Belajar B. Arab dengan Metoda!


salam

Belajar B. Arab dengan Metoda!

Ada yang paling aku kagumi jika belajar ala Jerman: Mereka selalu punya metoda efektif! Mereka tekun riset bagaimana membangun metode terbaik sehingga orang akan mudah memperlajarinya. Jadilah orang bisa kuasai sesuatu dengan cepat dan efektif.

Ini terjadi saat aku belajar B. Arab pakai metode Jerman. Perasaan dulu di Indonesia: bertahun-tahun butuh waktu hanya untuk bisa baca Quran. Aneh, kitab sepenting itu cara ngajarkan membacanya selama berabad2 dengan gaya primitif sekali. Tidak ada yang terpikir untuk membuat metoda membaca Quran yang efektif.

Untunglah ada Kyai hebat orang Indonesia Kyai As’ad Human dari Pondok Pesantren Kotagede yang menemukan cara membaca Quran dengan Metode Iqro. Jadilah sekarang orang bisa baca Quran hanya dengan belajar intensif 1 bulan saja.

Pertanyaan pentingnya: Kenapa kok tidak ada 1 pun orang Arab yang kepikir membuat metoda cara belajar “Membaca Quran dengan cepat?”

Jangan lagi mereka berpikir cara belajar B. Arab, cara membaca Quran saja mereka ndak paham metode pengajarannya. Untung ada Kyai Indonesia yang menemukan itu pun setelah berabad2 tidak ada yang memikirkan ini.

Mungkin ini salah satu KESALAHAN Penting dunia Arab termasuk Indonesia dan banyak negara: “Mereka tidak membangun konsep metodologi belajar yang efektif!”.
Jadilah masyarakatnya tertinggal dalam menyerap ilmu-ilmu baru.

Jangan kan ilmu rumit, cobalah tengok pengalaman kita sendiri. Belajar B. Indonesia saja dari kelas 1 SD sampai dengan Universitas, standard bukunya amburadul kok. Kualitas pengajaran nyaris 100% amat tergantung improvisasi si guru yang juga tidak standard kompentensi.

Jangan ditanya dengan Bahasa Daerah seperti Jawa, Sunda, Minang, dll, dll. Semuanya ndak ada metodologi belajarnya. Ini membuat frustasi sehingga kecepatan punahnya logis jika terakselerasi!

Nah, di Jerman berbeda sekali. Mereka punya gaya berpikir metodologis dan paradigmatik yang menjadi tradisi pengajarannya. Apapun yang dianggap penting untuk dikuasai masyarakatnya maka ilmuwannya selalu merumuskan metodologi mengajarnya secara efektif.

Kemarin hari pertamaku belajar B. Arab secara akademik. Aku ambil kursus level Pemula pada level A1-A2 di Universität Hamburg. (silahkan lihat tentang level kemampuan berbahasa yang dibuat oleh standard Eropa: https://ferizalramli.wordpress.com/2014/04/23/kuliah-di-jerman-bahasa-inggris-atau-b-jerman/ )

Buku teks-nya dibuat amat baik; hasil sebuah uji riset amat serius. Gurunya punya standard kompetensi sama. Cara mengajarnya sama: “Memaksa komunikasi!” pada setiap muridnya. Bedanya cuma di-style dan karakter masing2 guru dalam mengajar.

Tapi para gurunya semua tahu bahwa “Tujuan belajar Bahasa itu mampu komunikasi”, bukan menguasai gramatik. Tata Bahasa (gramatik) digunakan hanya untuk alat bantu bisa berkomunikasi secara baik dan benar.

Standard buku belajar Bahasa di Jerman itu mirip. Apapun penerbitnya maka cara penyajiannya mirip yaitu terdiri 6 aspek setiap kapitalnya:
1. Membaca
2. Mendengar
3. Menulis
4. Berbicara
5. Kosa Kata
6. Tata Bahasa

Setiap Kapitalnya dipilih Tema yang relevan dengan keseharian sesuai kultur budaya masyarakat dimana bahasa tersebut berasal sehingga membuat kita teringrasi dan menjadi cepat memahami bahasa tersebut.

Selain itu “selalu” ada 2 buku yaitu (1) Buku untuk Kursus serta (2) Buku untuk Latihan dan dilengkapi CD untuk Audio. Jadilah, setelah mereka belajar 6 aspek diatas maka mereka langsung latihan soal, plus aktif bicara di kelas serta dengarkan CD percakapan.

Kombinasi metode seperti inilah yang membuat belajar B. Asing amat menyenangkan di Jerman. Ini tidak cuma pada B. Asing, pada pelajaran lainnya bidang apapun.

Aku belajar Standard Software SAP, belajar Trading di Bursa Saham DAX Jerman, Belajar Akuntansi IFRS dan HGB, semua pakai metodologi yang mirip: terstruktur dan menyebabkan seluruh panca indera kita aktif, tidak cuma syaraf kita yang aktif dalam belajar.

Nah, metodologi belajar seperti ini harus mulai dibangun oleh para ilmuwan pendidikan kita. Harus bersama-sama membangun tradisi pembuatan metodologi belajar yang efektif untuk semua ilmu yang perlu dikuasai masyarakat. Jadilah, masyarakat Indonesia akan mudah menguasai sebuah ilmu dan pada gilirannya SDM kita maju.

Tentu saja ini harapan dan Himbauan yang amat mewah untuk terwujud. Hanya paling tidak kita sadari banyak yang perlu kita perbaiki bersama…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

kh-asad-humam-kotagede

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s