Aku berhutang pada Jerman dan maafkan aku pernah su’udzon padamu…!


Aku berhutang pada Jerman dan maafkan aku pernah su’udzon padamu…!

Dengan rasa nasionalismeku yang terpendam, kupaksakan dari jauh mencoba memberikan dedikasiku buat tanah air, baik sebagai pribadi maupun sebagai kapasitasku Ketua Umum IASI (Ikatan Ahli Sarjana Indonesia Jerman).

Jelek2 gini toh tetap berusaha membantu tanah air: Membantu Kerja Sama IT-Outsourcing agar Perusahaan IT Indonesia di bawah Indoglobit dapat tender bisnis dari Jerman, membantu LAPAN mendirikan Indonesian Aeronautics Engineering Center, membantu Kemendikbud memajukan sekolah Kejuruan, membantu Pengiriman ratusan Professor Jerman ke Indonesia secara “gratis” kerjasama dengan SES Jerman, membantu proyek Pembangunan Training Center Sekolah Kejuruan untuk anak Yatim Piatu di Sulawesi yang dibiayai Pemerintah Jerman (CIM dibawah kementria Pembangunan Ekonomi Jerman BMZ), membantu Universitas di Indonesia agar kerja sama dengan industri2 dan universitas2 Jerman. Sekarang mulai juga sibuk membantu beberapa Universitas2 di Indonesia agar bisa Akreditasi Internasional. Itu untuk Indonesiaku.

Tapi sudah lama muncul pertanyaan di kepalaku: “Apa yang telah aku berikan pada Jerman atas begitu banyak yang telah diberikan Jerman padaku?”
Aku cuma bisa diam… Aku tidak pernah memberikan apapun buat Jerman. Yang kuberikan cuma aku bayar pajak!

Jadi, sekolah dan training gratisku di Jerman yang kalau itu bayar itu sudah pasti diatas seratusan ribu Euro, anak-anakku sekolah gratis, berobat dijamin asuransi, beserta semua fasilitas kenayaman yang kumiliki ini dll, dll… kuterima selama belasan tahun. Yang kuberikan timbal baliknya adalah cuma Pajak.

Bahkan malah ada masa aku sempat “salah paham” pada Jerman yang di hatiku pernah tersimpan tuduhan: “negeri Barat yang pasti Phobi dengan agamaku” (ah sebuah sikap suudzon yang kelak, hari ini, aku amat sesali sekali kenapa aku punya pikiran seburuk itu yah? 😦 ).

Jerman yang makmur ini memang tidak menuntut banyak dariku. Mereka sudah kecukupan amat sentausa sehingga bayar Pajak saja sudah cukup buat mereka.

Cuma aku pikir: ndak adil juga yah atas semua yang kuterima dari Jerman. Ada ketidaknyamanan klo aku tidak kembalikan pemberiannya secara “fair” dan terhormat. Kepikiran padaku jika nanti aku ada cukup waktu, aku akan kerja “ehrenamtlich” alias mengabdi kerja secara suka rela menjadi “Feuerwehr” atau Pemadam Kebakaran. Sampai angan-angan memang tapi aku perlu membalas budi itu seperti aku telah berusaha membelas budiku pada tanah airku.

Feuerwehr ini pekerjaan yang pas buat karakterku. Ini pekerjaan kemanusiaan untuk menyelamatkan manusia yang amat sesuai dengan passionku: harus Brave untuk itu!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Iklan

One thought on “Aku berhutang pada Jerman dan maafkan aku pernah su’udzon padamu…!

  1. Om.saya denger dari orang yang kenal sampeyan..sampeyan cuma angeber aja

    XXXXX

    Di atas ini contoh orang Islam yang suka dengan fitnah dan ghibah! 😀

    Salam Hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s