Being Normal dan Tattoo 😍🤩😍


Being Normal dan Tattoo 😍🤩😍
Apakah hubungan keduanya? Entahlah, tapi di cerita ini aku menghubungkannya. Sesungguhnya ini cerita tentang “Keunikkan” Putriku yang mungkin untuk ukuran masyarakat dia misterius dan “tidak normal”.

Kumulai dengan apa menjadi normal itu? Kita bisa diskusi panjang tentang hal ini. Bagiku seseorang “Being Normal” secara phisik dan psikis iya itu penting, tapi bukan itu yang terpenting dalam hidup ini.

Yang terpenting itu seseorang bisa bahagia pada dirinya sendiri, bisa tahu potensi diri dan dengan begitu mampu memberi sesuatu yang baik buat masyarakatnya.

“Normal atau Unik” seseorang menjadi tidak penting lagi selama bahagia dalam hidupnya. Nah hikmah ini justru yang kudapat sebagai perjalanan berharga saat aku bersama dengan putri bungsuku.

Putri bungsu-ku amat “unik” dari caranya bersikap, membangun persepsi serta bereaksi atas situasi. Dia bisa amat beda pilihan sikap dan tindakkannya dibandingkan cara pikir kita yang normal. Keunikkan dari putri bungsu ku dari sejak Pra-School sudah agak terdeteksi gurunya. Guru di Pre-School ini penuh perhatian dan amat sayang.

Atas hal ini dia rekomendasikan standard. Dipikir karena putriku anak asing maka dia perlu terapi Logöpädie dibawah terapi ahli. Ini terapi bicara terutama pengucapan2 dalam kosakata Jerman. Ini akhirnya berlangsung 5 tahun lamanya. Kalau bayar sendiri entah berapa biayanya 😦

Kelas 1-2 SD Gurunya mulai makin mendeteksi. Ini guru sesungguhnya masih amat muda umurnya, dibawah 30 tahun tapi penyayang. Dia mulai memberi sinyal awal ada yang “unik” dengan anakku.

Lalu si Guru cantik komunikasi dengan Guru Sport dan physical Training. Rekomendasinya Putriku ikut Terapi Ergotherapie oleh ahli. Ini terapi kesimbangan dan harmonisasi gerakan phisik. 3 tahun ternyata ini berlangsung. Wah klo bayar sendiri entah berapa…😢

Sayang karena si Guru muda cantik yang baik hati tsb cuti hamil dan melahirkan 2,5 tahun maka berganti Guru baru.

Nah guru barunya gayanya amat slebor bingits dan agak cuwawakan. Tapi justru penuh dedikasi. Semua laporan catatatan dari Guru Pra-SD dan Guru SD kelas 1-2 tentang putri bungsuku dibaca tekun. Ternyata tradisi disini Para Guru Kelas itu punya catatan tentang murid2nya secara lengkap sehingga guru baru membacanya, tahu dengan cepat situasi yang ada.

Dibalik gaya slebor dan cuwawakannya, dia tekun amati serius. Dia mulai dskusi dengan Guru Khusus Matematika, Guru Sport dan Phisik Training serta Guru Pedagogik Khusus serta Dokter Anak. Pengamatan berlangsung 3 bulan untuk dalami hal ini. Hasilnya pun didiskusikan padaku.

Rekomendasi Guru ke aku: Putriku harus dilakukan test Komprehensif baik Phisik maupun Psikis. Mulai Guru Sport dan Phisical Training, Guru Pedadogik Khusus serta Ahli Pendidikan dari Bagian Dinas Pendidikan Hamburg dilibatkan untuk mengetest ini semua.

Hasilnya: ada “keunikan” dari cara berpikir, cara berpresepsi dan cara bereaksi pada putri bungsu. Hanya mereka tidak bisa deteksi lebih lanjut masalahnya apa?

Report itu didiskusikan antara aku dengan Guru Walikelas yang Slebor tapi bener2 penuh dedikas dan guru Pedagogik Khusus. Mereka semua tidak tahu masalahnya, ini diluar kompetensi mereka. Masalah ini juga intens dikomunikasikan ke Dokter Anak.

