“Leidenschaft” – Makna Penting dari Pembelajaran Puasa

24 Jun

1262322
Gambar: Ma Eroh

Sebenarnya saya amat bingung untuk menterjermahkan kata “Leidenschaft” di atas ke dalam B. Indonesia. Catatan: ucapkan “Leidenschaft” dalam dalam pengucapan Indonesia: La-i-den-syaf-t. Sementara dalam B. Inggrisnya dengan mudah kita temukan padanannnya adalah “Passion”. Sayangnya saya kesulitan menemukan padanannya dalam B. Indonesia secara akurat.

Di kamus Google Online itu artinya gairah. Di kamus Inggris-Indonesia John M. Echols; “Passion” artinya nafsu, keinginan besar, kegemaran, juga berarti gairah. Di kamus Jerman-Indonesia Adolf Heuken; “Leidenschaft” artinya juga nafsu, keinginan besar, kegemaran dan gairah.

Saya terus terang merasakan bahwa terjemahan pada kamus tersebut tidak pas. Dalam B. Inggris B. Jerman maka „Passion” dan „Leidenschaft“ itu terjemahannya amat pas. Tapi ketika diterjemahkan ke dalam B. Indonesia; apakah itu diartikan „nafsu“, „keinginan besar“ atau „kegemaran“ tampaknya tidak pas.

Diterjemahkan „gairah“ pun tidak pas. Dalam konteks tulisan saya ini andaikan harus digunakan kata „gairah“ sebagai terjemahannya maka harus dimaknai disana ada „kecintaan sepenuh hati dan kekuatan ketabahan“ dalam kata gairah itu.

Dikarenakan saya sulit menggunakan padanan kata Indonesianya maka ijinkan saya tetap menggunakan kata dalam B. Jermannya „Leidenschaft!“ atau jika dipaksa dalam B. Indonesia maka saya gunakan frasa: „Cinta dalam Ketabahan“ atau „Ketabahan dalam Cinta?“

Sekarang timbul pertanyaan yang menarik kenapa perlu membahas „Leidenschaft“ saat ini? Buat saya ini amat relevan karena dalam perenungan saya pribadi sesungguhnya Puasa itu adalah proses belajar kita untuk mempertebal „Leidenschaft“ di hati kita. „Leidenschaft“ itu adalah kekuatan yang tampaknya amat langka yang dimiliki oleh sedikit diantara kita semua.

Ingat Ma Eroh (tolong jangan ketukar dengan Bu Dukun Mak Erot) pemenang Kalpatruh yang membelah Gunung di Tasikmalaya. Dengan cangkul kecilnya nenek tua itu penuh tekad baja membelah gunung, membuat saluran air sepanjang 5 km untuk mengatasi kekeringan di daerahnya.

Ingat Bu Hajjah Rabiah yang dikenal sebagai suster apung menghabiskan separuh hidupnya bertaruh nyawa menyeberangi lautan si sekitar Kepulaun Sulawesi dan Flores untuk mengobati dan menyambangi pasien-pasiennya tanpa kenal takut gelombang samudera dan tanpa kenal lelah.

Baru ini juga di dunia Sosmed kita tahu M. Saleh Sopir Bus Malam yang bertampang Preman dan berhati Kyai pun menginspirasi kita dengan keping-keping keringatnya dari penghasilan sopir bus malam yang tidak seberapa, dia membangun sekolah buat orang tidak punya tanpa biaya.

Baru-baru ini juga Wahyudi anak muda pemulung pun berhasil dengan susah payah menyelesaikan sekolahnya dan saat ini kuliah MBA di ITB.

Novel masyhur „Laskar Pelangi“ pun sebenarnya cerita tentang apa itu arti kekuatan Cinta dalam Ketabahan. Bicara tentang perjuangan guru-guru desa yang menunjukkan dedikasi tanpa lelah tanpa pamrih kecuali hanya ingin mewujudkan idialismenya dengan cinta yang penuh ketabahan.

