Kita butuh banyak Insinyur dan Saintis 😎


Kita butuh banyak Insinyur dan Saintis 😎

Sesungguhnya ini bukan masalah Indonesia saja. Ini masalah umum di hampir semua negara bahkan di negara-negara industri maju sekalipun bahwa lulusan Sarjana Sosialnya jauh lebih banyak dari pada Insiynur dan Saintis. Negara yang berhasil menutup atau memperkecil „gap“ atau celah antara lulusan sosial dengan insinyur dan saintis itu akan mudah melakukan inovasi-inovasi teknologi.

Khusus untuk Insinyur Indonesia saat ini sesungguhnya “on track”. Terutama dengan dikembangkannya Politeknik dan Sekolah Vokasi ke level Diploma 4 (Sarjana Terapan) membuat terbangunnya tradisi pendidikan Insinyur terapan. Ini membuat Indonesia punya source besar untuk menghasilkan para insinyur terapannya. Tinggal kualitas pendidikannya harus dijaga dan ditingkatkan.

Insinyur itu memang sulit jika semata-mata dihasilkan dari Universitas. Dikarenakan universitas itu sifatnya umum membuka semua cabang ilmu jadilah terkadang Universitas agak „mengabaikan“ untuk mendidik para insinyur apalagi saintis. Sering kali solusinya dengan membangun Institut Teknologi atau Universitas Teknologi untuk memberikan kekhususan pada bidang sains dan teknologi. Ini juga solusi tepat, hanya jika dikombinasika dengan Politeknik atau Sekolah Vokasi akan lebih hebat lagi hasilnya.

Sedikit refleksi ke Jerman: Ada sekitar 450-an Perguruan Tinggi (PT tidak buka level dibawah Sarjana). Paling hanya 120-an yang Universitas dan dari 120 itu paling sekitar 20-an yang Technische Universität atau Universitas Teknik. Yang 100-an adalah universitas umum meskipun tetap mereka buka Fakultas Teknik atau Sains, hanya umumnya mahasiswanya kluster ilmu sosial.

Selain itu ada sekitar 330 adalah Program Vokasi yaitu Fachhochschule (University of Applied Science, 60% Praktek dan 40% Teori) serta Duales-Studium (University of Corporate Education, 80% Praktek dan 20% Teori). Fachhochschule dan Duales-Studium ini lembaga pendidikan paling produktif mencetak para insinyur. Di Program ini sebagian besar cetak para insinyur.

Untuk Indonesia, kita juga “on track”. Kita punya Sarjana Teknik Terapan yang dididik oleh Politeknik dan Sekolah Vokasi. Belum lagi Universitas dan Institut Teknologi juga mencetak para insinyur.

Jadi, dititik ini kita tidak akan kekurangan para insinyur. Tinggal kualitas pendidikan para insinyurnya yang harus semakin ditingkatkan. Jadilah, para insinyur kita akan jadi „Kapten-Kapten Industri“ yang akan memimpin unit-unit tempurnya menghasilkan produk berkualitas.

Yang agak kritis adalah Pendididikan Saintis kita. Lihatlah dalam Gambar Mapping Scientific Excellent di dunia. Indonesia cuma berupa nokta kecil saja yang amat tidak signifikan perannnya.

Hebatnya untuk emerging country: Cina dan India yang masuk dalam katagori terbaik dalam hasilkan saintis. Diluar itu hanya negara maju yang hasilkan banyak saintis.

Universitas di Indonesia sendiri tidak banyak cetak saintis sementara Politeknik dan Sekolah Vokasi tidak bisa didik saintis. Nah, kita secara kuantitas (jumlah) memang relatif panceklik saintis. Selain itu pendidikan saintis punya tantangan tersendiri. Di negara-negara maju Pendidikan Saintis itu TIDAK berhenti di level Bachelor atau S1.

Di negara maju pendidikan saintis umumnya mereka bina sampai level S3 atau Doktoral. Dikarenakan seorang saintis yang umumnya „Pure Scientist“ butuh dididik sampai jenjang pendidikan tertinggi untuk kuasai metodologi ilmu sebagai dasar riset mereka. Jadilah kelak mereka akan berperan sebagai „Kolonel-Kolonel Laboratorium Inovasi“.

Para Saintis ini memegang kunci penting inovasi sebuah bangsa. Jika para Insinyur adalah „Kapten-Kapten Industri“, maka Para Saintis yang Doktoral adalah „Kolonel-Kolonel Inovasi“. Perguruan Tinggi di Indonesia harus memberikan perhatian lebih untuk ini.

Posisi saintis kita realtif kritis baik secara kuantitas maupun kualitas. Ada baiknya PTN di Indonesia membuat Program seluruh Fakultas MIPA-nya dari lulus SMA didik langsung sampai minimal S2 melalui program terusan. Tentu ada gelar S1-nya BSc dan S2-nya Master, hanya programnya didesain terusan tanpa henti, misalkan 6 tahun. Klo perlu disediakan bea siswa berlimpah untuk hal ini.

Ini akan menjadi stimulus untuk para lulusan SMA untuk jadi saintis dan malah ingin lanjut sekolah terus hingga Doktor di bidang sains. Jadilah, Indonesia akan kaya dengan Para Kolonel-Kolonel Inovasi masa depan…

#dariTepianLembahSungaiElbe

Ferizal Ramli

Satu komentar di “Kita butuh banyak Insinyur dan Saintis 😎

  1. Di Indonesia cita-citanya anak muda adalah menjadi makelar dan politisi, karena dua profesi tersebut hidupnya berkecukupan VS engineers.

    Kenapa capek capek jadi engineer dan saintis? sementara pemerintah dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan lebih suka membeli produk dan teknologi Made in negara lain.

    Lebih baik makelaran saja…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s