Apa yang membuat orang Jerman pandai?



Apa yang membuat orang Jerman pandai?

(1) Perpustakaan hebat yang bisa diakses oleh umum,
(2) Tradisi kecintaan membaca, selain itu
(3) Aturan bahwa data itu (selama itu tidak terkait NDA= Non Disclosure Agreement atau data bukan rahasia) harus di-share ke publik sehingga publik bisa akses.

Disini, orang yang pinter itu bukan orang yang kuasai data, dikarenakan semua orang bisa dapat data. Orang yang pintar itu adalah orang yang bisa menganalisasi data karena penguasaan teori dan pengalamannya.

Anda yang ada di Yogya bahkan Dosen Ekonomi itu analisa anda dalam ekonomi Indonesia belum tentu lebih hebat dari pada orang Jerman yang tinggal di Hamburg. 😀

Kenapa?

Di Yogya kalau Ekonomi perpustakaan yang paling bagus itu paling perpus MM UGM. Perpus FEB UGM ndak lengkap (aku terakhir ke perpus keduanya tahun 2006-an dan aku ndak yakin itu berubah amat sangat drastis Jurnal2 risetnya sampai hari ini, kemajuan pasti ada tapi ndak dratis). Sayangnya lagi tidak semua orang bisa akses perpus ini.

Perpus MM UGM bagus tapi lebih ketat lagi syarat untuk aksesnya. Harus mahasiswa MM. Jika tidak, harus pakai surat permohonan segala. Bayangkan sesulit itu anda dapat akses perpus di Indonesia.

Jadi bisa dibayangkan jika anda Dosen FEB yang BUKAN UGM akan sulit sekali dapat akses data, informasi dan ilmu berkualifikasi Emas.

Klo di Hamburg misalkan anda butuh analisa ekonomi tentang Indonesia, wah gampang. Di Hamburg itu ada Perpustakan ZBW HAMBURG yang merupakan Perpustakaan Ekonomi Terbesar dan Terlengkap di dunia!

Ini deskripsinya: “Die ZBW – Leibniz-Informationszentrum Wirtschaft ist die weltweit größte Spezialbibliothek für wirtschaftswissenschaftliche Literatur”.
https://de.wikipedia.org/wiki/Deutsche_Zentralbibliothek_f%C3%BCr_Wirtschaftswissenschaften

Haibatnya lagi, mereka terjaring dengan perpustakaan2 hebat lainnya di kota lain yang klo kebetulan buku atau jurnal yang kita butuhkan ada di Stuttgart atau Frankfurt atau Köln maka tinggal pesan akan dikirim ke rumah!

Lebih Hebatnya lagi siapapun boleh punya akses meminjam buku dari sini, siapa pun boleh dari putriku yang kelas 6 Gymanisum sampai kakek-nenek umur 96 tahun juga boleh!

Begitu kita masuk di dalamnya lalu search di Katalog tentang “Ekonomi Indonesia”, maka puluhan ribu buku serta Jurnal muncul bahkan sampai terbitan terbaru di bulan yang sama kita searching kadang sudah ada bukunya.

Penulis2 tentang Ekonomi Indonesia dari berbagai pemikir dan periset di belahan dunia manapun yang mengkaji tentang Indonesia ada di perpustakaan ini. Jadilah mereka dari Hamburg bisa jauh lebih mengerti tentang Ekonomi Indonesia dari pada seorang Professor Ekonomi sebuah PTS di Yogyakarta yang kuasumsikan perpustakaannya tidak akan sehebat perpus FEB dan MM UGM. Klo dosen atau professor FEB UGM mungkin mereka punya akses besar karena perpusnya cukup lumayan bagus.

Dari sana aku sadar, wajar jika para Investment Banking di Frankfurt atau Hamburg atau München yang notabene ndak pernah datang ke Indonesia, TAPI bisa saja lebih hebat dari pada para pengambil kebijakan di Bapenas atau BI atau OJK atau Kemenkeu atau para Professor Top FEB PTN kita. Lah wong mereka itu malah sangat mungkin menang data dan informasi dari pada pengambil kebijakan kita atau para Professor kita kok 🙂

Oleh karena itu, aku sering kali ketawa saat berdebat tentang ekonomi Indonesia lalu ada yang bilang ke aku; “kamu jauh di Jerman jadi ndak akan tahu tentang Indonesia”.

Aku sering ketawa, karena kadang (tidak selalu yah) aku jauh lebih tahu tentang anatomi ekonomi Indonesia dari pada ekonom yang tinggal di Indonesia. Lah wong sources-ku jelas yang dibiayai dana tak terbatas yaitu Perpustakaan Ekonomi Terbaik di dunia!

Dari sini percayalah, locus itu sudah tidak penting lagi. Yang penting itu adalah akses untuk dapat informasi, lalu tradisi literasi serta ini tidak kalah penting skill kita dalam men-scan informasi emas dalam waktu cepat.

Coba anda bayangkan jika anda ke Perpustakaan ZWB Hamburg ingin tahu tentang Ekonomi Indonesia, begitu search di Katalog muncul 10.000 lebih buku, jurnal, repot, dll. Maka ketrampilan anda men-scan dengan cepat buku mana yang anda butuhkan amat penting sekali disini.

