Ketika Ahokers Gebukin di Tempat yang Salah


Ketika Ahokers Gebukin di Tempat yang Salah

Panik dengan jurus “serampangan” sampiyan maki-maki di medsos sambil nuduh2 ini kebangkitan Islam Radikal di Indonesia. Saat Jagoan sampiyan kalah di pilkada DKI maka sampiyan tuduh ini kekalahan karena isu SARA. Kekalahan karena pemilih yang tidak cerdas terdoktrin dogma Islam radikal, dan tuduhan sejenis itu.

Jadilah semua orang yang tidak membela jagon sampiyan akan di-stigma-kan termasuk Islam Radikal, kadang tuduhannya “Penganut Bumi Datar!” 🙂

Lalu saat jagoannya dihukum penjara oleh pengadilan yang notabene Hakim yang ngadili itu faktanya mempunyai jejak rekamnya selalu jujur, idialis dan amat bersahaja dalam hidup, sampiyan kembali secara serampangan nuduh ini bangsa yang dipenuhi umat Islam intoleran. Jadilah langsung di-cap-kan ini seluruh anak bangsa yang intoleran.

Aku berpikir sampiyan dengan para pendukung si Jagoan ini payah betul memetakan masalahnya secara jernih dan akurat. Jadinya, seperti jurus dewa mabuk gagap membaca realitas —bahwa umat Islam di Indonesia yang faktanya adalah Islam moderat— malah sampiyan maki2 seakan sampiyan lah yang paling benar sendiri.

Ndak sadar dibalik perilaku maki2nya merasa benar sendiri justru sampiyan semakin bising dalam kesepian dan kesendirian, yang semakin dijauh para mayoritas moderat. Para mayoritas moderat meskipun diam tidak membalas makian sampiyan, tapi semakin jaga jarak dengan sampiyan.

Apa tidak paham lihat hasil penelitian dari Assosiasi Lembaga Riset se Indonesia (Bukan hasil 1 lembaga riset tapi seluruh Lembaga Riset yang tergabung dalam Assosiasi tsb) bahwa kekalahan Jagoannya itu TIDAK indentik dengan Islam Radikal.

Lihat Tabel-2 terlampir dibawah ini, sorces link: https://www.youtube.com/watch?v=K1JZ6aFJo5s

Tabel 1 (atas)
Pahami Fakta ini para pemilih di Pilkada DKI itu 82,7% TIDAK mendukung sistem pemerintahan radikal.
Hanya 9,8% yang inginkan sistem Islam Radikal dan 7,5% tidak menjawab.

ARTINYA: Para pemilih DKI itu MAYORITAS atau hampir 83% adalah kelompol MODERAT!

Tabel 2 (bawah), pahami ini:
1. SEBAGIAN BESAR alias mayoritas mutlak pendukung Anies-Sandi itu adalah juga Pendukung DEMOKRASI PANCASILA. Begitu juga dengan pendukung Ahok-Djarot sebagian besar itu pendukung Demokrasi Pancasila!

Artinya: Bangsa ini mayoritas MUTLAKnya adalah Moderat!

2. Memang di kelompok Anies-Sandi ada minoritas Islam Radikal yang mendukungnya tapi itu KECIL.

3. Hanya di kelompok Ahok-Djarot pun ada minoritas Liberal Barat yang mendukungnya tapi itu juga KECIL.

KRITIKku pada yang nuduh2 Indonesia itu sekarang mayoritas Islam INTOLERAN, —hanya karena sang Jagoannya kalah telak bahkan di persidangan itu dinyatakan salah menghina Islam—, itu tuduhan yang salah alamat.

Penyebab jagoan sampiyan kalah akan para pakar atau siapapun bisa berdebat panjang penyebabnya. Banyak yang mengatakan karena Jagoanmu tidak bisa belajar menggunakan mulutnya secara baik.

Ilustrasinya pada kita semua aja deh, lah wong sampiyan kerja bagus tapi ngomong sama boss ngacok bisa dipecat kok. Apa lagi ngomong kasar ke rakyat yang perasaan mereka sensitif, mau bagus bagaimana pun yah mereka wegah lihat wajah dengar omongan sampiyan maka logis jika tidak pilih sampiyan. Lah klo mereka ndak suka dengan cara sampiyan komunikasi mosok mau tuduhkan ini kebangkitan Islam Intoleran?

Jagoan sampiyan di penjara itu melalui persidangan yang hakim2nya adalah hakim2 yang punya jejak rekam kredibel: amat tegas dalam menyidangkan kasus2 korupsi, dan hidup amat idialis bersahaja. Klau ndak percaya googling aja jejak rekam hakim yang sidangkan kasus jagoanmu itu. Lha klo omongan kasar jagoan sampiyan diyakini Hakim menghina mosok mau dituduhkan ini kebangkitan Islam Intoleran?

