Seberapa Jaya Nenek Moyang Kita?


Seberapa Jaya Nenek Moyang Kita? 😍

Sayang sekali sejarah dunia itu selalu ditulis dengan cerita Eropa (Bangsa Barat, red) dan Arab (Baca: Arab di TS ini berarti juga Turki, Persia dan Afrika Utara sebagai sub ordinatnya).

Sementara catatan Sejarah tentang Cina dan India masih cukup lumayan baik hanya juga banyak terisi catatan kekalahan. Jepang juga punya catatan sejarah. Amerika Latin catatan sejarahnya adalah catatan tragedi kalah.

Bagaimana dengan Indonesia? Ada masalah dua hal di Indonesia:
1. Apresiasi atas ahli sejarah, ahli antorpologi, ahli arkeologi dan ahli sastra di Indonesia amat buruk. Akibatnya, tidak banyak terlahir para ahli di bidang ini karena masyarakat miskin apresiasi terhadap mereka.

Akibatnya, kita amat minim sekali catatan-catatan sejarah kita tentang nenek moyang kita. Dikarenakan kita miskin dalam riset dan kajian bidang ini yang tentu saja miskin juga dalam urusan publikasinya.

2. Kondisinya diperburuk pada masyarakat yang iliterasi sehingga mereka pun tidak pernah menuntut dan men-trigger atau men-drive agar terbangun keinginan untuk mengetahui budayanya dan menjadikan itu jati dirinya.

Atas kondisi ini sesungguhnya kita amat miskin pertahanan budaya saat ini karena kita ndak punya percaya diri pijakan atas nilai budaya nenek moyang kita. Kita ndak punya nilai-nilai kebanggaan tentang nenek moyang kita membangun peradaban. Jika kita ada masalah seringnya solusinya malah mencontoh budaya import yang jadi pijakan solusinya.

Kita terombang-ambing dari silaunya atas ekspansi budaya Eropa dan Arab ke tanah air kita; baik itu mempengaruhi perilaku maupun mindset berpikir. Jika mau gunakan perkataan Soedjatmoko tentang “Ketahanan Budaya” maka ketahanan budaya kita jebol! Hidup kita saat ini amat terpengaruh mindset berpikir budaya import.

Mari kita lihat masa lalu nenek moyang kita?
Disaat Eropa dalam Jaman Kegelapan, disaat Arab baru bangkit dari jaman jahiliyah menuju kejayaan maka saat yang sama Sriwijaya pun membangun kejayaannya.

Saat itu Eropa apalagi Arab belum mengenal banyak teknologi pelayaran. Bangsa Viking yang konon bangsa pelaut Eropa dari Jerman dan Skandinavia mengekspansi Inggris dengan teknologi pelayarannya di tahun 1.000 ke atas.

Sriwijaya jauh sebelum itu armada dagangannya sudah melewati Laut Cina Selatan yang begitu amat luas. Bahkan saat itu Armada Dagang Sriwijaya mungkin satu-satunya atau bersaing ketat dengan Armada Cina. Jadi dalam konteks teknologi pelayaran nenak moyang kita jelas punya catatan sejarah gemilang.

Di Jawa, sebuah tatatan pemerintah yang makmur pasti terjadi. Sebuah Monumen semegah Borobudur dan Prambanan itu pasti hasil karya sebuah peradaban yang baik dan makmur rakyatnya. Tanpa itu maka tidak akan masyarakat mampu membangun peradaban sehebat itu.

Di Timur Indonesia, sebelum abad ke 14, para Pelaut Makassar dan Bugis mengembangkan teknologi Kapal Pinisi yang mereka berlayar dan melakukan perdagangan sampai ke Cina.

Jadi dalam catatan sejarah kita, sesungguhnya kita punya begitu banyak catatan tradisi yang gemilang.

KELEMAHAN kita: Kita tidak pernah mensosialisasikan hal tersebut.

Saatnya orang Indonesia bersama untuk:
1. Para antropolog, arkeolog, sejarahwan mempublikasikan catatan-catatan saintifik tentang nenek moyang kita dan nilai-nilai tradisi peradabannya serta pencapaiannya termasuk kegagalannya.

2. Para ahli sastra dan penulis membuat cerita-cerita sastra indah tentang hal tersebut.

3. Para komukis dan penulis cerita membuat cerita-cerita legenda komik yang berbasis pada hasil penelitian saintifik para ahli sejarah

4. Para program komputer dan multimedia membuat film-film animasi yang hebat tentang nenek moyang kita serta nilai-nilai luhur kestarianya serta membuat Game-Game dari Kerajaan masa lalu kita

5. Para sineas film, sutradara dan produser memproduksi film-film hebat selevel Braveheart, Gladiator, Master and Commander dan yang seperti itu.

6. Para pekerja seni pun mengembangkan terus kreografi tari nusantara serta lagu-lagu nusantara bahkan seperti pencak silat nusantara yang ini juga dikemas dalam diplomasi budaya internasional maupun diplomasi industri.

7. Para perancang mode pun membuat mode-mode yang jadi trend yang diinspirasi dari fashion mozaik budaya nusantara kita.

Dari sanalah maka kita jadi aware dengan nilai-nilai budaya nenek moyang kita dan menjadikan itu jati diri kita. Jadilah mindset berpikir dan perilaku kita bener-bener dengan penuh pride and dignity sesuai dengan jati diri budaya kita,

Anda bilang saya utopi? Yah ra popo, lah wong aku amat mencintai budayaku yang aku terdidik sebagai orang Minang Asli, hidup di Banten dan ditempa dalam Kawacandradimuka Universitas Gajdah Mada yang soul dan spiritnya Budaya jawa. Jadi, tentu saja aku berkeinginan itu semua selalu jaya menjadi jati diri masyarakatku.

#dariTepianLembahSungaiElbe

FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s