Moral pointnya: masyarakat kita harus (1) dibangun budaya literasi yang tinggi, lalu (2) harus punya akses ke perpustakaan terbaik dan (3) harus punya mindset IT dalam bekerja yaitu bisa scanning informasi dengan amat cepat dalam menfilter mana informasi Gold dan mana cuma Garbage!

#dariTepianLembahSungaiElbe

Iklan

7 thoughts on “Apa yang membuat orang Jerman pandai?

  1. Selamat Siang Pak. Saya Ahmad Fadhlik. Saya alumni Teknik Industri Universitas Sumatera Utara. Saya ada rencana mau lanjut studi Master di Jerman. Apakah saya bisa apply studi Master di Jerman apabila seandainya saya sudah tinggal di Jerman sudah lebih dari 5 tahun dan apakah saya masih bisa mendapatkan kesempatan untuk apply beasiswa?
    Terima Kasih Pak. Saya tunggu balasan dari Bapak.

    xxx

    Salam Ahmad,

    Prosedur bea siswa itu setiap institusi beda satu sama lainnya. Jadi, tidak ada jawaban valid atas pertanyaan anda. Yang bisa dilakukan klo di Jerman bea siswa umumnya datang dari dari DAAD klo level master atau bea siswa Dikti. Nah ke kedua institusi itu lah yang harus ditanyakan.

    Tapi klo S3 (Doktor) bea siswa banyak dan setahu saya banyak bea siswa tidak bicara prasyarat tentang lamanya tinggal di Jerman sebagai aturannya.

    Salam Hangat

    FR

  2. Sangat bermanfaat informasinya Pak.
    Berarti bisa apply bea siswanya langsung di Jerman untuk DAAD atau bea siswa Dikti? banyak berarti beasiswa yang tidak bicara tentang lamanya tinggal di Jerman sebagai aturannya ya pak?
    Saya juga sudah buka dan baca beberapa Uni di situs https://www.hochschulkompass.de/ yang pernah Bapak sarankan untuk dibaca.
    Apakah sampai sekarang masih ada Uni di Jerman yang studi masternya menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantarnya?
    Terima Kasih Pak.

    XXXXX

    Hallo mas Ahmad,

    Tentu saja semua Program master di Jerman adalah berbahasa Jerman, KECUALI yang program Internasional baru berbahasa Inggris. Bedanya dengan Indonesia, Program Master Internasional di Jerman cukup banyak tawarannya sehingga anda tidak perlu harus bisa B. Jerman untuk kuliah master di Jerman karena bisa masuk Program Internasional yang gratis.

    Salam Hangat

    Ferizal

  3. Saya tertarik untuk melanjutkan studi di RWTH Aachen pak. Sekarang saya sedang belajar Bahasa Jerman, tapi baru sampai level B1. Saya lebih tertarik mengikuti perkuliahan dalam Bahasa Jerman. apakah langkah yang saya ambil sudah cukup baik pak?
    Terima Kasih Pak.

    XXXXXX

    Hallo Ahmad Fadhlik,

    B1 itu jauh dari cukup untuk bisa kuliah dalam B. Jerman. Jika anda sudah lulus sertifikat B1 maka saya perkirakan anda masih butuh 1-1,5 tahun lagi kursus intensif (4-5 jam sehari sekitar 4-5 kali dalam seminggu) untuk biaa lulus C1. Syarat untuk bisa kuliah dalam B. Jerman anda harus lulus C1. Sementara B1 anda baru bisa “smalltalk” saja atau baru bisa percakapan simple sehari2 saja. Belum bisa untuk kuliah.

    Salam Hangat

  4. berarti saya harus tambah jam belajar dan sampai dapat sertifikat C1.
    kalau ada pertanyaan lagi saya akan bertanya kembali pak.
    terima kasih pak.

    XXXXX

    Mas Ahmad Fadlik,

    Jika anda ingin kuliah S2 di Jerman karena S1nya sudah di Indonesia maka saran saya pakai B. Inggris saja. Lalu sambil kuliah disini, anda ambil kursus B. Jerman intensif secara serius sehingga bisa C1. Modal B1 itu bagus sekali untuk bisa lanjutkan kursus sampai B1. Bisa B. Jerman level C1 meskipun anda kuliah dalam B. Inggris akan memberi keuntungan bisa mudah cari kerja di Jerman.

    Saya sarankan ambil S2 dalam B. Inggris karena B. Jerman itu amat sulit.

    Jika anda baru lulus SMU dan ingin ambil S1 maka itu harus B. Jerman. Hanya anda tidak perlu kursus sampai C1. Dengan sertifikat B1 anda, atau lebih baik B2, maka anda langsung apply di Studkol Jerman. Nah, saat diterima di Studkol Jerman maka B. Jerman anda akan ditingkatkan disana. Untuk catatan: semua lulusan SMA Indonesia tidak bisa langsung kuliah di S1 Jerman tapi harus ke Studkol dulu selama 1-2 tahun.

    Salam Hangat dan semoga sukses

  5. Guten Tag.
    Pak Ferizal.
    apakah ada perbedaan pemilihan Universitas untuk pendaftaran Studi Master di Jerman?
    seperti Uiversitas dari Indonesia yang diakui dan ada yang tidak diakui untuk pendaftaran Studi Masternya?

    XXXXXX

    Guten Tag auch,

    setahu saya Akreditasi Jurusannya minimal B. Kalau tidak B maka relatif lebih susah diterimanya.

    Salam Hangat

    Ferizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s