Slogan Sesat: Islam Kaffah!


Muslim_majority_countries2

Slogan Islam Kaffah itu didengungkan setiap hari. Atas keterbelakangan Umat Islam maka semua mengatakan karena kita tidak menjalankan Islam secara Kaffah. Kembali ke Islam Kaffah itu jawab atas ketertinggalan kita.

“Islam Kaffah” itu jargon yang sudah didengungkan sejak abad 11 sampai dengan hari ini di abad 21. Jadi, sudah 10 abad jargon itu didengunkan, kenapa kok tidak pernah berhasil?

# Apa itu itu Islam Kaffah? Tidak ada yang bisa menjawab selain klaim menjalankan Islam yang murni sesuai dengan Quran dan Hadist.

# Bagaimana bentuk kembali ke Quran dan Hadist? Jawabnya biasanya kita dengar dengan membentuk Khilafah Islam, menjalankan Hukum Syariah Islam dan menjalankan Sistem Ekonomi Islam. Itulah jargon2 yang didengungkan yang harus dilakukan untuk menjalankan Islam yang kaffah.

# Siapa yang paling sering teriak2 jargon Islam Kaffah pada saat ini? Biasanya yang teriak itu adalah Wahabi, Ikhwanul Muslim dan Hizbut Tahrir. Hebatnya kecuali wahabi yang didanai Arab Saudi, IM dan HT di negara2 masyarakat Islam dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Jadinya, mereka memilih markas besarnya di Pusat Kapitalis Keuangan dan Demokrasi London.

# Pernahkan selama pasca nabi Muhammad, ada masyarakat Islam yang menjalankan Islam Kaffah?
TIDAK pernah! Tidak ada dalam catatan sejarah Islam pasca Nabi yang pernah menerapkan Islam kaffah versi jargon yang kita dengar selama ini: Khilafah Islam, Hukum Syariah Islam dan Ekonomi Islam.

Paling banter contoh Islam Kaffah adalah Masyarakat Islam masa Madinah sehingga kita sering menggunakan jargon Masyarakat Madani sebagai bukti sejarahnya. Tapi benarkah itu contoh Islam Kaffah buat solusi seluruh bangsa di dunia ini dalam 1 kekhalifahan Islam?

Madinah itu cuma kota kecil yang penduduknya di masa nabi mungkin cuma jauh lebih kecil dari Kotamadya Cilegon Banten hari ini, dimana Emak-ku tinggal.

Bisakah Madinah masa nabi yang kecil dan 1.500 tahun lalu ini menjadi model saklek untuk solusi dunia?

# Mari kita melihat realitas tentang Khilafah Islam, Hukum Islam dan Ekonomi Islam yang biasanya sebagai indikator penting para pejuang politik Islam Kaffah:
(1) Tidak pernah ada Khilafah Islam di muka bumi ini. Jaman dulu setelah Khulafaur Rasyidin, masyarakat Islam mencontoh pemerintahan Kerajaan “Animisme”-nya Persia yang amat maju. Islam itu dulu ndak punya tradisi kerajaan besar sehingga mencontoh kerjaan besar Persia yang tidak “beragama”.

Lalu setelah Barat memperkenalkan demokrasi dan Ottoman Turki bangkrut lawan barat abad 20 maka sebagian masyarakat Islam memilih demokrasi, dengan tetap ada yang kerajaan teokrasi seperti Saudi, Brunai, UEA dan Qatar.

(2) Hukum Islam, sampai hari ini kita tidak pernah tahu seperti bagaimana negara yang terapkan hukum Islam meskipun perdebatan tentang Syariiah dan Fiqih tiap hari ndak pernah berhenti bicara tentang hal ini. Catatan kekiniannya adalah KSA (Arab Saudi) mengklaim menjalankan hukum Islam. Silahkan dinilai benarkah klaim Arab itu adalah contoh yang baik?

(3) Ekonomi Islam, sampai hari ini juga ndak ada yang bisa bicara tentang ekonomi Islam. yang ada paling cuma “Products of Islamic Finance and Banking” yang buat semacam Bank Muamalat dan Produk Keuangan Islam. Itu pun baru aja diperkenalkan sudah terlihat banyak mudharatnya: menelan korban!

