Kemunduran Islam bukan Salah Al Ghazali!


Imam-Ghazali

Sebenarnya para penulis agung itu jika dimaknai secara proporsional maka akan bermanfaat bagi masyarakatnya bahkan kemajuan peradaban. Terlebih lagi jika masyarakat kritis memaknainya.

Saat Nietzsche menulis “Also sprach Zarathustra” tentang “Übermensch” atau “Superhuman”, lalu oleh Hitler diartikan sebagai “Ras Arya Über Alles” yang membawa ke-mudharatan, maka segera oleh masyarakat Barat dibuat koreksi atas pemaknaan yang salah tersebut. Jadilah Jerman yang sempat fasis dengan “Übermensch”-nya, menjadi Jerman yang humanis.

Dulu sekali saat Tokoh2 Gereja Khatolik begitu semena-mena menganggap kebenaran Kristen itu adalah kebenaran Gereja, kristen adalah gereja. Jadilah membuat gereja semena2 berbuat dengan klaim atas nama Tuhan sehingga membuat Barat 7 abad dalam kegelapan. Tapi muncullah Martin Luther yang mengkoreksinya sehingga masyarakat Barat sekarang tahu bahwa Kristen itu agama, gereja itu cuma organisasi belaka.

Hanya sayangnya tradisi dialektika kritis ini tidak terjadi pada masyarakat Islam dalam memahami dan memaknai tulisan Al Ghazali, sang tokoh legendaris Islam. Justru ketidakkritisan inilah yang membuat Islam mengalami kemundurun tanpa pernah bisa bangkit sudah berabad2 lamanya sampai hari ini.

Ada 2 hal yang membuat Ghazali punya kontribusi besar membuat umat Islam menjadi mengalami kemunduruan karena umat Islam tidak mampu kritis. Akibat tulisan Ghazali, umat Islam berpikir fatalis, bukan paradigmatik. Ini membuat diskursus2 intelektual menjadi mandeg pasca Ghazali.

Ghatali mewariskan 2 tulisan penting (dari puluhan tulisan) yang berdampak buat umat Islam hingga hari ini:

Pertama: “Tahafut Al Falasifah”, Ghazali menyalahkan cara berpikir filosof/ilmuwan dalam berpikir paradigmatik berdasarkan ilmu. Bagi Ghazali kebenaran kitab suci adalah kebenaran mistis; sudah terima saja itu semua, ndak usah dianalisa lagi dengan metodologi ilmu kebenaran semua ayat Tuhan ini.

Jadi, bagi Ghazali, kebenaran Kitab Suci diatas kebenaran Ilmu Pengetahuan. Konsekuensi berbahayanya: “jadilah umat Islam akan otak-atik-gatuk-mantuk mem-pas2-kan antara penemuan dari ilmuwan dengan ayat2 suci.

Padahal faktanya, agama dan ilmu pengetahuan itu 2 hal beda yang tidak bisa dibanding2kan. Agama itu tidak berubah sampai akhir jaman, sedangkan ilmu berubah tiap detik sampai akhir jaman. Masyarakat yang meyakini kedudukan ilmu di bawah agama, membuat masyarakat tersebut mandeg berpikir dan miskin kontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan.

Kedua: “Ihya Ulumuddin” bicara tentang pentingnya ilmu kalam tetapi tetap harus Zuhud dengan amat rigid. Jadi, belajar ilmu untuk kepentingan akherat. Dengan kata lain ilmu itu berguna agar kelak di akherat kita (umat Islam) bisa hidup bahagia. Buku ini “dipercaya” sebagai buku bacaan “wajib” bagi para umat Islam setelah Al Quran dan Hadist.

Zuhud itu berorientasi pada akherat, dunia tidak penting. Bisa anda bayangkan karya seperti apa yang terlahir jika anda belajar ilmu untuk berorientasi pada kepentingan akherat?

Nah ini adalah kombinasi hebat dari warisan Ghazali yang kita puja2:
(1) Ghazali mengkritik berpikir paradigmatik untuk memahami Quran, lalu Ghazali menawarkan pendekatan mistis atas kebenaran Quran.

(2) Saat bersamaan pengembangan ilmu kalam yang dia tawarkan harus lebih berorientasi pada akherat! Hal2 tentang dunia ditinggalkan.

Hasilnya memang menarik: umat Islam berpikir fatalis memahami agama dengan kebenaran mistis dan berorentasi cuma pada akherat. Nah karya seperti apa yang terlahir dari masyarakat seperti ini? Masyarakat Islam seperti inilah yang kita temui saat ini sejak berabad2.

Tapi apakah ini salah Ghazali? Jelas BUKAN salah Ghazali! Ghazali cuma berpendapat yang dilatarbelakangi kehidupan hedonis para Raja-Raja dan Bangsawan Islam saat itu. Adalah dzalim kita menyalahkan Ghazali atas kehancuran tradisi intelektual umat Islam sehingga miskin karya. Ini salah umat Islam itu sendiri secara kolektif dengan tidak bisa menempatkan karya Ghazali secara proporsional.

Aku tuh sampai bingung dengan Umat Islam, mengapa pendekatan Mistik dalam Ilmu serta berorientasi Zuhud dari abad 11 saat Ghazali mengajarkan sampai hari ini tidak bisa kita koreksi atau kita sempurnakan? Mengapa kita semua mandeg?!

Kadang aku ingat dengan bagaimana Barat bisa begitu mudahnya melakukan transformasi pemikirannya, misalkan:
Lha wong Barat yang Anglo Saxon bisa mengkoreksi dari Kapitalis Adam Smith –> Keynes –> Neo klasik
Lalu wong Barat yang Eropa Kontinental bisa mengkoreksi dari Sosialis Karl Marx –> Komunis –> Ekonomi Pasar Sosial

Di awal tulisan ini juga sudah kutulis bagaimana masyarakat barat mampu melakukan sikap kritis dan korektif. Mereka (Barat) bisa mengkoreksi kekurangan pemikiran yang sebelumnya dan mengembangkan menjadi lebih baik.

Masak kita yang muslim dari mulai abad 11 selalu ndak berpindah dari kebenaran mistis dan berorientasi zuhud; sibuk bicara urusan akherat. Blas ora ono kemajuan sama sekali.

Ini titik kritisku terhadap umat Islam yang terlalu berlebihan “memuja” Ghazali. Tentu saja, jika anda punya pendapat berbeda yah utarakan saja untuk memperkaya kita semua.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FR

One thought on “Kemunduran Islam bukan Salah Al Ghazali!

  1. menurut ana yg awam ini, sebagian besar umat islam menganggap pemikiran al ghazali ini sudah final alias kebenaran mutlak gak bisa di otak atik lagi, karyanya setara hadist sahih, siapa yg memiliki pemikiran berbeda dg al ghazali dianggap sesat disitulah awal kemandekan dari segala2nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s