Masyarakat kita sesungguhnya masyarakat yang punya contoh-contoh nyata kekuatan dari „Leidenschaft“ itu. Kekuatan yang mampu bahkan untuk membelah bukit hanya dengan tekadnya. Kekuatan yang mampu menari diatas gelombang laut hanya dengan perahu sampannya. Kekuatan yang dalam penuh tekanan amat berat tetap tabah dalam cinta mewujudkan visinya.

Sayangnya sehari-hari kita terlalu didikte dengan cerita-cerita sinetron opera sabun dimana orang terhormat itu adalah orang yang kaya dan untuk kaya tidak perlu bekerja. Cerita-cerita mereka yang korup dan culas bisa hidup mewah berkuasa. Akhirnya “Leidenschaft” menjadi suatu karakter yang langka di masyarakat kita serta di pemimpin kita.

Kita berpuasa dalam menahan lapar, haus, emosi dan berpasrah pada kekuatan Tuhan sesungguhnya kita sedang melatih kekuatan „cinta kita akan nilai-nilai Ilahyah dalam ketabahan“. Seharusnya setelah kita berbuka puasa harus tumbuh kekuatan ketabahan dalam cinta yang membuat kita berani berkarya tanpa pamrih kecuali demi idialisme. Demi nilai-nilai Tuhan.

Seharusnya setiap kita habis berbuka puasa „Leidenschaft“ kita menebal. Kita mempunyai tekad yang kuat untuk mewujudkan dedikasi kita seperti Ma Eroh yang kuat membelah Bukit dengan cangkul kecilnya, seperti Hajjah Rabiah yang menerjang gelombang laut.

Kita pun bisa berkarya buat banyak orang tanpa kenal lelah dan pamrih kecuali kecintaan kita untuk berbuat yang terbaik. Bukan kah hidup yang bisa memberi makna buat orang banyak sesungguhnya sebuah kekayaan hati yang tidak bisa ternilai harganya?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tuntutlah Ilmu ke Yogyakarta

24 Jun

Tugu-Jogja+1
Yogyakarta itu bukan cuma UGM!
Buat anda yang baru lulus SMA atau yang nanti akan lulus SMA, pilihan kuliah di Yogyakarta itu amat menarik bagi anda. Tentu saja UGM adalah mahkota tradisi akademik di Yogyakarta. Itu adalah gelombang magnet pemikiran bagi Indonesia. Jika anda bisa berkuliah di UGM, maka selamat buat anda. Berarti anda akan bernafas dalam tradisi akademik terbaik di Indonesia.

Hanya untuk diingat, Yogyakarta itu tidak hanya UGM tempat untuk menuntut ilmu. Terdapat beberapa PTN yang kualitasnya amat baik serta banyak pula PTS yang kualitasnya tidak kalah baiknya. Menariknya buat jurusan eksakta, PTN di Yogyakarta menawarkan banyak jurusan yang baik yang mencetak para insinyur atau para teknisi handal! (Mohon maaf saya lebih suka membahas jurusan eksakta karena di bidang ini Indonesia amat lemah)

Berikut ini PTN/PTK (Kedinasan) yang bisa anda masuki jika anda memenuhi persyaratannya:
1. UPN „Veteran“ Yogyakarta (UPNVY)
2. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
3. UIN Sunan Kalijaga (UIN Suka)
4. Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Batan
5. Sekolah Tinggi Multi Media (STMM)
6. Sekolah Badan Pertanahan Nasional (STPN)
7. Akademi Teknologi Kulit (ATK)
8. Politeknik Kesehatan Yogyakarta (Poltekes)
9. Akademi TNI Angkatan Udara (AAU)
Untuk dicatat juga di Yogyakarta ada sekolah khusus bidang seni yaitu Institut Seni Indonesia (ISI).
Itu semua adalah peluang besar buat anda calon mahasiswa baru untuk menuntut ilmu di institusi-institusi tersebut di Yogyakarta.

