Apakah Ahok bisa recovery?


Apakah Ahok bisa recovery?

Ini tulisan dalam sudut pandang obyektifku pribadi, tentu saja sampeyan semua boleh tidak setuju dan tentu saja betapa pun aku berusaha obyektif tetap ada persepsi subyektif yang itu manusiawi. Jadi, silahkan kita diskusi memperkaya sudut pandang.

Kita tahu Elektabilitas Ahok terus merosot bahkan sampai titik nadir. Jika ikuti data series LSI misalkan Elektabilitas Ahok melorot terus terjun bebas. Dari 59,3% turun ke 49,1% lalu ke 31,4% lalu turun 24,6% dan sekarang di titik 10,6%. Sebuah terjun bebas tiada terkira. Lembaga survey lainnya pun merilis elektabilitas Ahok di paling buncit seperti LKPI. Nyaris tidak ada yang bisa sangkal bahwa elektabilitas Ahok terjun, meskipun angkanya antara satu lembaga dengan lembaga survey bisa berbeda.

lsi-ahok-nomor-buncit

Nah, dalam kondisi ini apakah Ahok bisa recovery?
Dalam politik tidak ada kata yang mustahil. Ahok mungkin bisa recovery!

Apa persyaratannya? Ada 2 syaratnya yaitu:
1. Lawan Ahok melakukan kesalahan yang sama seberat Ahok dalam konteks politik (sekali lagi kesalahan dalam konteks politik karena kita bicara analisa politik, jadi sudut pandangnya yah politik an sich)

2. Ada Momentum yang berpihak ke Ahok dalam arti kata ada “Invicible Hand” dengan Abrakadabra tiba-tiba ada situasi Ahok diuntungkan dan dia memanfaatkan itu. Entah seperti apa bentuk momentumnya.

Tapi jika tidak ada 2 prasyarat itu maka sulit sekali Ahok melakukan recovery, kenapa?

1) Ahok itu mendapatkan popularitasnya secara “ketiban pulung”. Dia tidak teruji sebagai pemimpin politik. Ahok itu sebelumnya bukan siapa-2, lha wong calonkan diri jadi Gubernur Bangka Belitung saja gagal, sebuah propinisi tidak strategis untuk ukuran Indonesia. Ahok gagal disini saat dia berjuang di atas kakinya sendiri.

Cuma Ahok beruntung, Prabowo ajukan dia jadi Wakil-nya Jokowi di Pilkada DKI 2012. Nah Jokowi inilah yang membuat Ahok seakan menerima “Wahyu Keprabon”. Ini modal politik yang paling berharga yang dimiliki Ahok sehingga bisa eksis hingga saat ini.

2) Secara politis Ahok tidak teruji mengatasi konflik. Hampir semua tindakan politiknya bisa aman karena dia mendompleng “tenaga dalam” Jokowi. Jokowi selalu back-up apapun keputusan Ahok. Dalam konflik, yang membuat Ahok kuat yah karena Jokowi di belakangnya.

Lawan level nasional yang ndak setuju dengan kebijakan Ahok tentang reklamasi seperti Si “Dolphin” Susi Pudjiastuti atau si “Rajawali Ngepret” Rizal Ramli akhirnya diam karena Jokowi di belakang Ahok, bahkan “Rajawali Ngepret” terpelanting bukan karena Ahok tapi tenaga dalam Jokowi yang lakukan itu.

3) Dalam Pilkada DKI ini pun Ahok sadar bahwa tanpa Kharisma Jokowi dia tidak cukup punya modal bertarung. Untuk membangun PeDe-nya Ahok pun saat ini menduplikasi apa pun yang dilakukan Jokowi saat bertarung di kursi Gubernur DKI-1 2012 lalu.

Bajunya yah baju Jokowi saat Pilkada di DKI. „Salam 2 Jarinya“ yah salam Jokowi saat Pilpres pun ditiru. Lagunya pun saat kampanye lagu-lagu Jokowi tentang “Salam 2 Jari jangan lupa pilih Jokowi” (ups salah: telah dirubah jadi pilih “Basuki”).

Semua mendompleng cara Jokowi kampanye yang tujuannya supaya orang yang cinta Jokowi akan pilih Ahok. Ini terjadi karena Ahok tidak cukup percaya diri berdiri di atas kakinya.

MASALAH-nya yang terjadi pada Ahok saat ini adalah:

1) secara karakter Ahok itu NIR EMPATIK saat berkomunikasi di ruang publik. Terlalu sulit buat seorang Ahok untuk tidak melakukan kesalahan lagi dalam komunikasi di ruang publik apalagi saat ini posisinya amat tertekan di titik nadir dalam situasi panik.

Lihat saja fenomena ini:
Insiden pernyataan Al Maida di Kepulauan Seribu –> Merasa seperti Nelson Mandela saat ditetapkan jadi tersangka –> Nuduh pendemonstrasi 411 itu dibayar 500 ribu rupiah.

Ini membuat insiden Al Maidah makin berlarut dengan terjadi tuntutan ke Polisi yang terbaru ke Ahok atas tuduhan demonstarsi dibayar. Ahok ternyata tidak teruji menyelesaikan konflik sensitif secara baik, malah dibuatnya semakin berlarut.

Di ruang publik seorang pimpinan politik bicara seperti Ahok ini amat sensitif menyebabkan kesalahpahaman. Seorang pemimpin politik yang bijak harus tahu mana harus dikatakan dan mana yang perlu dia pahami saja dalam diam, untuk diambil keputusan secara bijak.