Isi tulisan sampiyan dari mulai mau Kampanye Pilkada 7-8 bulan lalu sampai hari tetap aja gebukin tentang kebangkitan Islam Radikal. Sibuk banget bicara isu agama sambil bilang2 sedang di-dzalimi oleh agama dengan berbagai isu SARA. Iya isu SARA ada bersileweran di masyarakat.

Lah tapi lawan dari Jagoanmu malah ndak pernah bicara isu agama kok. Dia sibuk promosi DP 0 persen, Berbagai Macam Kartu Plus, batalkan reklamasi, yang itu semua ndak ada isu agama yang dibicarakan: semuanya janji2 program.

Yah jelas saja, para konstituen terpikat memilih lawan dari jagoan sampiyan dari pada jagoan sampiyan isinya cuma sibuk “berpantun” isu agama meladeni pada Islam Radikal. Akibatnya, oleh para Radikal jagoan sampiyan babak belur sendiri dihajar isu SARA. Parahnya, malah yang moderat mayoritas yang ndak suka konflik dan senang harmonis malah meninggalkan jagoan sampiyan.

Tapi saat jagoan sampiyan kalah malah dituduhkan bahwa ini kemenangan para radikal Islam. Padahal karena ini salah strategi komunikasi jagoan sampiyan yang sibuk meladeni para Islam Radikal ngurusin isu SARA. Yah oleh para Islam Radikal dengan senang hati jual-beli pukulan dilayani itu si jagoan sampiyan jadi semaput. Buat mereka bisa membuat semaput jagoan sampiyan diyakini itu surga imbalannya.

Ini lutju, di kelompok Jagoan sampiyan itu adalah kelompok Liberal Barat yang amat kecil jumlahnya. Di kelompok yang sampiyan serang ada kelompok Islam Radikal yang jumlahnya setara kecilnya dengan kelompok Liberal Barat di tempatmu.

Artinya baik kelompok sampiyan maupun kelompok yang sampiyan maki2 di medsos itu MODERAT mayoritasnya. Tapi saat jagoan sampiyan kalah kenapa harus gunakan gaya komunikasi menuduh bangsa ini adalah bangsa Intoleran?

Sampiyan semua itu gebukin isu yang salah! Sampiyan salah ambil ICON seakan Jagoan Sampiyan itu ICON toleransi sehingga kekalahan jagoan sampiyan dimaknai Indonesia dikuasai radikal. Padahal kekalahan jagoan sampiyan itu tidak lebih kekalahan Aktor Politik yang KALAH CERDAS dari lawannya saat berkomunikasi dengan konstituennya. Jagoan sampiyan itu sibuk bicara Isu SARA ladeni para Islam Radikal sementara lawannya dengan cerdik ambil hati konstituen dengan bicara janji program.

Jadi, ini cuma kalah politik biasa aja. Jagoan sampiyan terjebak melayani “jual-beli” pukulan isu SARA dengan kelompok radikal sehingga jagoan sampiyan ditinggalin oleh kelompok mayoritas moderat yang ndak lebih suka harmonis dan ndak suka bising.

Ndak usah lah bangun2 tuduhan bangsa ini makin intoleran. Fakta MAYORITAS MUTLAK bangsa kita dan para pemilih di DKI itu adalah para pendukung DEMOKRASI PANCASILA.

#dariTepianLembahSungaiElbe

Iklan

3 thoughts on “Ketika Ahokers Gebukin di Tempat yang Salah

  1. Sedikit memang, tapi berpengaruh..lalu apa anda bisa jelaskan soal twit wasekjen MUI Tengku Zulkarnaen yang mempertanyakan ttg apakah NKRI layak utk di pertahankan? Masalahnya bukan pd jumlah tapi pd pemikiran org2 yg berpengaruh, klo anda tanya orang2 yg di angka itu pasti mereka akan jawab tidak setuju, ttp pd NKRI, tetapi mlihat kenyataan isu yg dihembus dan diteriak2an oleh mereka yg bersorban adalah mngerikan, dan itu fakta, anda tidak bisa berkutik karena ketua tim pemenangan, Eep Saiful Fatah pun mengamininya, ini yg sy sebut sebagai primordial marketing, mereka yg berorasi adalah hate spin agent,dan masyarakat adalah produknya, dgn ketakutan masif soal agama. Ini ada persentasenya dan beberapa kawan sy yg memilih anies pun setuju ini, mreka memilih krn faktor agama, bukan kinerja.
    Toh isu pilih pemimpin islam semakin menguat sejak insiden pulau seribu.

