Amankah Putri Remaja anda kuliah di Jerman?


Virdinia

Tulisan ini kubuat karena betapa seringnya pertanyaan tentang „apakah aman menyekolahkan putri remaja anda setelah lulus SMA ke Jerman?“

Mungkin banyak orang tua di Indonesia gelisah saat menginjinkan putrinya sekolah jauh sendirian keluar negeri sehingga bertanya padaku bertubi2 seperti pertanyaan diatas. Aku amat memahami kecemasan para orang tua melepaskan putrinya sendiri kuliah ke luar negeri, dan ini jawabanku…

Jawabnya: Amat sangat „AMAN!“
Ingat „AMAN“ dalam tanda petik yang akan kujelaskan dibawah ini:

1) Putri anda aman jika aman maksudnya keselamatannya dari serangan teroris. Saat ini memang sering kita dengar serangan teroris di Eropa atau Jerman maka jawabnya tetap Jerman relatif amat aman dibandingkan Indonesia.

Di Indonesia itu serangan bom dan teroris itu ada sejak tahun 1981 dan mulai tahun 2000 malah amat intensif terjadi hampir setiap tahun dan bisa berkali2. Di Eropa memang ada serangan teroris tapi jauh lebih sedikit. Khusus dengan Jerman belum ada serangan teroris secara terbuka. Jadi, fakta ini saja menunjukkan di Jerman aman.

2) Putri anda amat sangat aman dari serangan pelecehan sexual.

Percayalah putri anda ndak akan diperkosa kalau pulang malam, ndak akan dapat pelecahan sexual di bis atau kereta atau kendaraan umum lainnya. Di Jerman para lelaki itu amat menghormati eksistensi wanita. Mau putri anda berjilbab atau pun pakai pakaian mini, mereka aman tidak akan dilecehkan.

Dikarenakan para lelaki disini tahu: kejahatan pelecehan dan pemerkosaan bukan karena pakaian yang wanita kenakan tapi karena perbuatan lelakinya yang salah sehingga hukuman berat akan ditegakkan bagi pelaku pelecahan. Selain itu dari mulai di sekolah dididik mindset yang benar: bahwa lelaki tidak boleh melecehkan wanita secara sexual!

3) Putri anda amat aman dari kejahatan kriminal.

Kriminal jika perbandingannya Indonesia maka nyaris NOL di Jerman. Disini mobil-mobil pun di parkir dimana pun di seluruh antero negara Jerman. Artinya, negara Jerman ini menjadi garasi terbuka buat mobil-mobil penduduknya. Jadi, bisa anda bayangkan jika mobil saja aman di parkir dimana pun maka sudah pasti anda atau putri anda relatif aman hidup di Jerman dari berbagai kejahatan krimnal.

4) Putri anda aman dari Kejahatan Obat Terlarang dan Narkotika.

Tetap ada penjual obat terlarang jika niatnya mau mencari pasti ketemu, tapi di Jerman peredaran obat terlarang dan narkotik jelas amat sangat ketat jika dibandingkan di Indonesia yang cari drug seperti cari permen mudahnya. Dari sini sesungguhnya putri anda relatif jauh lebih aman di Jerman dari pada di Indonesia dalam urusan ancaman terkena kecanduan obat terlarang.

5) Putri anda juga relatif aman dari kelompok garis keras.

Memang di Jerman ada kelompok garis keras nasionalis neo Nazi yang umumnya eksis di bekas Jerman Timur. Umumnya mereka tidak suka orang asing apalagi orang Asing yang menunjukkan simbol agama „berlebihan“. Bagi mereka pakai „Jilbab“ itu adalah simbol provokasi wanita Islam berpakaian.

Itu mirip seperti kelompok2 agama keras di kita (seperti FPI atau malah banyak masyarakat kita sendiri) melihat orang pakaian „Punk“ sering kali dimaknai sebagai simbol identitas yang „provokatif“.
Seperti kita lihat para Hippies dengan pakaiannya yang „acak-acakan“-nya yang juga sering dimaknai oleh masyarakat kita provokatif.
Bisa juga seperti kita lihat para wanita-wanita dengan pakaian mini-minimalis, malah masyarakat kita dan ada tokoh agama kita melecehkan. Ada Pemimpin Daerah atau malah pemuka agama secara terbuka sampai bilang: wanita rok mini layak diperkosa. Ini sesungguhnya adalah juga kekerasan di kita karena identitas berpakaian.

Hanya tetap amat disesali, di Jerman beberapa kali terjadi para wanita berjilbab baik-baik sering dapat perlakuan tidak enak dari mereka (neo Nazi) di ruang publik.

Nah, kekerasan ini lebih pada persepsi merasa paling benar sendiri dalam memaknai orang berpakaian. Meskipun kita juga harus disadari bahwa pakaian itu adalah simbol paling menonjol dalam menunjukkan identitas yang eksklusif. Oleh karena itu wajar, jika karena cara kita berpakaian bagi orang yang “tidak suka”, akan dilihatnya sebagai provokasi.

Jadi, perbedaan value yang dilihat secara ekstrim oleh kelompok yang merasa paling benar sendiri tampaknya yang mendominisasi terjadinya pergesekan dimana pun itu baik di Jerman atau Indonesia.

Hanya saja, di Jerman tetap pergesekan seperti ini jauh lebih aman dari pada pergesekkan di masyarakat kita. Paling tidak saat ada kekerasan dari kelompok radikal kanan nasionalis Neo Nazi maka Polisi langsung bertindak dan hukum ditegakkan. Nah, ini relatif tidak terjadi di negara kita; saat kekerasan garis keras kelompok kanan Agama maka negara umumnya diam tidak berani mencegahnya.

XXXXX

Jadi, kesimpulannya putri anda sekolah di Jerman „AMAN“. Lantas dengan semua kelebihan aman seperti itu, kenapa aku tetap menjawab „aman“-nya pakai tanda kutip?

Dikarenakan disini masyarakatnya menganggap „Free Sex“ adalah perilaku normal. Seorang wanita umur 18 tahun dianggap dewasa dan dianggap normal memenuhi kebutuhan kasih sayangnya, dan mereka mengakui salah satu bentuk kasih sayang yang manusiawi adalah hubungan sex dengan orang yang mereka sukai/cintai. Selama tidak ada pelecehan dan selama dilakukan secara aman; tidak ada penularan penyakit sexual serta tidak terjadi hamil diluar kehendak maka oleh masyarakat Jerman/Eropa dianggap hubungan cinta dengan intim adalah normal yang manusiawi.

Nah, kita orang Indonesia belum tentu setuju dengan hal ini bukan? Nah, pada titik ini maka menyekolahkan putri anda di Jerman/Eropa relatif tidak aman.

Meskipun sesungguhnya putri anda kuliah di Jakarta, Bandung, Kota Pelajar Yogyakarta, Medan atau kota Besar lainnya di Indonesia juga belum tentu aman dalam hal free sex. Hanya tetap di Jerman mindset masyarakatnya: free sex tidak salah, di Indonesia masyarakat menganggap salah. Jadi, putri anda di Indonesia merasa dapat dukungan dari masyarakat saat susah payah tidak terlibat „free sex“ dengan kekasih remajanya. Jika di Jerman, itu tantangan berat yang harus dilewati, bahkan amat berat!

Doaku buat anda semua semoga putra dan putri anda bisa meraih masa depan yang cemerlang dan berhasilkan menunjukkan dedikasinya.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s