Ke 9 PTN/PTK diatas, —kecuali AAU yang punya kekhususan tersendiri untuk mendaftarnya—, menawarkan kesempatan luas untuk masa depan anda. Dalam bidang eksakta begitu banyak variasi program yang ditawarkan sehingga anda tidak akan kehilangan kesempatan dalam mewujudkan impian untuk menjadi para teknolog atau teknisi profesional.

Selain itu, PTS di Yogyakarta tidak kalah majunya. Tercatat UII (Universitas Islam Indonesia) dan UMY (Universitas Muhammadyah Yogyakarta) mendapatkan akreditasi A dari BAN. Ini jelas sebuah pengakuan pemerintah atas kualitas kedua universitas tersebut. Selain itu terdapat pula PTS kredibel lainnya seperti: Universitas Atma Jaya (UAJY), Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan berbagai catatan prestasinya.

PTS lainnya di bidang eksakta yang juga menarik untuk dipilih diantaranya seperti: Instiper, IST Akprind, STTNas, STMIK Amikom, STIMIK Akakom, STTA Adisutjipto, Politeknik LPP, dll. Masih banyak PTS yang menawarkan jurusan bidang ilmu eksakta yang tidak bisa disebut satu per satu.

Hanya ada titik menarik jika anda belajar ilmu sains dan teknologi di kota Yogyakarta. Selain anda dicetak menjadi teknolog yang handal maka anda pun akan bernafas dalam tradisi humanis masyarakat Yogya yang kaya akan seni dan budaya. Ini akan membuat anda menjadi teknolog secara professional dan humanis saat anda berinteraksi dengan masyarakat. Dikarenakan kunci sukses itu tidak cuma pandai tapi juga kaya dalam cita rasa budaya dan memiliki empatik sosial.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Sekolah B. Arab Zahra dan Naura Menyambut Ramadhan di Universität Hamburg

20 Jun

11402608_10206775291131699_1608250975425931405_o“Marhaban Ya Ramadhan”

Sekolah B. Arab Zahra dan Naura Menyambut Ramadhan di Universität Hamburg

Ini adalah untuk pertama kalinya kedua putri kecilku Zahra (9 tahun) dan Naura (6 tahun) Pentas Bernyanyi Koor Bersama lagu-lagu Berbahasa Arab dengan temen-temen Arabnya. Ini monumental karena mereka pentas dalam suasana budaya dan tradisi Arab. Jika dalam suasana tradisi Jerman, atau Internasional (Inggris) atau Indonesia maka itu biasa, tetapi pentas dalam suasana tradisi Arab maka ini untuk pertama kalinya. Setelah berhari-hari berlatih lagu Arab akhirnya mereka pun pentas bersama di Auditorium Universitas Hamburg dihadiri para pemirsa.

Nampaknya ini sebuah pengkayaan hati buat mereka bernyanyi lagu-lagu Arab. Sebelumnya mereka selalu menggemari lagu-lagu Jerman seperti “Atemlos durch die nacht” dari Helena Fischer yang dinyanyikan saat rayakan Jerman juara Piala Dunia, atau lagu-lagu Inggris dan terakhir lagu-lagu Spanyol dari Group Remaja Violetta. Lalu beberapa minggu terakhir ini untuk rayakan menyambut bulan suci Ramadhan mereka pun menyanyikan lagu-lagu Arab.

Zahra dan Naura sudah 1 bulan terkahir ini memulai Sekolah B. Arab. Sekolah ini akan berlangsung selama 5 tahun. Semoga mereka bisa menyelesaikan pendidikan B. Arab tersebut sampai lulus dan bisa bicara B. Arab sefasih dia bisa bicara B. Indonesia, Inggris dan Jerman. Jadilah kelak jika mereka dewasa maka mereka akan bisa membaca karya-karya ilmuwan maupun sastrawan Arab.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Eropa berbondong-bondong masuk Islam?