Salah satu korban yang paling spektakuler adalah kebangkrutan Dubai karena SUKUK beberapa tahun lalu. Sistem Sukuk sadisnya tidak beda dengan derivatif. Untung Abu Dhabi saudara Dubai super kaya minyak bersedia menalangi hutang Dubai yang bangkrut tsb.

Bisa dibayangkan jika Indonesia niru2 Dubai pakai sistem Sukuk dan bangkrut? Bisa bubar NKRI!

# Sekarang mari kita bicara sejak kapan sih kita tersihir jargon Islam Kaffah?
Sejak dimulai oleh Al Ghazali saat menulis kitab legendarisnya: “Tahafut al Falasifah” artinya: Ngawurnya para Ilmuwan/Filsafat http://www.ghazali.org/works/taf-eng.pdf
Al Ghazali menawarkan solusi bagi umat Islam: Menjadi Islam yang Kaffah dan jangan mempercayai para ilmuwan/filsafat yang menggunakan metodologi ilmu dalam beragama.

Tulisan tersebut dibantah oleh tokoh Ilmuwan Islam amat terkenal Ibn Rushd yang nota bene Ibn Rushd lah yang menginspirasi Eropa (Nasrani dan yahudi) untuk memulai gerekan Renainsance.

Ibn Rushd membantah dengan menulis “Tahafut al Tahafut”, Ngawurnya para orang Ngawur. Ini linknya: http://www.newbanner.com/Philosophy/IbnRushd/Tahafut_al-Tahafut_en.pdf
Ibn Rushd menawarkan solusi bagi umat Islam: Menjadi Islam yang berakal Sehat! Memahami agama dengan metodologi Ilmu dan akal.

# Nah, atas perdebatan kedua Tokoh ini maka hasilnya menarik:
(1) Masyarakat Islam lebih percaya Al Ghazali, mereka membuang pendekatan Metodologi Ilmu dan berpikir Rasional dalam memahami Agama. Mereka memilih memahami ayat dan hadist secara pendekatan mistis, irasional dan tidak logis. “Sudah ikuti aja teks Quran dan Hadist jangan didiskusikan lagi dengan akal” —begitu prinsipnya!

Sejak itu tidak adalah pemikir2 hebat Islam terlahir: masa Ibn Sina, Ibn Farabi, berdirinya University of Al Quaraouiyine abad 9 dan Al-Azhar University abad 10 mendahuli barat, hanya tinggal cerita kenangan manis yang getir klo kita ingat.

(2) Masyarakat Barat Eropa yang bukan Islam, membaca pikiran Ibn Rushd malah percaya Ibn Rushd. Lalu mereka ikuti Ibn Rushd; mereka menggunakan pendekatan Rasional, Akal Sehat dan Metodologi Ilmu dalam memahami ayat-ayat Agama.

# Apa yang terjadi saat ini?
Perdebatan imajiner berlangsung Al Ghazali abad 11 dan Ibn Rushd abad 13. Umat Islam memutuskan memilih Al Ghazali sampai sekarang. Barat justru mencontoh Ibn Rushd. Itulah awal kehancuran Islam: saat masyarakat Islam mempercayai slogan sesat Islam Kaffah yang itu cuma slogan fantasi.

Sejarah mencatat beberapa abad setelah itu khususnya abad 16, masyarakat Islam kalah maju dari Barat. Jargon “menjadi Islam Kaffah” ternyata TIDAK pernah terbukti realistis! Itu lebih berupa jargon fantasi. Secara implementasi masyarakat Islam justru tenggelam dalam kebodohan, kemiskinan dan korupsi manipulatif.

Jargon Mengunakan Akal Sehat dalam Beragama yang diamalkan oleh Barat lah yang justru memberikan solusi kehidupan yang lebih baik dan menentukan peradaban dunia sampai hari ini.

