang tidak jelas apakah itu partai akan bisa eksis 10 tahun ke depan yang beresiko membuat negeri itu chaos, ternyata tetap saja mereka optimis membangun.

Brasil yang negerinya penuh dengan kekerasan mafia dimana-mana. Social trust yang begitu rendah antara orang kaya dengan miskin bisa saling bunuh-bunuhan begitu mudah, mafia obat bius dimana-mana, toh mereka tetap begitu optimis menyongsong masa depannya.

Mosok kita yang nayris mempunyai semuanya, modal SDA yang besar, penduduknya 99% melek huruf, serta momentum kemajuan berpihak pada kita, lalu kita sia-siakan semua ini?

Persoalan rivalitas Pemilu sudah selesai! Persoalan jatuh-menjatuhkan Presiden harus kita tolak karena justru akan sengsarakan kita. Jika ndak suka Jokowi maka tunggu sampai tahun 2019. Hanya, Jokowi tetap harus dikritisi biar tetap “on the track” dan gunakan argumentasi yang baik saat mengkritisi.

Selanjutnya terus berkarya…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Cerita Ringan Tentang Kecantikan Wanita Karir dan Latar Belakang Pendidikannya

12 Apr

Prawida tedy H_59363_unitbendanpekalongan_Gemulai Tari Klasik JogjakartaTulisan ini cuma tulisan ringan dan bukan hasil penelitian. Ini cuma obrolan santai belaka, di saat kami para pria beberapa bulan lalu saat menggosipkan tentang kecantikan teman-teman lama kami saat kuliah, yang sekarang semuanya di usia antara 41 tahun sd 45 tahun. Sepanjang perjalanan dari Berlin ke Hamburg diskusi tentang keberhasilan wanita mempertahankan kecantikannya…

Kalau anda tidak setuju dengan tulisan ini yah tidak apa-apa. Memang ini cuma obrolan ringan saja yang belum tentu benar kok :)

(Okya kecuali saya satu-satunya dari Ilmu Sosial) semua sahabat saya adalah para Insinyur lebih tepatnya “Doktor der Ingenieurwissenschaften” dengan latar belakang kuliahnya dulu di Indonesia di Fakultas Teknik seperti UI, Undip dan ITB alias dari Top Fakultas Teknik di Indonesia.

Pembicaraan diawali dengan protes sahabat saya dari ITB bilang begini: “Bang Ferry, katanya si Juwita (sebut aja namanya begitu) cantik. Saat ketemu ternyata biasa aja tuh?!”.

Aku jawab: “Iya aku juga bingung. Dulu saat kuliah, dia setahuku amat cantik dan primadona (tentu saja itu kejadian sudah 25 tahun lalu). Ndak tahu kenapa sekarang bisa begitu jatuh kecantikannya?”

Akibat aku salah “assessment” aku pun dicemoohkan karena dianggap seleraku payah :)

Untungnya temanku dari ITB juga ngakui bilang begini: “Iya di ITB dulu, saat kuliah banyak yang cukup cantik tapi setelah umur 40 tahun pada acur-ancuran!”, katanya sambil ngakak…

Untuk memperbaiki posisi maka terpaksa kutunjukkan profile temen2ku nan cantik-cantik yang kuliah di Ilmu Sosial yang sukses bekerja di MNC baik sebagai konsultan, banker maupun berbagai posisi high profile eksekutif lainnya.

Iya, semua mereka setuju para wanita-wanita dengan latar belakang ilmu sosial yang kerja sebagai eksekutif high profil tesebut tetap cantik meskipun di usia kepala 4, KECUALI salah seorang sahabat brilyant yang dulunya di FT UI ini menyangkal begini:

“No, no, no…, mereka memang tetap wanita cantik di usia 40 keatas tapi kalah dengan ini…”

Lalu dia tunjukkan profil beberapa wanita yang amat anggun dan ayu di usia hampir 41 – 43-an tahun.

Setelah kita amati maka kita semua mengangguk setuju bahwa mereka memang profil-profil yang amat cantik terawat dan terjaga di usia yang hampir setengah abad!

Akhirnya kita pun diskusi tentang keawetan kecantikan wanita diusia hampir setengah abad. Ada “temuan” menarik dalam diskusi ini:

1. Ternyata wanita-wanita cantik yang TETAP terawat cantik dan amat fit (tentu saja kita bicara saat mahasiswinya dulunya cantik yah), adalah latar belakangnya umumnya Dokter (FKU dan FKG). Mereka menjadi dokter yang sukses sebagai Ahli Jantung, Syaraf, Bedah atau Anastesi, dll misalkan.