17 Jun

Gambar suasana sehabis Sholat Jumat di Mesjid Hamburg
10433949_10204420361609927_3042531546014211724_n

Saya Islam, tentu saja jika ada mualaf akan saya sambut sebagai saudara sesama muslim. Sebaliknya jika ada orang Islam memilih meninggalkan Islam apakah karena dia menjadi Atheis, Agnostik atau pindah Agama yah tetap saya hormati. Lha agama itu masalah kepercayaan pribadi yang hakiki kok.

Hanya saya sedikit terganggu dengan jargon-jargon klaim bahwa orang Eropa berbondong pada masuk Islam. Klaim jargon itu sering dinyatakan dengan penuh kebanggaan seakan mereka para mualaf yang menemukan jalan Islam. Lalu para umat Islam tanah ait membaca berita itu merasa bangga. Ini jargon rendah diri yang sesat realitas!

Mbak, Mas, Kang, Jeng…benar di Eropa itu berbondong-bondong orang masuk Islam tapi mereka bukan mualaf. Mereka itu imigran dari negara muslim yang terbelakang dan miskin lalu mempertaruhkan jiwa raganya demi mendapatkan kehidupan layak di dunia maka berusaha masuk ke Eropa. Banyak diantara mereka tewas tenggelam saat kapal boat reyoknya gagal mencapai Eropa. Ini mirip dengan manusia perahu asal Afghanistan atau Rohingya yang mau ke Australia.

Oleh Eropa dengan alasan kemanusiaan, mereka ini akhrinya diterima tinggal di Eropa. Jadilah mereka warga Eropa. Lalu mereka mendapat hak yang sama dengan warga Eropa: bersekolah dengan baik, dapat lapangan kerja, hidup secara layak dan terhormat. Mereka inilah yang membuat jumlah umat Islam di Eropa semakin banyak. Mereka berbondong-bondong masuk Eropa sehingga karena mereka jadi warga Eropa maka fakta ini yang diklaim orang Eropa berbondong-bondong masuk Islam.

Selanjutnya dikarenakan kebiasaan mereka (orang Islam) itu memilik anak relatif banyak, sementara orang Eropa malah amat minim punya anak jadi lah dari generasi ke generasi umat Islam di Eropa semakin banyak. Kelahiran bayi muslim yang berbodong-bondong inilah yang membuat terlihat orang Eropa berbondong-bondong masuk Islam.

Pertanyaannya seberapa banyak orang Eropa Asli masuk Islam jadi mualaf? Saya tidak pernah riset tapi pengamatan amat sedikit orang Eropa Bule jadi mualaf. Ini bisa saya buktikan kalau saya sholat di mesjid saat hari Jumat baik itu Mesjid di Saarbrücken, di Berlin, di München, di Düsseldorf, di Frankfurt, di Hamburg yang nyaris amat sedikit saya lihat ada bule yang beragama Islam. Jika pun ada biasanya dilatarbelakangi oleh pernikahan dengan suami/istri yang muslim.

Memang agama tradsional Eropa yaitu kristiani penganutnya berkurang drastis. Jika saya ke Gereja maka begitu banyak gereja sepi. Sebaliknya, jika saya ke mesjid maka mesjid-mesjid ramai umat pada sholat. Hanya Gereja sepi itu karena orang Eropa itu menjadi atheis atau agnostik bukan karena mereka pindah menjadi mualaf. Sementara mesjid ramai karena imigran dari negara muslim semakin banyak.

Yang menarik kenapa kok tidak banyak orang Eropa memeluk Islam saat mereka meninggalkan Kristen? Jawabnya, jika saya diskusi dengan mereka berkali karena mereka pada umumnya menganggap agama itu takhyul. Dikarenakan mereka menganggap agama itu takhyul,ini lah yang menjadi penjelasan kenapa saat mereka meninggalkan agama Kristen, terpai mereka tidak pindah menjadi Islam. Tidak mungkin dalam logika mereka masak pindah dari satu takhyul ke takhyul berikutnya? Ini yang saya tangkap dari logika mereka.