# Adakah Islam Kaffah itu?
Secara jargon indah dan ideal. Secara sejarah sampai hari ini tidak pernah ada. Untuk saat ini sbb:
– Yang ada cuma apa yang dilakukan Ikhawanul Muslim buat Partai Islam di beberapa negara yang kredibilitasnya tidak bagus-2 amat. Di Indonesia reputasinya amat buruk Partai Islam ini. Di Mesir nasibnya ndak jelas. Di Turki, kebanggaannya adalah Tuan Erdogan. Benarkah pemerintahan Erdogan adalah contoh pemerintahan yang baik?
– Yang ada Hizbut Tahrir dari markas besarnya di London teriak kemana2 tentang Khilafah Islam yang ndak pernah jelas maksudnya apa. Tidak ada 1 pun yang percaya dengan “dagangan kecap no: 1!-nya HT.
– Wahabi yang didukung Arab Saudi kemana-mana mengekspor gerakan kekerasannya dari mulai serangan2 terorisme model Al Qaeda, Taliban, ISIS, Boku Haram, Pemerintah Sudan yang melakukan Genosida di Dafur. Untuk di Indonesia mereka pun terlibat dalam aksi terorisme bom bunuh diri berpuluh2 kali atau minimal menjadi preman berjubah model FPI!

# Kenapa masih percaya dengan “Jargon Sesat” Islam Kaffah padahal dari abad 13 sampai dengan abad 21 yang terjadi adalah masyarakat Islam: bodoh, miskin dan korup?

Dikarenakan umat Islam sudah bersepakat memahami Islam dengan cara irrasional, anti logika dan mengganggap teks sebagai kebenaran mistik yang turun dari langit yang tidak boleh dianalisa dalam pendekatan ilmu untuk memahami konteks ruang dan waktu.

Akibatnya yang muncul sikap:
(1) Kebanggaan Diri berlebihan merasa yang mejalankan Islam Kaffah sehingga merasa paling benar sendiri
(2) Antikritik karena jika perilaku salahnya dikritik akan merasa itu telah menghina agama Islam sehingga sikapnya akan ngamuk dan reaktif, serta
(3) Merendahkan agama atau golongan lain karena merasa paling baik sehingga tidak mau belajar dari keberhasilan mereka

Jika sudah menganggap teks ayat suci sebagai kebenaran mistis, irrasional yang tidak boleh dianalisa dengan metodologi ilmu maka dia tidak akan bisa diimplementasikan dalam kehidupan. Itu hanya akan menjadi mantra belaka yang diucapkan sebagai mantra penghibur dalam ceramah pengajian.

Untuk membangun Khilafah Islam, Hukum Islam dan Ekonomi Islam maka harus mau kita terima bahwa teks itu dianalisa secara metodologi ilmu. Akibatnya, jika tidak relevan jangan digunakan. Fiqh Islam harus direvitalisasi melalui pendekatan Fiqih kontemporer. Methodologi Ijma dalam me-revitalisasi pemahaman sebuah ayat perlu dilakukan.

# Bagaimana Islam bangkit?
Yang dibutuhkan orang Islam saat ini adalah berpikir rasional, mengurangi Pride dan kebanggaan Pribadinya secara berlebihan merasa sebagai Umat Terhebat, tidak mencari “kambing hitam” seperti salahkan Yahudi dan Amerika/Barat atas degradasi kualitas masyarakat Islam saat ini. Diperlukan juga menambah porsi autokritik untuk memperbaiki diri!

Gampangnya ulama-ulama seperti alm Nurcholis Madjid, alm Abdurahman Wahid, Buya Syafii Ma’arif, Quraish Shihab, Said Agil Siradj, termasuk yang muda-muda seperti Sumanto al Qurtubi jangan anda kafir-kafirkan. Masyarakat Islam butuh orang-orang hebat seperti mereka untuk membuka cakrawala berpikir masyarakat kita yang saat ini tenggelam dalam lumpur: kebodohan, kemiskinan dan korupsi.

Jika anda tidak setuju dengan mereka maka hadapi dengan argumen. Jangan ngamuk2 dan memaki2 atas perbedaan pendapat apalagi meng-kafir2kan…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FR
https://ferizalramli.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s