Saat Kedua Putriku Bertemu dengan Onkel Anies


Saat Kedua Putriku Bertemu dengan Onkel Anies Baswedan 😍😍😍
(Disclaimer: Niatku cuma sharing cerita yang kuanggap menginspirasi, tetapi jika menulis seperti ini dianggap politik partisan, maka dengan penuh kesadaran akan ku-gembok).

Kami pernah mendapatkan kesempatan emas, saat kedua putri jelitaku bisa begitu dekat bercanda dan berbincang dengan Anies Baswedan. Selama ini, mereka cuma mengenalnya dari ceritaku tentang bagaimana dulu Papanya punya teman yang oleh kedua Putriku disebut „Onkel Anies“ (Onkel in German, in English: Uncle).

Saat itu tahun 2016 pertengahan, Onkel Anies masih jadi Mendikbud ke Jerman tepatnya bertemu di KJRI Hamburg. Misinya yaitu memajukan Sekolah Kejuruan. Onkel Anies pun membangun kerjasama dengan Pemegang Keputusan Sekolah Vokasi/Kejuruan di Jerman (BIBB), Sekolah-sekolah Vokasi/Kejuruan Jerman untuk tempat guru magang, industri-industri tempat magang, IHK (Kadin-nya Jerman di beberapa Kota) serta tidak lupa mendapatkan komitmen dukungan ratusan Tenaga Ahli Jerman yang akan membantu Sekolah Kejuruan Indonesia dengan biaya realtif gratis (ini salah satu link beritanya):

http://www.dw.com/id/mendikbud-anies-baswedan-jajaki-kerjasama-pendidikan-vokasi-di-jerman/a-19365254

Lalu di hari-hari terakhir setelah Marathon meeting berhari-hari di berbagai kota di Jerman dimana aku ikut mendampingi, maka akhirnya tiba lah waktunya bertemu dengan masyarakat Hamburg. Kedua Putriku dan Bojoku pun hadir. Ini pertemuan kedua buat Bojoku dengan Mas Anies saat dulu sekali setelah mas Anies menikah dengan mbak Fery Farhati, aku memperkenalkan calonku (saat itu belum jadi bojo) pada mereka berdua.

Kembali ke pertemuan di Hamburg. Ini tentu pertemuan paling exciting bagi kedua putriku. Kedua Putriku selalu browsing di internet tentang cerita-cerita Onkel Anies. Si sulung membacakan repotasenya, si bungsu dengarkan sambil mereka kadang berdiskusi saling tanya. Ibaratnya, kayak yang paling tahu aja mereka tentang kebijakan publik 😊

Moment Emas pun terjadi, mereka bertemu dengan Onkel Anies. Si bungsu exciting langsung merangkul dan memeluk sesuai dengan sifat kanak-kanaknya yang saat itu masih berumur 7 tahun. Si sulung sudah agak besar 11 tahun, hanya memandang saat ngobrol dengan Onkel Anies dengan penuh terpesona. Bojoku memandang dengan sumringah saat kedua putrinya bisa belajar langsung dari Onkel Anies.

Apa yang menarik setelah itu? Saat Onkel Anies diberhentikan mendadak jadi Menteri, si sulung yang sudah di Gymnasium diam sedih. Dia agak kecewa. Dia membayangkan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di Indonesia akan sebagus Berufschule Jerman. Si sulung sudah cukup tahu apa itu arti pemimpin, kualitas kebijakan dan harapan. Dia menaruh harapan kalau Onkel Anies kelak bisa membuat Berufschule (selevel SMK) yang bagus di Indonesia.

Saat Onkel Anies maju ke Pilkada, si Sulung berbinar. Dia memimpikan Onkel Anies jadi pemimpin Jakarta yang bisa membuat Kota Jakarta seindah Kota-Kota yang dia kenal dan tinggali yang diawali dengan Berlin, München, Frankfurt, dan akhirnya Hamburg. Dia memimpikan „die arme Leute“ (orang miskin) di Jakarta diurus dan dibela seperti yang dia lihat di Hamburg. Orang-orang miskin dibantu dan dilindungi.

