Saat “Banyak” Intelektual Indonesia salah Konsep Memaknai Society 5.0 Jepang dalam Forum Ekonomi Davos ๐Ÿ™๐Ÿ˜Ž๐Ÿ™


Capture I4.0

Saat “Banyak” Intelektual Indonesia salah Konsep Memaknai Society 5.0 Jepang dalam Forum Ekonomi Davosย ๐Ÿ™๐Ÿ˜Ž๐Ÿ™

Banyak para Pembicara Seminar Kita yang tahu sedikit2 karena memang umumnya mereka ndak punya pengalaman dengan Industri 4.0, lalu agar terlihat Sophisticated Pemikirannya mulai kutip-Kutip Pendapat PM Jepang di Davos baru-baru ini tentang Society 5.0 yang dianggap itu sama dengan Revolusi Industry 5.0.

Lalu mereka yang biasanya tidak pengalaman dengan industri 4.0 pada bilang, kalau kita masih sibuk dengan Industri 4.0 maka menengoklah ke Jepang yang telah siapkan 5.0.

Kenapa kukatakan mereka umumnya tidak berpengalaman? Dikarenakan pengalaman dengan Industri 4.0 biasanya didapat jika memang mereka pernah berkecimpung dalam minimal 1 full life cycle transformasi dari industri klasik ke industri 4.0.

Terlalu sulit mendapatkan pengalaman itu jika berkecimpungannya hanya pada industri dalam negeri Indonesia, karena Indonesia baru saja mau mulai akan ke Industri 4.0

Nah, dengan pengalaman ini seperti diatas itu, maka bisa mudah cara pikir serta salah konsep karena amat tidak punya pengalaman tentang Industri 4.0. Industri 4.0 terlalu abstrak bagi mereka sehingga cuma nebak2 dari denger2 seminar.

Jadi menurutku begini sebaiknya memaknainya:
Jelas SALAH Konsep jika ada label 5.0 sebagai thema Teknologi bahkan pelabelan 5.0 itu adalah pelabelan tidak tepat.

5.0 itu lebih isu “sosial-politik” , tidak ada wujud teknologinya tapi lebih slogan policy politik Jepang yang punya masalah dengan demografinya. Itu bukan thema teknologi. Tidak ada Lompatan Teknologi dari slogan 5.0 kecuali itu tema-tema sosial masyarakat. Jadi, penyebutan 5.0 sesungguhnya jauh dari akurat jika dikaitkan dengan teknologi,

Sementara pada Industri 4.0 itu wujudnya nyata/kongrit ditemukannya Big Data, UX, IoT, Cloud, Ai, Blockchain…

Jepang “sengaja” salah buat judul menurutku saat pakai label 5.0. meskipun dia cukup cerdas dengan “mengelak” menggunakan nama Industry 5.0 tapi Society, karena memang tidak ada itu lompatan teknologinya. Parahnya para Pembicara Seminar Indonesia yang tahu sedikit2 memaknainya seakan itu loncatan Teknologi 5.0.

Okya, 5.0 itu sesungguhnya dimunculkan oleh para ilmuwan “anti kemapan” atas 4.0.

Jadi, memahaminya gini: Ini sama dengan Industry 1.0 itu ditemukan oleh James Watt dengan Teknologi Mesin Uap-nya, maka mucul Kapitalis Industry. Nah Kapitalis Industry itu BUKAN menjelma jadi 2.0 tapi itu adalah bagian dari konsekuensi sosial yang terjadi karena ditemukannya mesin uap.

5.0 itu TIDAK menemukan revolusi industry apa-2, beda dengan 4.0 yang diawali dengan BIG DATA. Terminalogi 5.0 itu adalah respon dari 4.0.

XXX

5.0 itu bukan lompatan teknologi, itu lebih pada isu sosial.
Kita bisa sangat gamblang utarakan revolusi Industri itu terkait dengan teknologi.