Coro Njawa-ne, kalau mau jadi pemimpin harus tahu filosofis BENER dan PENER! „Bener“ dalam berkata dan „Pener“ dalam menempatkan diri. Kedua hal itu harus dijalankan secara konsisten di ruang publik. Jika serampangan berkomunikasinya maka akan DISTRUST!

Tampaknya yang terjadi bukannya Ahok memperbaiki diri tapi Ahok akan semakin mudah melakukan kesalahan2 baru.

2) Jokowi tampaknya sudah meninggalkan Ahok sendirian. Insiden Al Maida benar2 beban politik yang mengerikan seperti tradgedi bagi Jokowi.

Para MUSUH Politik Jokowi (tolong bedakan MUSUH dengan Lawan) menjadikan Ahok sebagai “Kuda Troja” sehingga begitu mudah masuk ke Jantung Pertahanan Jokowi dan Hantam Jokowi secara telak.

Kekuatan “inner circle” Jokowi benar-benar berantakan dan babak belur ndak bisa atasi. Jokowi terpaksa melakukan solusi politik yang memilukan dalam konteks kekuasaan. Jokowi datang menemui Prabowo yang jelas LAWAN politiknya (tolong bedakan LAWAN dengan Musuh) untuk minta tolong beberapa hari sebelum peristiwa demo massif 411 terjadi yang kita tahu berlangsung dengan damai.

Ini bentuk pengakuan Jokowi secara politik untuk kirim sinyal SOS pada Prabowo lawan politiknya. Prabowo pun bersikap negarawan dan melihat kepentingan nasional. Jadilah, Prabowo memutuskan selamatkan Jokowi dari MUSUH politik sejatinya. Para musuh politik Jokowi ini dengan kekuatan uang ingin menunggangi demonstrasi damai 411 agar rusuh. Jokowi, Prabowo, Tentara, Polisi, Ormas Islam dan seluruh umat Islam berjibaku membuat para penunggang gagal membuat 411 menjadi rusuh nasional.

Penunggangan ini bisa terjadi akibat tragedi karya “Masterpiece” Ahok di insiden Al Maida yang merupakan blunder buruk dilakukan seorang politisi. Jadilah, yang ketempuhan memperbaiki adalah Jokowi, Prabowo dan seluruh kita semua terpaksa bahu-membahu selamatkan NKRI. Perilaku Ahok dalam insiden Al Maidah telah menjadi beban bagi kita semua terlebih lagi bagi Jokowi.

Tapi tetap ada yang unik dan menyegarkan dalam politik Indonesia yang mungkin ini tidak terjadi di negara2 barat yaitu „Komunikasi Politik dengan Hati“. Ternyata dukungan Prabowo pada Jokowi ini dilakukan dengan „Diplomasi Naik Kuda dan Makan Nasi Goreng“, sebuah komunikasi politik yang mengedenpankan empatik dan hati.

jokowi-prabowo

Kembali ke kisah Ahok. Jadi, bagi Jokowi sesungguhnya Ahok itu cuma ketiban Pulung karena Jokowi. Hanya bukannya Ahok jadi palang pintu bagi Jokowi menghadapi serangan musuh politik Jokowi, justru Ahok lah yang menjadi “Kuda Troja” yang menguntungkan musuh untuk hancurkan Jokowi.

Tampaknya Jokowi sadar bahwa Ahok sesungguhnya beban berat bagi Jokowi sehingga sekarang dibiarkan sendiri oleh Jokowi.

PERTANYAAN Pentingnya:
“Dengan situasi seperti ini akan kah Ahok bisa recovery?”

Politik adalah seni memanfaatkan kesempatan. Saat ini yang dilakukan Ahok mulai memperbaiki langkahnya. Ahok tahu kekuatannya di lapangan; dukungannya di kampung-kampung para konstituen menyusut drastis (setidaknya berdasarkan hasil survey LKPI dan LSI). Tapi Ahok memiliki Cyber Army atau Buzzer terbesar dan terkuat di media sosial seperti twiter, facebook, dll. Menurut riset Katapedia yang di-publish oleh Majalah Gatra (Judul: „Buzzer Ahok-Djarot sulit dilawan“, Senin, 14 November 2016 08:32), terdapat Buzzer yang merupakan Cyber Army Ahok sekitar 40.000-an, jauh di bawahnya disusul Agus 3000 buzzer dan paling buncit adalah Anies dalam urusan cyber army dengan cuma memiliki buzzer 1.200. Ini adalah potensi kekuatan luar biasa dari Ahok.

Itulah sebabnya saat ini para Cyber Army Ahok berjuang untuk memenangkan pertarungan di Medsos yang menjadi kekuataannya. Caranya: misalkan dengan membuat terus-menerus Polling Online di Facebook atau menyerbu Polling Online lainnya seperti Polling Iwan Fals, dll. Harapannya akan mempengaruhi opini publik. Selain itu juga untuk meningkatkan „level of self confidence“ para pendukung Ahok yang saat ini terpuruk pasca 411.

Itu adalah salah satu strategi jitu kampanye Tim Ahok untuk memenangkan opini publik di ranah virtual yang memang tim Ahok-Djarot amat kuat dalam cyber army. Sebuah taktik jitu dan tentu saja cara ini juga meminimalisir Ahok melakukan blunder lagi.

Jadi, kita lihat saja apakah dengan taktik bertarung online ini efektif buat kemenangannya dan apakah Ahok selanjutnya mampu memanfaatkan waktu 3 bulan ke depan mampu membangun takti baru untuk bisa recovery.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s