Akibatnya parah di aku. Si sulung begitu cerewet bertanya aku:
“Papa, Reklamasi itu buat „Unwelt kaputt“ (lingkungan rusak) dan Nelayan ndak bisa cari makan Papa, Onkel Anies bisa berhentiin Papa?”
“Papa, DP 0 persen itu artinya apa Papa? Untuk apa Onkel Anies harus buat DP 0 persen Papa?”
“Papa, Bagaimana Onkel Anies bisa berantas „Korruption“ Papa?”
“Papa, itu emangnya kenapa dengan Pasar Tanah Abang Papa?”
“Papa, bagaimana Onkel Anies membantu „die arme Leute“ (orang miskin) di Jakarta Papa?”

…dst, dst, dst. Sampai aku judek menjawabnya karena 1 pertanyaan bisa diskusi panjang 1 jam lebih. Belum si bungsu ikut dengerin dan kalau ndak ngerti dia akan ngamuk minta dijelasin lebih detail lagi sesuai dengan imajinasinya. Jian, ra mudah menjelaskannya…😍

Tapi saat ini, setelah Onkel Anies membuat berbagai macam kebijakan dan aksi nyata dalam Tempo amat singkat kurang dari 3 bulan, tugasku mulai ringan menjelaskan ke si sulung, tentu saja si bungsu akan ikut jadi pendengar yang baik. Begini jawabanku ke mereka:

Onkel Anies untuk melawan Korupsi sudah buat KPK (Komis Pencegahan Korupsi) Jakarta. Biar kalau ada korupsi akan dilawan oleh para Jagoan di KPK. Kujelaskan bagaimana tokoh Bambang Widjojanto adalah orang hebat, jujur tapi dulu di-„kriminalisasi“ dan difitnah orang-orang jahat, lalu sekarang oleh Onkel Anies dimintakan tolong untuk kembali melawan korupsi. Aku jelaskan bagaimana Letjend (Purn) Oegroseno adalah Jenderal Polisi yang amat jujur yang dimintakan tolong oleh Onkel Anies untuk memberantas korupsi.

Aku jelaskan saat Onkel Anies jadi „Bürgermeister“ Jakarta (baca: Gubernur, meskipun boleh juga diartikan Walikota atau Bupati), maka reklamasi saat ini diberhentiin oleh Onkel Anies. Onkel Anies melarang lanjutkan reklamasi sampai „berantem“ dengan ada Menteri yang ancam-ancam Onkel Anies. Tapi saat Onkel Anies terus maju, si Menterinya sekarang diam aja. Mungkin sadar dia yang salah, —begitu penjelasanku.

Lalu Onkel Anies sudah ketemu dengan Bank (baca: BI) untuk buat rumah murah. Buat „arme Leute“ (orang miskin). Yah sedang dibuat „Planung“-nya supaya „arme Leute“ juga punya rumah di Jakarta dengan DP 0 persen. Ini susah dan semoga Onkel Anies bisa. Kita mesti beri Onkel Anies waktu karena Onkel Anies baru jadi “Bürgermeister”.

Terus Onkel Anies juga buat Pasar Tanah Abang yang amat ramai jadi rapih dan teratur seperti kalau kita lihat Pasar-Pasar Rakyat di Jerman semuanya teratur bersih. Lihat nih gambar-gambar Pasar Tanah Abang setelah Onkel Anies jadi „Bürgermeister“. Sambil kubandingkan dengan gambar Pasar Tanah Abang sebelum dan sesudah Onkel Anies jadi Bürgermeister.

„Ho ha Papa!!!, das ist doch sehr schönnnn (sangat indah)…! Ausgezeichnet (awesome)!“, kata si sulung melihat Pasar Tanah Abang dengan terbelalak.