2. Ternyata wanita-wanita dari latar belakang ilmu sosial khususnya Ekonomi, Hukum dan ilmu-ilmu sosial yang sukses lainnya dengan posisi high profile, mereka bekerja sebagai Konsultan Manajemen, Banker, Pengacara/Notaris, Akuntan, mereka tetap cantik terjaga, minimal tampil modis.

3. Ternyata temen-teman wanita yang saat mahasiswi cantik yang dari latar belakang Teknik, saat usianya diatas 40 tahun umunnya terlihat mengalami penurunan drastis kecantikannya.

Hasilnya kita buat kesimpulan “otak-atik gantuk mantuk” :D, yaitu:

Kedokteran: Wanita yang latar belakangnya dokter terutama dokter-dokter high profile seperti Jantung, Bedah, Syaraf, Anestesi jika dulu saat mahasiswi cantik maka mereka malah bisa membuat saat usia diatas 40 tahun lebih cantik lagi. Mungkin mereka secara finansial sangat kuat untuk merawat kecantikannya serta mereka punya mindset tentang pentingnya tubuh yang sehat dan fit. Itu sebabnya mereka tidak cuma modis tapi juga sehat dan fit!

Ilmu Sosial khususnya Ekonomi dan Hukum: Mereka yang punya posisi high profil maka akan tetap terlihat cantik atau minimal modis dan atraktif. Mungkin karena mereka harus bergaul dengan customer kalangan atas sehingga mindset-nya untuk selalu menjaga kecantikannya terekam di otaknya.

Teknik: Umumnya meskipun tidak semua yah, saat memasuki usia 40 tahun ke atas mereka yang dulunya saat mahasiswa terlihat cantik, ternyata kebanyakan kecantikannya saat ini turun drastis. Tampaknya para wanita dari latar belakang Teknik ini gagal sadar untuk merawat kecantikannya karena alasan ini:

Satu, wanita dari latar belakang FT mindest-nya adalah kualitas (otak) lebih penting dari tampilan sehingga mereka lupa untuk merawat kecantikannya.

Kedua, wanita dari latar belakang FT lingkungan kerjanya seringkali tidak menuntut dia untuk tampil cantik prima selalu.

Ketiga: tampaknya wanita dari latar belakang FT mereka pun tidak tahu cara merawat kecantikannya. Mereka ndak sadar bahwa kecantikan itu cuma sebatas kulit ari yang tipis. Jika tidak dijaga apalagi diusia 40 tahun ke atas maka dengan cepat kecantikan itu pudar dan tidak akan pernah kembali untuk selamanya.

Itulah omong-omong ringan kami para lelaki sepanjang perjalanan Berlin ke Hamburg. Anda boleh tidak setuju tentu saja :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Catatan:
(Gambar diatas diambil dari Internet dengan link Prawida Tedy)

Kritisi Pemerintah dengan Argumentatif, bukan NYINYIR atau IYIK! :)

11 Apr

debat1Saat saya berada di hidup dalam genarasi aktivis tahun 80 dan 90-an maka Para Pejabat yang dikritisi itu umumnya “takut” berdebat. Alibi mengelaknyanya saat kita kritisi: Jangan cuma kritik doang tapi juga kasih solusi.

Dikarenakan kritik yang diberikan penuh argumentatif dan tahu mana yang subtansi dan mana yang cuma masalah sepele, maka umumnya pejabat cara ngelaknya kasih kami solusi.

Saat ini kritik ke pemerintah bertaburan terutama di medsos. Sayangnya, jangan kan memberi solusi; untuk membedakan subtansi masalah saja sering kali ndak bisa. Banyak hal sepele di-“goreng” dengan sentimen kebencian tanpa argumentatif.

Terkadang malah kemampuan kritiknya cuma mem-posting berita atau analisa yang tidak bertanggung jawab. Terkadang dia sendiri tidak paham isinya, yang penting bisa teriak marah-marah. Istilah gaulnya cuma bisanya: menjonru!

Terjadi degredasi kualitas kritik dari yang argumentatif, saat ini berubah menjadi tukang nyinyir yang iyik bawel belaka. Subtansi masalah sering kali ndak pahami, data ndak punya, cuma karena sentimen belaka lalu ikut2an ngamuk mengkritik.

Bagi saya, pemerintah itu harus dikritisi jika salah. Hanya kritik lah secara proporsional:

1. Jika salahnya bukan subtantif dan saat pemerintah mau dengarkan kritik tersebut dan telah mengkoreksinya maka segera move on, masih banyak kerja besar yang harus dilakukan. Jangan terus-menerus digoreng itu isu!

