Perang Dagang Amrik vs Cina, dimana Jerman (Eropa), Jepang dan dunia?


Perang Dagang Amrik vs Cina, dimana Jerman (Eropa), Jepang dan dunia?

Genderang Perang Dagang yang ditabuh Trump ke Cina jelas semakin riuh dan berisik. Tanggapan dari Cina pun tidak kalah gentarnya. Cina siap hadapi perang tanding ini. Ini masalah Pride and dignity bagi Cina. Hanya sampai saat ini tidak ada yang mau pertama kali mencetuskan perang. Semua saling tunggu tentang siapa yang pertama kali berani menarik pelatuk dan menembakkan peluru.

Mungkin para pemimpin ini tidak mau dicatat dalam sejarah sebagai penarik pelatuk pertama yang menyebabkan perang. Semua saling meunggu dalam situasi berbahaya ini. Jika kedua pasukan saling bertemu berhadap2an maka sedikit insiden kecil di lapangan maka akan menyebabkan terjadinya perang besar. Tampaknya ini yang akan terjadi.

Trump sudah tabuh genderang perang, tapi dia tidak mau dicatat sebagai Pemimpin yang menyebabkan perang. Dia tidak mau dicatat sebagai orang pertama yang memerintah pelatuk ditekan. Tapi dia menempatkan pasukan perang dagangnya benar2 berhadap2an dengan Cina. Harapannya tanpa dia perintahkan nanti di lapangan akan terjadi insiden yang sebabkan perang dagang pun terjadi.

Cina sebagai negara besar tidak mau digertak oleh Trump. Jadi saat Trump gertak dengan Tabuhan Genderang perangnya, Cina bukannya mundur untuk hindari perang justru bersiap untuk melawan, meskipun Pemimpin Cina pun tidak mau memerintahkan pelatuk Perang untuk ditekan. Sampai saat ini semua baru saling ancam untuk saling naikkan tarif produk import mereka. Tapi keputusan resmi belum dikeluarkan.

Saat salah satu mengeluarkan keputusan resmi karena terjadi insiden di lapangan maka saat itulah terjadi perang. Nah, siapakah yang menang dalam Perang ini?

Jika perangnya lama maka Cina mungkin akan kalah. Fundamental Ekonomi Cina tidak kuat meskipun kekuatan ekspansinya amat besar. Cina ndak akan sanggup perang dalam waktu lama. Hanya Cina tidak butuh perang lama. Cina cukup fokus membuat pukulan yang menyakitkan Amerika, lalu rakyat Amerika akan marah ke Trump yang sebabkan Perang maka Trump pun akan dijatuhkan rakyatnya. Saat itulah Perang akan berhenti. Seperti itulah itungan Cina sehingga mereka berani melawan Amerika.

Lantas Bagaimana dengan Eropa? Disini dilemma-nya Trump. Setelah Cina, maka bagi Amerika yang paling njelehi adalah Jerman. Pasar Amerika itu diobrak-abrik oleh 2 negara yaitu Produk murahnya dikuasai Cina, Produk kualitasnya dikuasai Jerman. Jerman jelas menjadikan Amerika SURGA bagi pasar produknya. Tidak heran saat ini Jerman menjadi supermakmur „gemah ripah loh jinawi“ yang dikenal dengan „2. Wirtschaftswunder nach dem Weltkrieg!“ atau „Mukjizat Ekonomi yang kedua kalinya setelah Perang Dunia“. Ini jelas menjengkelkan Amerika.

Oleh karena itu, Amerika pun mengancam Jerman untuk digebuk dalam Perang Dagang ini. Merasa dapat ancaman dari Amerika maka Jerman pun berafiliasi dengan Cina siap melawan Amerika. Merkel tahu persis bahwa Trump berbahaya bagi Jerman. Merkel pun mempererat hubungan Jinping, Presiden Cina. Jadilah, ini benar-benar menarik; ternyata uang itu tidak punya idiologi. Jerman yang Barat justru berafiliasi dengan Cina yang Komunis Timur siap hadapi Amerika.

Amerika segera mencari partner di Eropa. Inggris, iya Inggris yang dijadikan partnernya, apalagi saat ini Inggris sedang Perang dengan Eropa terkait dengan Brexit yang notabene Eropa dipimpin Jerman. Inggris sebagai kekuatan no: 2 Ekonomi terbesar di Eropa setelah Jerman maka Amrik merasa melihat Inggris sebagai partnernya. Masalahnya pemimpin Inggris saat ini Theresia May relatif tidak mau konfrontasi dengan Eropa. May memilih kompromis dengan Eropa.

Kondisi ini tidak disukai Trump. Oleh karena itu, Trump sering menyerang May supaya May jatuh yang harapannya diganti oleh Boris Johnson yang anti Eropa. Dengan Boris Johnson maka Trump akan punya sekutu kuat untuk gebuk Jerman. Itu sebabnya Trump meskipun memuji-muji Inggris tapi serang dengan vulgar pemerintahan May.

Selain itu, di internal Eropa Trump berusaha melakukan politik „belah bambu“, devide et empera (catatan: jadi buat anda yang selalu nuduh Belanda itu negara licik yang terapkan devide et empera maka harus tahu dimana2 negara tuh klo perang terapkan hal ini supaya menang, juga Trump dalam perang dagang saat ini). Trump memuji-muji pemimpin Perancis Macron sambil terus menyerang Merkel dan Jerman.