    Lalu kenapa yg “dituduhkan” adalah radikal? itu menurut sya muncul secara alamiah, krn para orator muncul dr garis Islam yg memang radikal: FPI dan HTI. Ada yg lain? Aa gym mungkin? Aa gym tidak seberapa pengaruh dibanding dua pertama itu, Siapa pentolan yg selalu ada di spanduk dgn kata2 pilih pemimpin islam? Nah, Mereka sendiri yg melabelkan Anies-Sandi identik dengan Islam radikal, bung. Sehingga secara tdk sadar masyarakat pemilih ahok akan mengkaitkan kemenangan Anies-Sandi sbg kemenangan Islam radikal, bgitupun ketika vonis Ahok dijatuhkan. Ini fakta.

    Sy setuju jika ahok kalah karena strategi nya hnya bertahan. Bukan mengembangkan isu nasionalis sejak awal, andaikan waktu bisa diputar kembali dan tdk ada insiden kepulauan seribu, sy masih yakin Ahok menang satu putaran.

    Salam

    XXXXX

    Salam juga…

    Insiden seperti Eep yang anda tulis di Kubu Anies itu terjadi, sama dengan insiden Video resmi Kampanye Djarot yang bawa isu marketing primordial “Gayang Cina” dengan mengggambarkan Umat Islam marah2 sehingga jika tidak milih Ahok-Djarot akan rusuh karena pilihan diluar itu pilihan rusuh. Nah, insiden2 model seperti kadang sekali banyak di kita diperbesar pakai amplifier seakan ini lah kebenarannya.

    Hanya, data2 yang disajikan ternyata Islam Moderat yang dominan menentukan pilihan dalam koridor Pancasila. Jadi, takutnya banyak di kita itu melakukan “Cherry picking”, mengambil 1-2 insiden lalu kita buat kaca pembesar, sementara core sesungguhnya sama sekali berbeda faktanya dengan kebenaran insiden tadi. Artikel yang saya tulis tujuannya memberikan gambaran fakta versi Asosiasi Lembaga Riset Indonesia bahwa pemilih Jakarta itu rasional dalam koridor idiologi Pancasila saat menentukan pilihan Pilkada.

    Salam Hangat

  2. Setuju Bang, Justru Ahok malah ngasih panggung buat FPI gara2 ngomong Al Maidah, lawan yg dulunya kecil jadi Besar. Ahok harusnya bisa belajar dari walikota solo sekarang, non muslim tapi bisa kepilih di mayoritas muslim, tanpa melukai siapapun

    XXXXX

    Iya benar, FPI benar2 dapat untung karena Ahok terpeleset di Al Maidah. Jadi, dia punya isu leading untuk semakin menunjukkan eksistensinya. Semoga yang moderat mayoritas ke depannya bisa meredam ini semua.

    Salam Hangat

  3. Menurut saya kemenangan pak Anies di pilkada kemarin lebih karena besarnya gelombang anti-Ahok, bukan karena popularitas dan program kerja pak Anies. Setelah segala macam kontroversi yg menimpa Ahok, bisa bilang di pilkada kemarin mw lawan siapa aja Ahok pasti kalah (asal bukan Ahok). Terbukti sampai saat ini social media cuma penuh debat kusir antara pro ahok vs anti ahok, sedangkan sang gubernur baru bak hilang ditelan bumi..

    Pak Anies wajib cemas dengan kondisi ini, dia harus sadar kalau basis pendukungnya lemah. sekali ia salah langkah (tersandung korupsi atau kasus2 lainnya ) tak akan banyak membela Anies apalagi sampai mengirim ratusan bunga.

    XXXXX

    JARANG sekali dalam sejarah Pilkada di Indonesia yang beratus kali, plus Pilpres 4 kali itu PETAHANA KALAH TELAK kecuali pada masa Mega dikalahkan SBY. 80% Petahanan itu memang, dan kalau pun kalah itu tipis seperti Rano Karno di Banten, kalah amat sangat tipis. Kekalahan Ahok yang amat telak, bahkan kemenangan Anies itu jauh diatas Jokowi saat memang lawan Foke, adalah bukti nyata pendukung Anies amat kuat. Cuma mereka umumnya mayoritas diam yang tidak berisik di medsos.

    Lalu klo sekarang ANies diam apakah tanda dia lemah? GUbernur baru terpilih yang belum jabat memangnya harus suruh ngapain? Disuruh tetap “Cawe-Cawe” seperti masa kampanye? Yah sudah menang yah tidak lagi kampanye dan banyak bicara, tapi mulai persiapan kerja serius dalam sunyi. Itu sebabnya dibentuk Tim Sinkronisasi untuk mulai bergerak untuk bekerja. Berita Tim Sikronisasi bekerja mulai terlihat.

    Salam Hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s