Sistem Pendidikan untuk Tahu Diri


smart-girl

REALITAS LULUSAN SISTEM PENDIDIKAN KITA
Saat aku meng-interview para Kandidat yang kebetulan Lulusan PTN Top di Indonesia maka aku tahu persis ada kelemahan mendasar pada mereka yaitu “Mereka TIDAK MAMPU menilai dirinya sendiri secara obyektif dan akurat!”

Pada Universitas tertentu yang didoktrin oleh seniornya saat mahasiswa amat berlebihan sebagai PTN hebat maka mereka menjadi overconfident. Sementara pada PTN lain yang low profile mereka justru underestimate dengan dirinya sendiri. Jarang sekali mereka bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan akurat.

Akibatnya fatal: mereka tidak tahu persis kelebihan dan kelemahannya. Sebuah kelemahan sejati pada lulusan kita!

BERKACA PADA SISTEM PENDIDIKAN JERMAN
Yang menarik dalam sistem Pendidikan di Jerman dibangun kebiasaan menilai diri sendiri sejak dari SD sampai tamat SMA (meskipun di Universitas setahuku tidak lagi diterapkan).

Setiap mau terima Raport si siswa akan dikasih Formulir Raport kosong berisi item-item Kecapan untuk diisi oleh si siswa. Formulirnya sama persis dengan Raportnya. Si siswa disuruh menilai dirinya sendiri. Ini dilakukan sejak kelas 1 SD!

Contoh: Pada Raport kelas 1 SD ada Nilai Mengenal Alphabet, Menjumlahkan dan Kurangkan sampai 20, dan berbagai item lainnya.
Si siswa akan memilih apakah (A) Sangat Baik, (B) Baik, (C) Sedang, (D) Kurang dan (E) Amat Kurang.

Nah, daftar isian si Siswa ini diserahkan ke si Guru. Lalu saat terima Raport si Guru, siswa dan orang Tua siswa membahas Raport-nya. Lalu dibandingkan antara nilai yang siswa isi saat menilai dirinya sendiri, dengan nilai yang diberikan oleh si Guru.

Jika terjadi perbedaan nilai pada satu item tertentu maka terjadi diskusi antara Guru dan si Siswa di depan orang tua. Jadilah, orang tua dan Guru mendengar argumen dari si siswa kenapa kok penilaiannya bisa berbeda dengan si guru.

(Catatan: tentu saja untuk Raport mata pelajaran seperti Matematika, B. Jerman, B. Inggris, IPA, IPS, dan yang seperti itu maka yang nilai adalah guru berdasarkan hasil testnya seperti layaknya di Indonesia).

Nah, tradisi menilai diri sendiri ini tampaknya mendidik para siswa dan mahasiswanya menjadi lulusan yang tahu akan kompetensi dan kapasitas dirinya secara akurat. Inilah sejatinya kunci kesuksesan baik secara individu, maupun secara aggregat sebagai bangsa dalam berkompetisi global.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s