Lalu mulai lah si Sulung searching berita (kudampingi tentu saja) dari FB Anies Baswedan tentang Program Nikahan Massal di Tahun Baru untuk „arme Leute“ (orang miskin), juga Program Kasih Kartu Jakarta Pintar buat anak sekolah, lalu banyak Tari-Tari Daerah yang menghibur masyarakat Jakarta, dll, dll…

Apalagi saat dia baca berita Danau Sunter bisa untuk main Sky seperti dia juga pernah main olah raga air di Hamburg, dia lalu berpikir akan bisa buat presentasi dalam Pelajaran Geografi di depan teman-2 kelasnya. Kebetulan sekolah si sulung adalah Bilingual (Inggris dan Jerman). Ada mata pelajaran tertentu yang diajarnya 100% berbahasa Inggris seperti Geografi dengan Guru yang Native Speaker English tapi Keturunan Singapura.

Nah, di pelajaran Geografi ini yang bekomunikasinya dalam B. Inggris dia coba mengatakan ada sisi-sisi bagus Jakarta dibandingkang Hamburg dan Singapura. Meskipun Jakarta masih kalah dari Singapura dan Hamburg tapi sekarang Jakarta di bawah Bürgermeister sedang berubah lebih baik. Salah satunya punya budaya bagus yang Singapura dan Hamburg tidak punya, yang ini Foto-Foto acara seni yang diadakan Onkel Anies di-save di-foldernya untuk bahan presentasi.

Kulihat saat ini si Sulung (yang saat ini kelas 7 Gymnasium) kayaknya sedang sibuk melalukan riset untuk membuat tulisan kira-kira tentang “Jakarta sebuah Harapan untuk hari Esok — Jakarta: A Hope for our Future” dengan penuh semangat dan optimisme. Kayaknya dia ingin presentasikan di kelasnya bahwa Jakarta itu Pasarnya, itu danaunya bisa seindah Hamburg juga. Paling tidak si sulung coba belajar memotret sisi-sisi positifnya.

Lalu saat kutanya: „Tapi Schatzi (Sayangku), di jakarta masih ada banyak „arme Leute“ lho, lantas bagaimana kamu paparkan jujur pada teman-temanmu di kelas?“

Jawab si sulung: „Papa, itu betul. Das ist doch Fakten Papa (itu memang fakta). Jakarta masih banyak yang miskin sekali. Ich habe auch in Galileo TV gekuckt – saya juga lihat di Galileo TV (itu tuh Kanal TV Pendidikan anak-anak membahas semua tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan buat anak) bahwa Jakarta banyak orang miskin. Ada keluarga Nelayan yang punya anak 3 dengan Nenek dan Papa-Mamanya, ber 6 Papa tinggalnya di 1 kamar 3×4 meter. Dapurnya diluar, lalu WC-nya bersama jauh dari rumah Papa. Mereka kasihan sekali! Onkel Anies harus bantu mereka Papa. Papa harus kasih tahu Onkel Anies“.

Hmmm… lalu aku pun ajak si Sulung dan si Bungsu berdoa semoga saja semua orang di Jakarta dan di Indonesia tidak ada lagi yang miskin. Tugas Onkel Anies belum selesai, begitu juga tugas Pak Jokowi juga belum selesai.

Kita berdoa agar mereka semua sehat. Kita berdoa semoga di Indonesia tidak banyak lagi orang miskin. Si Sulung pun mengangguk-angguk sementara si bungsu cuma mengikuti anggukan kakaknya…😍

#dariTepianLembahSungaiElbe

Iklan

One thought on “Saat Kedua Putriku Bertemu dengan Onkel Anies

  1. Salam. Wah, kedua anaknya kritis sekali. Selalu jaga semangat dan mimpi untuk Indonesia hebat. Sy yakin kelak besar, anaknya menjadi “orang besar” seperti Papa dan Onkel-nya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s