Anda boleh tidak setuju dengan cara pandang mereka, sekali lagi dalam urusan agama silahkan meyakini kebenaran agamanya masing2. Saya cuma ingin menyampaikan realitas yang saya lihat seobyektif mungkin.

Tapi apakah tidak ada orang Eropa yang menjadi mualaf? Tentu saja ada meskipun tidak banyak. Bukankah agama atau kepercayaan itu hal yang paling hakiki pada setiap nurani orang sehingga kita tidak bisa generalisasi semua. Setiap individu akan berbeda bersikap. Hanya pengamatan saya saat ibadah di mesjid2 terutama saat Jumatan akan tahu bahwa amat sedikit orang bule beragama Islam karena pindah agama berdasarkan pencarian pribadi, biasanya karena pernikahan.

Jadi, statemen bahwa orang Eropa berbondong-bondong masuk Islam sebaiknya dimaknai para imigran negara Islam berbondong-bondong masuk Eropa…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Sekilas Membedah Anatomi Sistem Kuliah di Jerman

17 Jun

uni-2009_10130062r
Gambar: Universität des Saarlandes, Saarbrücken (UdS)

Filosofi Belajar
Filosofis Universitas di Jerman itu bukan “Center of Excellent” tetapi “Linkage Industry”. Artinya, kuliah di Jerman itu tidak boleh semata-mata belajar dari Universitas saja tapi juga anda harus meneliti di lembaga riset dan/atau bekerja di industri. Jadi, jika kuliah di Jerman cuma di universitas saja maka ilmu yang didapat paling banyak cuma 40%! Ini berarti jika selama studi di Jerman, anda cuma belajar dari universitas saja maka ilmu anda jauh dari optimal. Ini perbedaan mendasar antara studi di Jerman dengan studi di universitas Anglo-Saxon atau Indonesia yang mencontoh Anglo-Saxon.

Pentingnya B. Jerman
Dengan filosofis “Linkage Industry” maka kuliah di Jerman itu mengharuskan juga studi riset di pusat riset dan/atau praktikum di Industri. Jadi ilmu dari kampus itu hanya salah satu sumber ilmu untuk belajar. Sisanya anda harus terlibat dalam riset dan/atau praktek kerja di industri. Masalahnya jika anda ndak bisa bahasa Jerman kadang agak kesulitan khususnya klo terlibat dalam proyek2 penelitian industri dan harus kerja full time di perusahaan yg umumnya mereka berbahasa Jerman. Akibatnya, anda tidak bisa terlibat untuk hal ini. Yang terjadi ilmu anda hanya terbatas dari kampus saja.

Beda Universität dan Fachhochschule (FH)
Lalu anda juga harus bisa bedakan Universität di Jerman itu jumlahnya sedikit hanya sekitar 35% dari total Perguruan Tinggi di Jerman atau sekitar 130 Universität dari sekitar 400 Perguruan Tinggi. Universität di Jerman ini fokusnya di riset. Itu sebabnya Jerman dikenal dengan Tradisi Riset yang kuat dan mendalam untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Biasanya Universität bekerja sama dengan lembaga riset seperti Max Planc Institute atau Fraunhofer serta Industri untuk melakukan proyek bersama dalam penelitian. Jika anda ingin jadi peneliti atau ilmuwan maka harus kuliah di Universität karena disini dibuka Program Bachelor, Master dan Doktor.

