Tool Teknologi, Metode Manajemen dan Mindset Budaya!


Tool Teknologi, Metode Manajemen dan Mindset Budaya!

2004 Aceh gempa. Tragedi amat memilukan dengan Tsunami begitu meluluhlantakkan. Ratusan ribu masyarakat Aceh menjadi korban. Sebagian Pakar menyesali kenapa di Aceh tidak dipasang teknologi EWS (Early Waring System) untuk pemberitahuan Tsunami, termasuk seluruh pantai di Indonesia.

Iya, aku setuju Teknologi itu penting, tapi jika saja misalkan teknologi itu ada lalu Warga Aceh diberitahu akan ada Tsunami maka anda bisa bayangkan seperti apa Chaos-nya?

Jadi, teknologi aja sama sekali TIDAK cukup meskipun kita mutlak butuh!

Lihat lah 2006 Yogya Gempa Dahsyat. Kota Yogyakarta itu mungkin lebih dari 20 km dari bibir pantai garis lurus. Aku saat tahu Yogya gempa maka aku intensif telpon2 dengan bojoku dimana putriku baru berumur 10 bulan. Tiba-tiba Mbakyu-nya Bojoku dan Suaminya (beserta anak lelakinya yang balita) datang dengan panik, lalu teriak ada Tsunami. Ayo ngungsi!

Mbakyu bojoku dengan cepat ambil putriku yang 10 bulan lalu dengan suaminya serta anak lelakinya berempat, lalu nyalahkan motor melaju (yang baru aku tahu mereka ngebut menuju Kaliurang). Bojoku juga amat panik karena diluar sana orang lari-2 ketakutan pada teriak ada Tsunami. Bahkan ada sempat ada tabrakan kecil di depan rumah karena pada panik.

Segera Bojoku dan Ibunya serta adik lelakinya kunci rumah lalu melaju ke Jembatan Layang di atas Janti. Bojoku lalu kontak aku di atas jembatan layang. Dia nangis ketakutan karena dia ndak bisa nemukan putri kita dimana, karena dibawa lari ngungsi oleh mbakyunya. Dia bilang Jembatan Layang penuh semua orang ketakutan.

Aku yang ada di Jerman, tidak merasakan paniknya mereka apalagi karena trauma Aceh, tentu cara pikirku rasional sekali. Aku bilang TIDAK MUNGKIN Yogya Tsunami. Itu lebih dari 20 km jika ditarik garis lurus dari pantai. Jika Yogya kena Tsunami maka dunia itu kiamat. Pulau Jawa sudah terbelah. Tsunami yang bisa mencapai Yogya itu artinya di bawah bumi kita itu “somplak” sehingga bisa sebabkan Tsunami seperti itu. Jika sampai itu terjadi, ndak ada yang bisa selamat.

Sudah ndak usah panik, pulang aja. Jembatan Layang Janti ndak bisa selamatkan apapun kataku menenangakan.

Back to topic: Lantas apa yang dimaknai dari kasus Yogya ini?
Jawabnya sederhana: sudah jelas di Yogya itu “TIDAK mungkin” ada Tsunami, tapi ketika ada yang teriak Tsunami maka itu kota jadi Chaos! Nah, bisa anda bayangkan jika di Yogya itu pinggir pantai seperti Aceh lalu Teknologi Canggih EWS kasih tahu bahwa dalam 30 menit lagi ada Tsunami?
Itu bisa luar biasa chaos dan berantakannya!

Nah, disini lah pentingnya Metode Manajemen yang efektif untuk menghadapi krisis. Bagaimana dibangun 1 komando, didistribusikan informasi dengan amat cepat karena berpacu dengan waktu serta tidak membuat panik.

Dibuat kanal informasi yang akurat tanpa simpang siur jadi masyarakat punya trust atas validitas informasi. Setelah itu disusun prosedur cara bereaksinya secara cepat tanpa membuat chaos. Ini masalah metode manajemen menghadapi krisis!

Cukupkah? TIdak, ada lagi yang harus diselesaikan yaitu cara pandang dan cara sikap seluruh masyarakat secara kolektif dan bersamaan dalam menghadapi krisis. Masyarakat harus dilatih dan diajarkan cara merespon ancaman bahaya yang tidak secara bersamaan mereka merespon tanpa panik.

Prosedur penyelamatan baku harus dilakukan pelatihan berulang-ulang jadi masyarakat tahu dan terbiasa melakukannya sehingga jika masyarakat saat di-“Warning” akan bereaksi secara proporsional tapi cepat.

Ini mirip latihan Kebakaran jika anda lihat di film2 Hollywood dimana anak2 sekolah diajarkan untuk merespon secara benar atas sebuah peringatan ancaman bencana. Ini mirip juga film-film barat tentang Perang Dingin, dimana masyarakat diajarkan berulang2 bagaimana cara merespon jika ancaman bom Atom datang.

Ini semua akan membentuk sebuah mindset yang benar dalam mensikapi ancaman bahaya pada masyarakat sehingga mereka benar2 tahu cara melakukannya dan punya kesadaran bersama untuk melakukan antisipasi secara benar tanpa membahayakan diri sendiri atau pun orang lain.

Jadi, punya teknologi canggih itu baik, hanya teknologi itu cuma tool belaka, tanpa metode yang benar menggunakannya maka tool itu malah bisa membahayakan, tanpa cara pikir dan perilaku yang benar maka tool itu tidak berguna sama sekali.

Dalam kondisi apapun kemajuan sebuah masyarakat itu akan memberikan manfaat jika kita berhasil mensinerjikan antara Teknologi, Manajemen dan Cara Bersikap dan Berpikir.

#dariTepianLembahSungaiElbe

Iklan

One thought on “Tool Teknologi, Metode Manajemen dan Mindset Budaya!

  1. benar sekali meskipun sudah ada EWS yang canggih pun, masyarakat Indonesia yang bermukin di area rawan bencana juga perlu dibiasakan

    perihal bencana gempa dan tsunami , atau bencana2 lainnya menurut pengalaman saya di Jepang

    masyarakat di sini khususnya di Tokyo sudah siap dari yang masih anak-anak sampai yang tua

    bahkan di beberapa kasus saat orientasi karyawan baru, terutama yang non jepang akan disuruh training di simulator gempa disuruh merasakan goncangan gempa tohoku 2011 milik kantor pemadam kebaran. Hasilnya mereka berharap gempa seperti tohoku 2011 tidak akan terjadi lagi. Hehehe.

    pengalaman lain juga waktu di taiwan yang langganan taifun. orang2 di sini juga dipersiapkan oleh pemerintahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s