Catatan Dukungan dan Catatan Kritis Kebijakan Mendikbud


Catatan Dukungan dan Catatan Kritis Kebijakan Mendikbud

Aku setuju tentang Zonasi, meskipun dipelaksanaan masih amburdul sehingga butuh perbaikan. Hanya di filosofis aku setuju, paling tidak itu diterapkan di Jawa dan Kota-Kota besar di Nusantara jika belum bisa diterapkan secara nasional.

Aku setuju Sekolah kita tanpa PR. Pendidikan kita terlalu banyak beban tugas tapi tidak produktif dan tidak life balance hidup anak-anak kita. Terlalu banyak kerja tapi Tidak Produktif karena salah makna. Lihat saja meskipun sejak TK bisa membaca tapi budayanya iliterasi alias tidak ada budaya cinta membaca.

Tidak produktif meskipun belajar latihan soal ndaki-ndaki dengan PeeR seabgrek, tapi tidak membangun budaya berpikir sebagai saintis.

Jadi, saat selalu dikasih PR itu artinya mereka dipaksa bekerja lama tanpa ada waktu bermain kanak-kanaknya, tapi justru bekerja lamanya tidak membuat mereka menjadi produktif; kecuali buang waktu dan tenaga belaka.

Tidak membuat mereka punya mindset cinta membaca dan cinta ilmu. Di negara-negara maju yang full day school, PR itu “tidak ada”. Yang ada adalah tugas dari Guru lalu siangnya dikerjakan karena full day school.

Itu pun cuma butuh beban waktu 30-60 menit saja. Setelah itu Full Day school diisi dengan menari, bernyanyi, main theater, belajar memask, belajar prakarya, olah raga dan lebih dari itu yang paling penting bermain bersama.

Jadi, saat Pak Menteri bilang PR tidak perlu ada, aku secara umum setuju sekali. Meskipun karena Indonesia amat luas dengan berbagai masalahnya maka tetap ada saja kasus pengecualian harus dilakukan.

Hanya saat Pak Mentri bilang mau menyederhanakan keragamana Bahasa Daerah maka aku TIDAK SETUJU sama sekali. https://www.merdeka.com/amp/peristiwa/terlalu-banyak-bahasa-daerah-mendikbud-ingin-ada-penyederhanaan.html?__twitter_impression=true

Bahasa itu identitas karakater dan jati diri manusia. Biarkan itu berkecambah dan menyesuaikan kemajuan jaman.

Bangsa Indonesia itu poligot, mereka minimal memang menguasai 2 bahasa yaitu Bahasa Daerahnya sebagai Bahasa Ibu serta Bahasa Indonesia. Jika Pak Menteri menghilangkan Bahasa Daerah tertentu karena alasan penyederhanaan maka Pak Menteri dholim untuk 3 hal:

1. Memaksa dengan policy-nya untuk “membunuh” karakter society tertentu dengan menghilangkan penggunaan bahasa ibunya. Ini jelas mentalistas buruk merasa mayoritas dan berkuasa sehingga merasa berhak menentukan hidup minoritas. Cara pikir yang salah secara mindset.

Lah wong di Jerman ini, dialek-dialek berbahasa saja mereka jaga kok demi agar identitas komunitas mereka tidak hilang. Anak-anak yang tinggal di Hamburg atau Jerman Utara belajar dialek bahasa “plattdeutsch”, yang di München dan negara bagian Bavaria pakai belajar dialek “bayerisch”, dll.

Lah di kita malah Bahasanya yang dihilangkan demi penyederhanaan.

2. Menghancurkan keragaman kekayaan budaya bangsa kita. Budaya itu bukan produk industrial yang harus seragam terstandarisasi. Ke-eksotisan kualitas budaya sebuah negara itu terletak dari keberagamannya yang menjadi mozaik nusantara. Bukan terletak dari standarisasi keseragaman produk.

Menteri Pendidikan Kebudayaan harus tahu tupoksinya bukan bukan bergaya seperti Menteri Perindustrian, yang bicara penyederhaan atas nama saving cost ada simplicity.

Yang justru dilakukan bukan dihilangkan itu keragamanan bahasa dan budaya, tapi diberi kesempatan tumbuh dan bersinerji dengan budaya lain serta menemukan cara menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Ini akan memunculkan kearifan lokal.

3. Ini bisa menghentikan tradisi poligot bangsa kita. Akibatnya yang awalnya kebanyakan orang Indonesia menguasai minimal 2 bahasa, menjadi cuma 1 bahasa.

Lebih tidak asyik lagi kekayaan B. Daerah kita hilangkan justru lalu kita bersusah payah dipaksa belajar B. Inggris.

Jika alasannya biar mereka fokus untuk mempelajari B. Inggris maka harus dipahami TIDAK semua orang perlu bisa berbahasa Inggris. Mereka yang hidup bertahun2 di negara-negara Eropa amat tahu, betapa negara2 maju tsb masyarakatnya banyak yang tidak perlu belajar B. Inggris.

B. Inggris itu sebuah bahasa dan budaya asing buat mereka, kenapa harus mereka perlu pelajari budaya asing sementara mereka juga sudah begitu kaya dengan budaya sendiri.

Negara-negara Eropa seperti Perancis, Spanyol, Portugis, Jepang itu banyak yang tidak bisa B. Inggris kok. B. Inggris itu dibutuhkan hanya pada kalangan tertentu saja. B. Inggris itu dibutuhkan hanya buat kalangan akademisi dan profesional global player. Sementara sebagian besar dari mereka yang masyarakat pada umumnya merasa tidak perlu bisa Bahasa Inggris.

Berkaca pada realitas bahwa sebagian besar masyarakat normal tidak butuh B. Inggris, jika banyak B. Daerah dihilangkan akan menghilangkan tradisi poligot bangsa kita terutama pada masyarakat yang bahasanya dihilangkan. Kita tidak lagi menjadi bangsa yang menguasai banyak bahasa.

#dariTepianLembahSungaiElbe

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s