Magister Management UGM: “LBS”-nya Indonesia



Magister Management UGM: “LBS”-nya Indonesia

Aku tuh amat kagum dengan MM UGM. Mungkin kalau di Eropa padanannya mirip dengan Tradisi London Business School (LBS), University of London. Tradisi Akademiknya hebat, Para pengajarnya Dosen-Dosen dengan Reputasi Tinggi, Network Internasionalnya hebat, Linkage Industri Kuat.

Ghalibnya seperti LBS yang amat kuat di Tradisi Akademik, MM UGM juga amat kuat di Konsep dan Teori. Dikarenakan reputasi akademiknya yang amat cemelang maka MM UGM (termasuk FEB) satu-satu Business School di Indonesia yang mendapatkan Akreditasi Internasional yang paling Prestisius yaitu AACSB.

Hanya MM UGM lah satu2nya di Indonesia yang punya akreditasi seprestisius itu. Selain itu hanya sedikit MM di Indonesia yang double degree dengan MM World Class University seperti Erasmus School of Economics, Erasmus University Rotterdam, Melbourne Business School, University of Melbourne atau Graduate School of International Management, International University of Japan.

Dikarenakan aku tahu persis tentang Jerman, maka aku pun bisa komentar bahwa kerja sama internasional MM UGM dengan German Business Schools juga dari Universitas Top-B School in Germany seperti: Hochschule Köln, Frankfurt School of Finance and Management, Hochschule Pforzheim dan Universität Leipzig. Itu memang di Jerman Program Business School-nya terkenal.

Secara dosen-dosen pun para pengajarnya punya reputasi akademik yang hebat. Linkage Industry MM UGM dengan BUMN yang para Direksi BUMN itu banyaknya adalah KAGAMA sehingga mudah membangun kerja sama, juga banyak KAGAMA jadi direksi di swasta membuat kerja sama partnership dengan industri mudah dilakukan.

Nah, dengan begitu banyak kesempurnaan itu apa sesungguhnya titik lemah dari MM UGM?

MM UGM itu KALAH di “ToMA – Top of Mind Awarness” dibandingkan MM rival dekatnya. Yang diingat tentang MM UGM justru oleh masyarakat adalah “kelemahannya” yang sesungguhnya itu sejatinya kelebihan dari Business School, tapi masyarakat kita memandang kelemahan: yaitu MM UGM kuat di Teori.

Padahal sekolah bisnis yang hebat itu HARUS amat kuat di teori, konsep dan metodologi. Kuat di pembahasan Studi Kasus. Itu adalah kelebihan sekolah bisnis karena sebuah bisnis yang hebat itu harus dibangun dengan cara pikir metodologis, bukan cuma gaya feeling business saja.

KECUALI klo mau mengelola perusahaan kelontong kaki lima, dimana bisa buka lapak langsung jualan. Nah, MM UGM kan didesain bukan untuk memenuhi segmen “bisnis buka lapak kaki lima”. MM UGM itu untuk menciptakan Manager-2 tangguh perusahaan profesional. Ini jelas butuh konsep, teori dan metodologi. Semua sekolah business world class utamakan ini, apalagi London Business School yang menjadi sekolah business terbaik di Eropa dan juga dunia.

Hanya lutjunya masyarakat Indonesia malah “mentertawakan” sesuatu yang kuat di teori. Akibatnya MM UGM justru kalah dalam Top of Mind Awarness dibandingkan rivalnya, yang nota bene secara kualitas MM UGM amat mungkin yang terbaik.

Berangkat dari hal itu, ada baiknya MM UGM harus mulai membangun Program Intership dengan para Mahasiswa Semester Akhirnya tugas Proyek di Perusahaan secara intensif seperti layaknya para manager bekerja untuk menjadi Flagship-nya, sebagai Legitimiasi bahwa MM UGM amat industry oriented.

Jika pun Program Internship seperti ini sudah dilakukan MM UGM maka harusnya lebih diperkuat Branding-nya bahwa Program Internship di Industry di MM UGM itu adalah Flagship-nya MM UGM.

Jadilah MM UGM kuat di Tradisi Akademik, satu-satunya yang Memiliki Akreditasi Paling prestisius di Indonesia, jejaring internasionalnya dengan World Class Business School amat luas serta memiliki Linkage Industry yang kuat dengan Flagship Programnya: Internship termasuk On Job Training dan Project Work di Industry pada setiap mahasiswanya. Para mahasiswanya MM Reguler (non Eksekutif Program) amat butuh pemerkayaan pengalaman industrial.

#dariTepianLembahSungaiIsar

Ferizal Ramli

2 komentar di “Magister Management UGM: “LBS”-nya Indonesia

  1. Sekarang ini jaman serba digital Mas…anak saya belajar dr MIT lewat YouTube, malas karena bhs Inggris dosen di kampus di Indonesianya susah dimengerti. Kalau cuma kuat di teori saja, untuk apa? anak2 sekarang bisa belajar langsung dg membaca buku digital dan video yang bertebaran di internet. Mereka justru ingin merasakan juga bagaimana sebenarnya praktek di lapangan. Bagaimana menerapkan teori tsb dalam kehidupan nyata. Bagaimana sulitnya menjual. Bagaimana merasakan kegagalan bisnis, rugi. Bagaimana berurusan dg perijinan birokrasi. dan lain2. Dan semua masalah yg mereka dapatkan, perlu ditemukan solusinya, yg mereka dapatkan sendiri dg bimbingan dosen…

    Kalau cuma kuat teori, untuk apa? Bisa dipelajari sendiri. Belum tentu relevan dg kondisi aktual yg dihadapi.

    Saya kira FEB UGM masih kalah dalam hal entrepreneurship dan memunculkan start up dibandingkan 2 pesaing terdekatnya ya?

    Oiya, UGM mendapat AACSB itu keren, tapi sekarang yg punya sudah nambah lagi Mas, yakni Binus. Binus pun sdh terakreditasi di AACSB. Dan akan bertambah lagi. Ini ukuran bahwa FEB UGM hebat? Ya. tapi Ini bukan ukuran bahwa FEB UGM lebih hebat dari top 10 sekolah bisnis lain di di Indonesia, hanya lebih dulu.

    FEB UGM merubah namanya dr FE menjadi FEB karena munculnya Business School di kampus lain di Indonesia ya? Terinspirasi rupanya 🙂

    • Teori itu penting. Best practice juga penting.
      Yang perlu dibedakan Sekolah Bisnis itu BUKAN sekolah Pengusaha. Itu sekolah Manajemen yang mendidik para ahli di bidang manajemen, business process, strategy financing atau marketing. Banyak orang berpikir sekolah bisnis itu belajar jadi pengusaha. Ini terjadi salah mindset.
      Pengusaha itu bukan dari sekolah, tapi dari best practice.

      Yang klo ada yang nambah lagi Binus bagus kan. Tapi tetap FEB UGM yang pertama kali dan tetap mampu mempertahankan AACSB-nya selama sudah belasan tahun. School of Business Administration itu menyesuaikan menggunakan standard diskis internasional, termasuk gelarnya pun mereka pakai MBA bukan MM. Jadi, terinspirasi kampus lain yang mana? 😀

      Yang pertama kali pakai FEB itu malah UGM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s