Yang banyak itu FH atau “University of Applied Sciences” (kalau di Indonesia semacam Politeknik atau Sekolah Vokasi Tinggi) dimana kuliahnya amat berorientasi ke industri. Jadi, secara filosofis beda sekali antara Universität dan FH. Dari 400 Perguruan Tinggi di Jerman maka terdapat sekitar 270 FH alias sekolah vokasi. Ini berbanding terbalik dengan di Indonesia dimana jalur vokasi lebih sedikit dari pada jalur akademik. Klo kuliah di FH itu kelasnya kecil, terstruktur dan praktek oriented. Tidak ada jurnal-jurnal ilmiah yang dibahas! Anda memang selalu presentasi tetapi yang dipresentasikan studi kasus yang anda teliti. Kuliah di FH cuma tersedia untuk jenjang Bachelor dan Master.

Aktivitas Kuliah di Kampus
Kalau kuliah di kampus Jerman maka kuliahnya klasikal mendengar professor bicara dan materinya bukan Jurnal Internasional. Di Jerman hampir semua dosen mesti Professor-Doktor. Professor Jerman jarang sekali pakai materi kuliah internasional dari penerbit luar Jerman. Yang Professor paparkan dalam kuliah adalah pemikiranya sendiri dalam bentuk diktat kuliah atau buku yg dia publish dari pemikirannya sendiri. Anda tentu saja dibolehkan baca buku apapun cuma materi kuliah adalah pemikiran si Professor.

Selama saya kuliah “business administrasi” maupun “business computing” di Jerman baik di FH Furtwangen atau Universität Hamburg, saya tidak pernah dikenalkan oleh pemikiran Managemen misalkan model Michael Poter, David Aaker, Edwin B Flippo, Philip Kotler dan yang seperti itu yg saya yakin di Amrik, Inggris, Australia atau negara2 Asia yg berorientasi Internasional pasti mahasiswa jurusan manajemennya akan kenal nama2 itu :)

Professor Jerman kasih kuliah berdasarkan diktat atau buku yang dia buat sendiri dan dipublish sendiri.

Kerja Praktek
Saya sering baca catatan kuliah MBA dari Top 50 MBA terbaik di dunia dimana sering cerita tentang adanya program magang di perusahaan. Itu seakan “value added” yg luar biasa buat mereka para top B-School. Nah, klo di Jerman, jika anda mampu berbahasa Jerman dengan baik maka bisa dipastikan paling tidak 1 semester dari 4 Semester program master anda di Perusahaan riil bekerja dalam proyek mereka. Anda 1 semester minimal kerja fulltime di perusahaan dan digaji cukup besar bisa antara 600-1.000 euro per bulan gaji anda selama praktikum. Jadi, nyaris sebagian besar mereka yang kuliah di Jerman pasti dia pernah magang di industri.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Dahlan Iskan Tersangka Korupsi!

5 Jun

Dahlan

http://nasional.kompas.com/read/2015/06/05/16365951/Dahlan.Iskan.Ditetapkan.Tersangka.oleh.Kejati.DKI?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

Saat saya nulis analisa saya tentang kekhawatiran saya bahwa DI ini adalah seorang Sengkuni (Sengkuni: Personafikasi Tokoh Jahat Wayang dengan Gaya Santun), maka saya di-bully habis2-an oleh “Pasukan Nasi Bungkus”-nya DI di berbagai Medsos. Ini artikel saya 3 tahun lalu terhadap DI.

1. https://ferizalramli.wordpress.com/2012/02/20/katakan-tidak-terhadap-kebijakan-privatisasi-dahlan-iskan/

2. https://ferizalramli.wordpress.com/2012/02/06/dahlan-iskan-mentri-bumn-sang-sengkuni-kah/

Pencitraannya yang selalu “too good to be true” membuat saya waspada dengan kebijakannya. Meskipun resiko di-bully oleh para pendukungnya maka kritik terhadap kesalahan DI harus dilakukan.