Secara tradisional Perancis itu Partner terbaik Jerman di Uni Eropa. Macron sendiri amat anti Brexit yang menjadi musuh bersama Eropa. Hanya, pujian Trump dan dukungan Trump terhadap Macron akan membuat Perancis tergoda mengambil alih kepemimpinan utama Eropa yang selama ini pegang Jerman. Apakah Macron tergoda melakukan hal ini? Jika Macron tergoda maka posisi Jerman relatif sulit menghadapi Amerika. Diluar punya musuh Inggris dengan Brexitnya, di dalam tidak kompak. Belum lagi ada sisa-sisa masalah krisis Ekonomi Eropa yang selama ini di-bailout Jerman seperti hutang Yunani dan Italia, juga masalah pengungsi dan imigrasi.

Lantas bagaimana dengan Jepang? Secara tradisional Jepang dan Cina saling membenci satu sama lain dalam berbagai bidang. Secara tradisional Jepang dan Amrik sahabat karib di bidang Ekonomi dan Militer. Tentu secara logis Jepang akan memihak Amrik. Hanya, jika perang dagang terjadi maka Jepang justru paling terkena „friendly fire“ dari Perang Tarif Dagang Amrik karena produk Jepang pasti terkena. Nah, secara rasional ekonomi jelas Amerika memukul Jepang.

Selama ini Jepang selalu mengalah ke Amrik termasuk sering kali Produk Toyota di persoalkan Amrik sampai dituntut ke pengadilan, Jepang selalu mengalah. Amrik ingin melindungi industri otomotifnya maka sering kali cari-cari kesalahan produk mobil Jepang. Jepang selalu ikuti maunya Amrik jika dia didenda maka akan bayar saja tanpa melawan. Hanya jika terjadi perang dagang dimana produk2 Jepang akhirnya kena tarif masuk bea import maka jelas ini tembakan dari teman yang amat menyakitkan. Jadilah posisi Jepang belum tentu bela Amerika.

Artinya, posisi semua negara tidak linier sama sekali dalam Perang Dagang ini. Pertarungan menjadi Chaos. Cina berharap perang tidak lama. Jika Cina bisa masukkan pukulan menyakitkan ke Amrik maka Pemerintahan Trump jatuh dan perang terhenti: hasilnya Cina akan semakin menguat. Jika perang berlangsung lama, amat mungkin Cina yang hancur babak belur karena fundamental ekonominya yang lemah karena hutangnya tinggi, pertumbuhan ekonomi yang sudah amat panas karena „bubble economy“ serta jumlah penduduk besar akan membuat beban Cina amat berat.

Jerman sendiri melihat ini perang amat berbahaya. Posisi Jerman mirip British Empire di Perang Dunia. Meskipun British Empire menang di Perang Dunia, sesungguhnya dominasi kekaisarannya hancur lebur. British Empire berubah menjadi negara kecil yaitu Inggris. Jika Perang Dagang ini berlangsung lama maka dominasi Ekonomi Jerman andaikata dia jadi pemenang sekalipun, tetap akan berantakan. Ini yang ingin dihindari Jerman. Oleh sebab itu Jerman sesungguhnya tidak ingin perang dagang ini terjadi.

Hanya sesuai Pameo: „Jika tidak ingin Perang maka justru bersiap lah untuk Perang“ maka Jerman pun benar2 membangun soliditas di Eropa dengan Perancis serta memperkuat afiliasi dengan Cina. Tampaknya Merkel yang awalnya amat dingin dengan May (Perdana Menteri Inggris) terpaksa ke depannya akan bemanis-manis dengan May supaya Pemerintahan May yang relatif lunak ke Brexit tetap utuh. Dikarenakan jika May jatuh maka penggantinya adalah Boris Johnson yang amat anti Eropa dan Pro Amerika. Bagi Jerman jika perang ini terjadi maka Big Loser adalah Jerman! Jerman yang paling tidak mau ini terjadi. Tapi seberapa mampu Angela Merkel mencegah Perang dalam kesendiriannya?

Tapi jika perang benar-benar terjadi maka semua negara akan berdampak akan babak belur karenanya. Negara yang eksis itu adalah secara umum memiliki 3 hal ini:
Memiliki Sumber Daya Alam yang berlimpah
Memiliki Suber Daya Manusia yang bisa mengelola SDA-nya
Memilik Pemerintah berdaulat yang bisa membuat SDA-nya untuk kepentingan masyarakatnya

Bagaimana dengan Indonesia? Tidak ada yang bisa meramalkan itu semua apa yang terjadi dengan Indonesia jika perang dagang meletus. Tapi tidak cuma Indonesia yang dalam ketidakpastian, semua Emerging Countries seperti India, Turki, Rusia, Brasil, Argentina, Meksiko, Afrika Selatan, Turki, Korea Selatan, Meksiko atau negara model Arab Saudi, Mesir, Iran, Thailand, Malaysia, Vietnam atau Philipina pun berada dalam ketidakpastian. Jika Perang Dagang Terjadi maka akan terjadi „kocok ulang“ eksistensi negara-negara tersebut.

Apapun bisa terjadi minimal paceklik yang rakyatnya hidup dalam tekanan, bisa juga pemerintahannya jatuh, bisa menjadi negara gagal, atau terjadi pemberontakan, ada separatisme atau bisa jadi ini yang paling buruk; terjadi pecah belah seperti negara-negara Balkan. Tidak ada yang tahu apa dampaknya jika bener2 perang dagang ini terjadi.

Hanya jika pun terjadi, bisa jadi justru tatanan global yang selama ini menguntungkan Barat (Amerika dan Eropa) justru akan runtuh dan terbangun tatatan ekonomi global yang baru dan diisi oleh para pemain baru. Sangat mungkin justru para Emerging Countries akan Promosi menjadi negara maju yang memimpin dunia. Ini mengingatkan saat Paska Perang Dunia dimana Justru Kebangkitan Negara-Negara Asia yang diikuti oleh Afrika.

Inikah yang nanti akan terjadinya „Kocok Ulang“ para pemain Ekonomi dunia?

#dariTepianLembahSungaiElbe

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s