1.0 ditemukan Teknologi Mesin Uap sehingga mesin mulai bekerja untuk produksi

2.0. ditemukan alat Komunikasi yaitu Telepon dan Telegrap, alat Pembangkit Listrik untuk mass production dan diwujudkannya Transportasi Massal KA (membelah benua Amerika)

3.0 ditemukan teknologi kolaborasi internet

4.0 ditemukan teknologi BIG DATA yang juga pengembangan2 teknologi pelengkapnya seperti Cloud, Internet of Things, Unix User, Block Chain, Artificial Intelligence
Lah 5.0 itu ditemukan apa? Jelas penamaan 5.0 itu bukan basisnya ditemukan revolusi teknologi, tapi cuma untuk menjadi anti thesis dari 4.0

5.0 bagi saya itu jika pendekatannya penguasan Teknologi itu sebuah mindset salah konsep. Lah wong teknologi 4.0 aja belum sepenuhnya dikuasai bahkan Jepang sendiri TERTINGGAL kok disini. Jadi, 5.0 itu lebih pada isu fiktif.

Di 4.0 itu kongrit dan riil: Isu2 tentang Big Data, Cloud, Internet of Things, User Unix , Block Chain, Artificial Intelligence, itu bukan dari hasil pemikiran Industri dan Akademisi Jepang. Itu adalah isu2 dari para teknolog dan akademis Barat.

Bagaimana Jepang kok bisa bicara pada lompatan teknologi 5.0 sementara 4.0 aja Jepang masih tertinggal untuk thema2 dari pada barat?

Apalagi jika Indonesia yang bicara 5.0. Lah wong teknologi 4.0 aja kita NDAK TAHU APA-APA kok, bagaimana kita sudah bicara turunannya dari 4.0 dengan bicara antara Keseimbangan Teknologi 4.0 dan Manusia.

5.0 jika dalam konteks Indonesia cuma jadi cerita dongeng fiktif yang membuat para seminar motivator NOL pengalaman tentang apa itu industri 4.0 bisa tetap jualan jadi pembicara 5.0 dan dibayar fee-nyaย .

XXX

Oleh karena itu, sudah benar kita bicara 4.0 jika kita tidak sikapi itu secara teknologi, bisa habis bangsa ini karena teknologi ynag kita gunakan obselete dibandingkan negara2 lain. Kita semakin tidak bisa tutupi gap dengan negara maju.

Nah, jika muncul persoalan sosial dimana nanti “mesin” akan mengabaikan manusia maka ini adalah soal sosial yang harus disikapi oleh kita juga. Tapi ini bukan revolusi industry 5.0 melainkan bicara tentang keseimbangan manusia atas ditemukannya BIG DATA yang memicu 4.0.

Untuk juga diPAHAMI, Industry 4.0 itu baru BERJALAN belum terlewati. Dampaknya serta manfaatnya itu baru akan terasa mungki 5-10 tahun lagi.

Tapi yang paling terasa saat ini seperti Amazon. Itu Amazon assetnya jauh lebih besar dari pada APBN kita. Bayangkan sebuah company tanpa produksi apapun KECUALI cuma main dengan teknologi 4.0 bias buat Bisnis yang amat meraksaksa. Nah, model2 Business Process Design seperti ini bisa akan jadi GURITA yang melahap semuanya.

Kasus realitas kita: bukankan Go Car dengan business process yang efisiennya melahap Taxi?

Bisa dibayakan jika memang Industri 4.0 itu bener2 akhirnya mewabah dimana2. Maka pola2 industri akan benar2 berubah. Ini bisa amat berbahaya sekali jika Industri dalam negeri tidak siap.

XXX

Lantas bagaimana dengan situasi kita saat ini?

kita ndak bisa ikut2an dengan cara pikir Jepang yang penuh ambigu itu. Kita harus memahami peta pertarungan teknologi yang begini diinamik sehingga punya navigasi yang jelas.