Inilah Bully yang saya terima dari “Pasukan Nasi Bungkus Online”-nya DI :) : http://forum.detik.com/dahlan-iskan-benarkah-dia-sengkuni-santun-tapi-jahat-t389640.html

Kelak, di hari ini, ternyata sejarah mencatat tampaknya DI malah jauh lebih buruk dari yang saya kritik!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe
(Katakan Kebenaran yang diyakini itu meskipun beresiko pahit :) )

Cafe, tradisi intelektual Eropa, ajang kekerasan Indonesia

3 Jun

stadt_cafe_landtmann_660x400

Cafe itu adalah budaya Eropa yang diimport di negara kita. Di Eropa Cafe itu dulunya tempat para intelektual dan sastrawan (Dichter und Denker) Eropa duduk tenang. Menikmati kopi kesukaannya, berpakaian jas necis yang amat rapih dan elegant, lalu mulai mencoretkan imajinasi dan pikirannya sambil perlahan menyeruput lezatnya secangkir kopi hangat. Jadilah karya-karya tulis besar yang akhirnya dibaca oleh masyarakatnya terlahir disini.

Cafe di Eropa itu dibangun dengan tradisi semangat berkontemplasi, berpikir dan menulis!

Saat ini Cafe di Eropa memang memang tidak se-intelek dulu. Hanya tetap jauh dari kesan mesum, dugem apalagi mabuk-mabukan. Cafe tetap lah tempat yang nyaman untuk kita saling duduk dan bicara secara terdidik.

Memang sejak muncul Cafe Franchise seperti Starbucks dan merek seperti itu di Eropa, agaknya Cafe menjadi terkesan instant dan ngepop. Disini jadi tempat ngongko-ngongko anak muda. Hanya tetap tidak ada minuman keras dijual.

Para anak muda biasanya menjadikan Cafe ini sebagai titik berkumpul bersama, lalu rapat bersama. Sering juga dari sini karena internetnya gratis dijadikan ajang business meeting untuk para pengusaha muda. Dari Cafe ini mereka kontak ke customer atau client untuk mulai akusisi kerja sama.

Pada Cafe Eropa asli kesan formalnya tetap dipertahankan ada dan jauh dari dugem. Masih banyak Cafe-Cafe di Eropa yang berusaha tetap menghidupkan spirit aristokrat ningratnya (Lihat Gambar Terlampir, suasana Cafe di Eropa).

Jadi, meskipun ada kemunduran tradisi intelektual, tetap saja Cafe di Eropa saat ini secara umum bukan ajang untuk dugem, mesum apalagi mabuk-mabukan.

Ini ternyata berbeda dengan Cafe di Indonesia. Sering kali di Cafe malah menjadi ajang premanisasi, bahkan kekerasan yang menyebabkan korban. Ironisnya justru aparat keamanan yang malah terlibat dalam berbagai kekerasan di Cafe yang biasanya karena mabuk dan tidak jarang berakhir dengan kematian.

Peristiwa kematian anggota TNI AU baru kemarin yang dikeroyok Kopassus menambah daftar panjang tentang catatan hitam Cafe di Indonesia sebagai tempat berkumpul.

Ada baiknya di Indonesia didefinisikan secara jelas antara Cafe, Pub dan Bar. Jadikan lah Cafe adalah tempat kumpul anak muda yang terbebas dengan minuman keras dan suasana dugem. Jadikan lah cafe-cafe di Indonesia juga menjalankan fungsi sebagai fasilitas publik untuk meeting point dan melakukan aktivitas bisnis maupun sosial.

Jika ingin mabuk dan minum-minuman keras serta dugem maka itu bukan di Cafe tempatnya tetapi di Bar atau Pub atau Nite Club. Hanya buat kita yang aturan apapun mudah dilabrak maka apalah arti perbedaan nama antara Cafe, Pub, Bar dan Nite Club?

Toh selama mendatangkan uang, masalah sosial yang terkait disana bukan urusannya lagi. Apalagi jika harus menjalankan misi sosial sebagai meeting point untuk membangun kemajuan masyarakat, siapa yang peduli?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 8.691 pengikut lainnya.