Contoh kasus salah tanda tangan keppres tentang tunjangan mobil DPR. Sudah dikoreksi oleh Presiden, itu artinya presiden peka jika salah sehingga dia koreksi. Ndak perlu digoreng lagi dengan hal macam2. Percayalah SBY juga pernah kok mengkoreksi keppresnya yang salah!

Jaman Soeharto juga UU yang Lalu Lintas yang diajukan Pemerintah dan disetujui DPR ternyata dianggap masyarakat menyakiti keadilan, juga dikoreksi kok oleh Soeharto.

Selama sudah dikoreksi ndak usah digoreng terus itu isu :)

2. Kritik lah memakai data dan argumentasi. Jangan asal mengkritik dengan menggunakan sentimen belaka atau pengalaman sepotong2 yang bias persepsi.

Contoh: Tuduhan mata uang Rupiah jatuh dibawah Jokowi. Lha yang jelas mata uang rupiah itu relatif stabil terhadap USD dibandingkan mata uang negara lain yang terjun bebas terhadap USD. Nah, pahami datanya dulu sebelum mengkritik sehingga bukan asalh protes tapi ndak tahu fakta.

Contoh lain: bilang harga-harga mencekik leher. Lalu dicontohkan BBM dan Gas Naik, Tiket KA naik! Nyatanya data statistik resmi dari Bank Indonesia, tingkat inflasi masa Jokowi sama dengan tingkat inflasi masa SBY kok!

Klo BBM naik itu kan yang kena banyak masyarakat kelas menengah; lalu dari atas kendaraannya sambil pakai smart phone protes BBM naik. Lha nyatanya angka inflasi indeks harga konsumen kita itu relatif normal kok!

Jadi, saat protes harga mahal jangan pakai sentimen marah karena di pom bensi harga BBM naik. Tapi pahami datanya di lapangan secara konprehensif yang ternyata inflasinya normal dan harga sembako relatif stabil.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Indeks Harga Saham dalam Puncaknya, tidak untuk dibangga2kan!

11 Apr

128555_BnMainFeaHotnewsIndikator indeks harga saham naik dan benar2 mencetak sejarah perekonomian Indonesia memang sebuah prestasi dari Jokowi. Ini menunjukkan bukti investor mempercayai pemerintah ini sehingga bisa menembus angka sejarah. Ini pujian dari investor atas kinerja ekonomi Jokowi!

Rupiah yang tetap amat kuat terhadap USD (dengan kejatuhan relatif amat kecil) dibandingkan mata uang negara lain (seperti Euro, Krone Mata Uang negara kaya Swedia, mata uang Emerging Countries G-20 India, Brazil dan Meksiko, dll) yang terjun bebas terhadap USD, ini sesungguhnya menunjukan ekonomi Indonesia itu on the track. Bisa dibayangkan jika mata uang rupiah terjun bebas seperti negara lain? Babak belur kita!

Tapi ini semua bukan indikator yang paling signifikan untuk dibangga-banggakan! Masih banyak kerja panjang yang harus konsisten diwujudkan untuk memenuhi janji2 Jokowi mensejahterakan rakyat.

Jangan bangga dengan indikator ini karena yang dibutuhkan rakyat sesungguhnya:
1. Fokuskan dengan perbaikan fasilitas Kartu Sehat dan Kartu Pinter karena rakyat butuh pendidikan dan kesehatan murah terjangkau!

2. Fokus terus dengan pembangunan infrastruktur yang sejak reformasi tidak ada pemerintahan yang peduli membangunannya!

3. Keberhasilan kendalikan harga sembako sampai hari ini harus terus dipertahankan. BBM, gas dan tarif Kereta Api boleh naik tapi sembako harganya harus dikendalikan karena ini faktor paling besar penyebab kesulitan masyarakat bawah.

Klo masyarakat menengah itu “tidak usah” terlalu dipedulikan. Mereka mampu bayar BBM, gas dan seperti itu. Cuma memang mereka bawel, dengan smart phone  diatas mobil pribadinya yang nyaman, teriak2 ngomong bawel bahwa dia tidak mampu beli sembako. Mereka ndak tahu klo inflasi masa Jokowi itu serendah inflasi masa SBY. Cuma yah itu tadi bawel karena harga bensin untuk mobil pribadinya makin mahal :D

Jadi, Jokowi fokus dengan 3 hal diatas: fasilitas kesehatan dan pendidikan, bangun infrastruktur dan kendalikan harga! Jika anda berhasil itu maka itulah sejatinya kesuksesan mewujudkan janji-janji anda!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 8.666 pengikut lainnya.