Yang pasti jika isu 4.0 itu adalah Cloud, Internet of Things, Unix User, Block Chain, Artificial Intelligence. Coba kita jawab pertanyaan2 ini:

1. Seberapa kita sanggup invest di teknologi terkait Industr 4.0 ini?
– Apakah kita invest dalam membangun Big Data
– Apakah kita invest dalam kembangkan teknologi AI (Artifcial Intellegnece)
– Apakah kita invest di IoT (Internet of Things)
– Apakah kita juga invest dalam teknologi mobile hardward device atau software user unix
– Apakah kita invest dalam teknologi Additive Manufacture

2. Universitas Mana di Indonesia yang mampu mendidik SDM seperti itu? UGM?. ITB? atau UI? atau PTN top mana? Jika tidak ada Universitas Indonesia yang siap mendidik SDM itu berarti kita bener2 NOL sekali.

Berapa banyak Pakar dan Professor-Professor kita yang ahli dalam bidang-bidang terkait Industri 4.0 ini? Apakah Para PTN Top Papan Atas kita memang punya jurusan, pusat studi serta program studi yang memang kuat disini?

3. Apakah kita punya Center of Excellent semacam Silicon Valey sebagai tempat para talent kita bersinerji dan mengembangkan sendiri Industry 4.0 sehingga bukan cuma sekedar mengkonsumsi teknologi luar.

Dimana berkumpulnya para talent Industri 4.0 Indonesia? Di Silocon Valey mana? Di Industrial dan Sciance Park mana para talent kita berada? Jika kita ndak punya tempat kumpul para talent ini maka kita ndak punya talent-nya.

4. Adakah Indsutri-Industri kita benar ada yang punya pengalaman melakukan “full life cycle” dari sebuah proses transformasi dari industri klasik ke industri 4.0 sehingga bisa jadi role model?

Nah, pasti kita bisa punya gambaran bukan situasinya atas jawaban pertanyaan2 tersebut. Jika jawabannya kita tidak investasi sungguh2 secara smart dan dengan White Paper yang benar, yah berarti kita tidak siap.

Kita HARUS fokus kuasai 4.0. Big Data, UX, AI, Cloud, Block Chain, IoT itu adalah Teknologi2 pembunuh yang berbahaya jika para perusahaan multinasional asing berhasil sepenuhnya bertransformasi menjadi Industry 4.0 maka habislah industri2 kita klo ndak diakusisi oleh mereka, atau terlikuidasi karena terpredator oleh mereka.

Jadi, menurut saya lupakan dengan cerita2 fiktif Industry 5.0.

#dariTepianLembahSungaiElbe_BersiapMenuju_TepianLembahSungaiIsar
(Tengah Malam dengan Suhu Menggigil di Musim Winter)

Ferizal Ramli

2 komentar di “Saat “Banyak” Intelektual Indonesia salah Konsep Memaknai Society 5.0 Jepang dalam Forum Ekonomi Davos ๐Ÿ™๐Ÿ˜Ž๐Ÿ™

  1. Assalamualaikum wr wb, uda Ferizal Ramli.

    Menurut saya di Indonesia sendiri Industry 4.0 hanya dinikmati sebagai pembeli dan pemakai. Beli dulu barang dan lisensinya baru deh pakai teknologinya. Kita tak punya seperti Silicon Valley itu.

    Salam kenal. Saya tau blog uda ini karena tulisan I don’t trust him anymore.

  2. Selama ini istilah-istilah seperti Industry 4.0 dsb hanya sebagai ajang pencitraan saja. Pemerintah sekarang juga nggak ngerti kok mengenai dunia digital dan kapitalisasinya.

    Malah bangga sama Unicorn, nggak ngerti apa dampak jangka panjangnya dengan keberadaan raksasa-raksasa dengan modal tidak terbatas yang menggunakan Unicorn sebagai tangan mereka untuk menguasai perekonomian Indonesia.

    Semua pintu dibuka selebar-lebarnya. Dipikirnya mereka modern dan forward thinking.

    Padahal DUNGU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s