Bukan Belajar Matematika…!


01

Ini bukan belajar Matematika dan IPA, ini belajar hidup dan membangun tradisi eksperimentatif! Tradisi yang membuat sebuah bangsa menghasilkan banyak ilmuwan.

Dikarenakan riset itu bukan yang terjadi mendadak sim salabin, si jago olimpiade matematika jadi ilmuwan hebat. Riset itu tradisi nafas hidup yang diajarkan sejak dini, sejak kelas 1 SD!

Di Grundschule putri kecilku Naura…

Matematika itu bukan cara cepat-2an menghitung, salah bukan itu. Setidak2nya ini yang aku pahami dari cara pikir di pendidikan di sini (Jerman). Lantas apa itu matematika? Matematika itu bagaimana merasakan dengan hati dan pikirannya ukuran dari angka-angka dan tahu mengimplementasikan angka dan ukuran tsb dalam realitas. Matematikan itu memahami abstraksi angka dan bisa merasakan dalam realitas.

Naura kelas 2 SD belajar Matematika dan IPA. Cara guru cantiknya nan masih muda ini mengkombinasikan pelajaran ini amat sangat cerdas dan unik, khas Jerman: penuh filosofis tapi implementatif!

Pertama, Guru minta tolong para orang tua murid untuk menemani anak2 sekelas belanja di pasar sayur dan buah. Ada 5 orang tua murid membantu (termasuk bojoku yang amat rajin dan aktif membantu sekolah. Sedikit intermeso info: tampaknya selain Menari dan Nyinden, maka aktif membantu kegiatan sekolah adalah passion bojoku🙂 )

Jadi ingat filosofis mantan Mendikbud Anies Baswedan​ dulu yang amat getol memulai integrasi orang tua partisipasi dalam proses belajar mengajar di sekolah. Dikarena pendidikan anak memang harus melibatkan semuanya.

Kedua, mereka semua bersama-sama pergi ke pasar. Setiap orang tua murid mengawasi 1 group terdiri dari 5 anak2 imut itu belanja. Setiap group diberi bekal 20 Euro untuk belanja.

Catatan: memang target operasi matematika di kelas 2 SD bulan2 pertama sampai angka 20. Saat naik kelas harus bisa sampai angka 100. Jadilah itu alasannya kenapa saat belanja mereka diberi bekal 20 Eur.

Ketiga, aturan mainnya: Setiap group diberi daftar belanja.

Dia harus bisa cari yang paling murah dengan muter2 pasar –> disini si anak mulai belajar merasakan angka; apa itu murah serta operasi hitung lebih besar atau lebih kecil (lebih murah vs lebih mahal).

Semakin banyak sayur dan buah yang dia bisa beli maka semakin baik –> disini mereka belajar untuk membuat kombinasi pilihan secara efisien.

Membeli sayur mayur dengan aturan gram yang tepat –> disini mereka belajar merasakan arti dari ukuran atau satuan hitung.

dst… dst…

Selesaikah pelajaran tersebut? Belum!

Setelah belanja, tugas selanjutnya si anak melaporkan secara lisan manfaat setiap buah dan sayur mayur serta mengutarakan di kelas sesuai dengan pelajaran IPA yang pernah diterangkan sebelumnya. Jadilah, mereka bisa rasakan apa itu IPA dalam keseharian.

Setelah itu semua belanjaan disimpan di Kulkas sekolah. Keesokan harinya juga dibantu relawan orang tua murid, mereka sekelas memasak apa yang mereka belanjakan serta menyajikannya di makan siang bersama. Tertawa-tawalah mereka menikmati semua itu. Disini mereka belajar bahwa kerja keras mereka akan menjadi haknya untuk dinikmati.

Jadilah mereka bisa merasakan hasil yang telah mereka perjuangkan dari mulai belanja, cari-cari yang murah, memilih buah dan sayurnya, menerangkan manfaatnya serta menyajikannya.

Terakhir mereka berhak menikmati jerih payahnya! Semua itu mereka lakukan dengan suka cita: belajar Matematika dan IPA dengan bernafas melalui kegiatan eksperimental.

Tampaknya cara mereka mengajarkan Matematika dan IPA inilah yang menjadi dasar-dasar mereka menjadi berani bereksperimen. Kelak sikap anak didik seperti ini menjadi modal besar Jerman melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan penemu; pemilik paten bahkan peraih nobel!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

02

03

04

05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s