Hanya si Guru Walikelas Slebor tidak menyerah. Dia berusaha riset untuk cari solusi. Ketemu!, yaitu dia rekomendasikan agar aku bawa Putri Bungsuku ke Otto Werner Institut (OWI). Itu lembaga Khsusus amat Prestisius Kumpulan Para Ahli Psikolog Anak dan Dokter Anak untuk identifikasi “keunikan” seorang anak serta solusi treatment-ya.

Oleh OWI Hamburg laporan Walikelas dan Dokter Anak diperdalam lalu diadakan observasi mendalam. 3 bulan untuk observasi tersebut. Lalu akhirnya keluar rekomendasi bahwa Putri Bungsuku harus berada dalam terapi para ahli untuk menjalankan 5 Terapi khusus di OWI. Pasti terapi yang lama dan panjang.

Sekarang proses ini berjalan. Tujannya: supaya dengan keunikan yang ada pada putri bungsu ku, dia tetap hidup bahagia dan bisa berdedikasi di masyarakat kelak.

Entah berapa biaya semua ini, untung disini gratis ditanggung 100% asuransi. Nah, masalah ini juga yang menjadi alasan paling penting aku “menolak” tawaran posisi penting sebuah Perusahaan di Indonesia untuk pulang kampung. Dikarenakan biaya Terapi bertahun-tahun serta Keberadaan Tim Ahli Terapi secara komprehensif belum tentu mudah didapat di Indonesia. ini konsern utamaku saat ini.

Yang kudapatkan hikmat dari si Wali Kelas yang Slebor dan cuwawakan, serta si Dokter (Wanita) Anak yang juga gayanya relatif mirip itu adalah:

“seorang anak itu tidak perlu harus normal seperti lainnya. Berbeda itu santai saja. yang penting keunikannya itu membuat dia bahagia dan bisa tetap berprestasi/dedikasi”

Berangkat dari itu, aku semakin “tidak perduli” dengan keseragaman bahwa kita harus seragam bersikap dengan masyarakat kita. “Being Normal” itu bukan aspek yang terlalu penting. Yang terpenting dengan keunikkan kita bisa membuat kita bahagia, tahu potensi dan kelemahan diri, dan dengan tahu hal itu bisa berkarya buat masyarakat.

Hmmm… sebuah pelajaran berharga dari mereka2 atas kasus putri bungsuku. Lantas apa hubungannya dengan Tattoo? 😀

Nah, saat musim panas ke Dokter Anak, si Dokterkan pakaiannya “Yu-kan-Si” di ruang prakteknya, khas wanita Eropa di musim Sommer. Nah di lengan si Dokter Anak itu, ada Tatto bunga mawar merah merekah. Yang membuatku senyum sambil dalam hati berguman: “Jian, cuek bingist nih si dokter anak…” 😀

Tapi aku dan bojoku lebih senyum2 lagi…
Saat akhirnya kita pesta perpisahan karena putriku selesai kelas 4 SD. Di Jerman SD 4 tahun, kelas Menengah itu 8 atau 9 tahun, maka kita adakan pesta kebun.

Ini musim Sommer, semua pada pakaian “You Can See” dan Sexy-Sexy. Kelek’an, bahu terbuka, belahan dada, belahan punggung, rock mini, kadang ada bagian yang sobek2 by design, dll.

Nah, si Guru yang Slebor dan Cuwawakan ini pakai gaun pesta kebun yang anggun dan amat feminim. Gaunnya terbuka lebar di bagian belakang. Punggungnya terlihat penuh tanpa ditutupi kecuali terlihat tali bra-nya dari belakang, serta tali gaun bajunya yang nutupi punggungnya. Dari pundak sampai nyaris ke pinggul terlihat bebas…

Wahhh… ada Tattoo besar dan amat indah eksotis bermotif bunga warna-warni serta burung memenuhi punggungnya. Terlihat sexy dan sensual tentu saja. Gambar yang penuh seni cita rasa tapi amat dominan memenuhi punggungnya.

Aku dan bojoku tertawa ngekek-ngekek sambil senyum. Gayeng tenin gaya itu wali kelas putri bungsuku: slebor, cuek, cuwawakan bahkan ber-tattoo besar di punggungnya…

Hanya dedikasinya terhadap anak didiknya amat luar biasa. Dia sesungguhyan “Guardian Angel” buat putri bungsuku!

Gambar: bersama Putri Bungsuku

#dariTepianLembahSungaiElbe
Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s