I LOVE UGM! πŸ˜πŸ˜πŸ˜



I LOVE UGM! 😍😍😍
Penting dicatat: UGM BUKAN Kampus Otoriter, Tradisi Demokrasi adalah Nafas Hidup aktivis dan akademisi UGM, hanya memang TIADA GADING yang TAK RETAK, meskipun hanya sebuah goresan kecil…

Ini catatanku tentang UGM yang baru saja kukunjungi:
Aku minggu lalu ke UGM. Tahukah anda PIAT UGM – Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada adalah kumpulan para Ilmuwan Begawan yang begitu teduh, tawadu mengabdikan ilmunya jauh dari hingar-bingar pencitraan.

Tapi jangan tanya bagaimana dedikasi mereka membangun Teknologi Pertanian Integratif, ramah lingkungan, membuat Padang Pasir Gersang bisa menjadi tanah produktif seperti memproduksi buah naga bahkan mereka sampai terlibat dalam kerja2 membangun pertanian di Afrika.

Tahukah anda karya-karya ilmuwan brilyant UGM yang low profile itu berhasil membuat berbagai penemuan alat-alat kesehatan/medical device bahkan sudah dipasarkan dimana-mana. Mereka dalam diam begitu tekun melakukan kerja-kerja hilirisasi sehingga hasil penelitiannya tidak cuma sampai level jurnal tapi dinikmati masyarakat.

Tahukah anda itu Fakultas Teknik UGM jurusan TETI (Teknik Elektro dan Teknik Informatika) satu-satau Perguruang Tinggi di Indonesia yang dapat dukungan dari Teknolgi Chip Canggih Infineon Jerman.

Teknologi canggih level world class yang pasar di Indonesia bahkan belum mengenalnya. Nah, para mahasiswa semester 3 dan 5 dididik oleh Para Dosennya yang tanpa pamrih sehingga mereka menjadi ahli2 IT level World Class!

Tahukah anda Teknologi Big Data itu oleh UGM telah dikembangkan bahkan diimplementasikan dalam berbagai sistem transaksi seperti Mesin-Mesin Tiket Transjakarta, Trans-Yogya dsb yang itu adalah para anak2 muda brilyant dididik oleh para mentornya dosen2 UGM yang penuh dedikasi.

Jika melihat hal ini hatiku amat sangat bergelora penuh bangga betapa bahagianya aku bagian dari UGM.

Iya, tentu saja ada riak-riak kecil ketidasempurnaan seperti insiden baru-baru ini pencekalan pembicara yang sesungguhnya itu tidak perlu dicekal. Patut disesali itu terjadi karena pencekalan tokoh-tokoh seperti itu tidak perlu dilakukan UGM.

Di masa aku menjabat Pimpinan Pusat Senat Mahasiswa UGM (tahun 1994-an klo ndak salah), kita malah pernah undang Sri Bintang Pamungkas yang saat itu dicekal Pak Harto karena tuduhan makar (ini ndak main2 tuduhannya subversi!). Tokoh anti pemerintah kita undang bebas di UGM seperti Permadi misalkan. Jadi memang tradisi UGM mengundang tokoh kredibel kontroversial itu memang biasa saja.

Hanya jika hari ini tokoh bersih seperti Sudirman Said yang jelas2 dia adalah Mr. Clean yang bersihkan Korupsi Pertamina Petral dicekal di UGM, memang patut disayangkan ini terjadi. Hanya tiada gading yang tak retak. Ini cuma goresan kecil dari sejarah dedikasi UGM yang amat gemilang.

Tidakah kita semua ingat bagaimana Prof. Koesnadi membuat Program KKN. Nah, Program ini adalah Program amat MULIA dimana para intelektual2 muda didikan UGM mengabdikan ilmunya tanpa pamrih diseluruh Indonesia. Mereka membangun masyarakatnya tanpa pamrih. Ini adalah kerja2 nyata UGM membangun bangsa dan masyarakatnya.

Jadi, mari kita belajar dari insiden Pencekalan ini, semoga ke depan insiden ini tidak terjadi lagi. Lebih dari itu alangkah tidak eloknya hanya karena insiden ini lalu kita berlebihan bereaksi dalam menyalahkan UGM. Karya UGM dengan para dosen-dosennya, ilmuwan2 tulus penuh dedikasi itu perlu kita tunduk memberikan hormat padanya.

Di UGM itu kebak dengan para pendidik yang penuh dedikasi. Kita perlu memberi respek besar dan hormat pada mereka yang mengabdi buat UGM dan bangsa…

Sebagai catatan akhir: Untuk refleksi bersama…

Dijamanku dulu mahasiswa, itu Dema (Dewan Mahasiswa) yang DILARANG pemerintah dan dibubarkan saja, justru tahun 1994-an (klo ndak salah ingat) muncul lagi di UGM dan mereka boleh eksis di kampus UGM dan adakan berbagai acara di kampus. Dengan cara ini lah UGM mengahislkan para aktivis hebat yang kelak jadi pemimpin.

Dijamanku dulu mahasiswa, adalah biasa jika SM/BEM atau HMJ itu kerja sama dengan dan kolaborasi dengan mahasiswa UGM lainnya adakan acara selama dibawah supervisi SM/BEM dan dalam formalitas prosedur BEM/SM maka itu memenuhi standard etika dan tata krama kegiatan mahasiswa di UGM. Dikarenakan tidak semua mahasiswa UGM itu pengurus BEM/SM.

Jadi, menurut hematku apa yang dilakukan Dekan Fapet itu TIDAK TEPAT. Hanya itu policy salah seorang pejabat Kampus saja yang kadang bisa salah, sementara Tradisi Akademis dan Aktivitas UGM itu JAUH dari Otoriter,..

#dariTepianLembahSungaiElbe

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s