Bus Patas: Jalan Tol!


Bus Patas: Jalan Tol!

Suatu ketika aku pulang ke tanah air, kayaknya itu kepulangan di tahun 2006. Kesukaanku di masa lalu kuulangi. „Jalan-jalan ke Jakarta; mau ke Tanah Abang, Pasar Senen, Blok M, dll ah, naik angkutan umum Patas AC“, —kataku dalam hati.

Aku kangen rasanya kembali naik angkutan umum di Indonesia. Sudah berapa tahun rasanya aku ndak naik bus ke Jakarta pikirku dalam memori indah nostalgia masa lalu.

Pagi-pagi sendirian dari Cilegon, setop Patas AC (Nama Bus ndak usah kutulis yah 🙂 ). Saat itu hari Senin pagi. Duduk tenang di bangku yang masih kosong. Lalu ndak lama kemudian masuk Tol menuju terminal Serang. Masih berjalan biasa, normal…

Selepas Terminal Serang, dan masuk Tol kembali, tiba-tiba spot jantung. Kaget dan panik. Sudah lama ndak istighfar tapi saat itu rasanya aku setengah berteriak istighfarnya. Di tengah jalan Tol, bus dengan santainya berhenti untuk naikkan penumpang!

Jantungku berdebar seperti naik „rollercoaster!“ Begitu terus berulang-ulang berhenti di tengah tol sampai bus Patas penuh sesak. Berbagai bau pun di pagi hari itu menjadi amat semerbak. Penuh sesak separti Ikan Pindang, keluhku dalam hati…. 😀

Aku tadinya menggerutu ndak karu-karuan, akhirnya tertawa terbahak-bahak: “Welcome to the jungle”. Untuk tahu keteraturan sebuah negara maka lihatlah perilaku Transportasi Publik di Jalan Rayanya. Jika di jalan raya yang taruhannya nyawa saja berantakan maka percayalah dalam pengelolaan birokrasinya jauh lebih amburadul 🙂

Hanya saat itu adalah saat yang tepat untuk berdoa. Bukan berdoa karena bus Patas penuh sesak dengan berbagai keluh kesah tapi berdoa semoga ini bus tidak diseruduk dari belakang oleh Truk saat berhenti mendadak di jalan tol untuk ambil penumpang.

Ah aku lupa bahwa aku sedang tidak duduk di atas bus dari Saarbrücken Kota Ujung Barat Jerman menuju Perancis atau Bus kota di Hamburg kala itu. Aku berada di atas transportasi negeri indah rayuan pulau kelapa.

Tapi gerutu, panik dan rasa takut pun perlahan hilang berganti bimbang dan galau. Kulihat penumpang yang naik para pekerja buruh lepas yang ingin menuju Jakarta untuk menyambung hari.

Ah, mereka jelas butuh transportasi untuk mengejar rejeki di Jakarta. Mereka butuh bus ini. Hanya, haruskan perlu „bertarung“ mempertaruhkan nyawa untuk mengantarkan mereka-mereka ini menjemput rejekinya?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s