KEARAH MANA BIDUK PERAHU KOMPAS? *Kompas Gramedia Group, Perusahaan Media atau Properti?*


Jpeg

KEARAH MANA BIDUK PERAHU KOMPAS?
*Kompas Gramedia Group, Perusahaan Media atau Properti?*

Bukan rahasia kalau sebagai korporasi, Kompas Gramedia Group sedang guncang. PHK karyawan sudah dilakukan selama beberapa bulan belakangan. Karyawan terbesar yang di-PHK umumnya dari divisi majalah. Sebagian lain dari unit penerbitan buku dan beberapa unit lain. Sebagian kasus tidak terkelola mulus malah jadi ramai, diantaranya ini (https://goo.gl/TbRqPv) dan juga ini (https://goo.gl/8qOZCS),

Sebenarnya ini bukan fenomena baru. Semua perusahaan media menghadapi tantangan bisnis dengan tumbuhnya media sosial dan teknologi baru.

Bagi Kompas, hal ini terjadi seiring pula dengan beberapa faktor internal. Diantaranya adalah:
1. Mundurnya Pak Jacob Oetama dalam pengendalian bisnis, mundurnya Agung sebagai CEO dan sekarang dipegang penuh oleh Lilik Oetama.
2. Kesalahan strategis dalam pengelolaan TV7 dan keterlambatan dalam investasi penggantinya, yaitu KompasTV.
3. Keberhasilan Kompas dalam mengembangkan sayap properti.

Tiga faktor ini kait-mengkait menjelaskan baik rasionalisasi di grup media maupun pengembangan fokus pada bisnis properti dari grup ini. Rasionalisasi karyawan memang tak terelakkan karena bisnis media harus diformat ulang dalam konteks sekarang ini. Perkembangan media sosial dan teknologi benar-benar mengubah lanskap bisnis media dan mengacaukan investasi besar-besaran Kompas dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai ilustrasi adalah kasus TV7. Dulu mereka tidak sepenuhnya percaya dengan masa depan televisi ketika mengembangkan TV7. Di tengah jalan mereka jual ke TransTV. Namun ketika menyadari bisnis TV menarik, mereka masuk lagi dan investasi besar-besaran di KompasTV. Namun sudah terlambat, dunia TV di Indonesia sudah dipenuhi dengan pemain-pemain besar dan matang.

Mereka juga gagu ketika mengembangkan media online. Ketika detikcom dan beberapa media online berkembang dramatis, mereka baru mengikutinya dengan Kompascom. Rumitnya konservatisme Kompascetak selalu terbawa dalam Kompascom sehingga mereka gagap lagi dengan tumbuhnya media online baru semacam Tirto dan Kumparan.

Sisi baiknya mereka mendapatkan keuntungan besar dari bisnis properti. Grup hotel mereka, baik Santika maupun Amaris berkembang baik. Grup inilah yang menyumbang keuntungan terbanyak sekaligus menambal kerugian dari beberapa unit di grup media mereka.

Siapa yang berada di belakang grup properti Kompas ini? Ialah Lilik Oetama yang kemudian ditunjuk sebagai pimpinan seluruh Kompas Gramedia Group. Masuknya Lilik di pucuklah yang menggeser fokus bisnis KKG dari media ke properti, sesuatu yang wajar mengingat latar belakang bisnisnya serta dari sisi sumbangan keuntungan bisnis. Itu pula yang membuat Agung Adiprasetyo kemudian mundur oleh perbedaan visi ini.

Jadi menjelaskan mengapa Kompas sekarang perspektifnya condong pada kelas elit agak mudah dilakukan bukan? Apalagi ketika Jakarta Post, misalnya, dan berbagai media lain mengangkat terus-menerus soal reklamasi, Kompas tetap mendukung reklamasi.

Buat Kompas, properti adalah masa depan. Jadi harga tanah layak terus digoreng? Ups.

#dariTepianLembahSungaiElbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s