Gerakan Islam Radikal Indonesia dan Dokter


A4.-Orientasi-Dokter-Muda-FK-UGM-di-Gedung-Diklat-Lt-IV-RSUP-Dr-Sardjito

Dokter itu adalah profesi utama yang menjadi target radikalisasi gerakan garis keras Islam itu hasil pengamatanku. Aku dari pengamatan dan interaksiku sering melihat betapa amat konservatifnya para dokter ini dalam beragama bahkan cenderung radikal dan fundamental. Tapi Kenapa bisa demikian? Menurutku, —silahkan jika anda tidak setuju utarakan saja ketidasetujuan anda—, seperti ini:

Pertama: Dikarenakan dokter itu profesinya dekat dengan urusan „kematian“ maka mereka jadi punya relijuitas yang berlebihan dibandingkan profesi lainnya.

Kedua: profesi dan tanggung jawabnya adalah nyawa yang ini tidak main-2. Ini membuat dia secara mindset tidak bisa melihat sesuatu salah benar dunia dengan banyak corak warna. Mereka terbiasa melihat hitam-putih atas benar atau salah!

Ketiga: karena dokter itu profesi „maha sibuk” maka dia tidak sempat untuk memahami ilmu2 lain selain ilmu kedokteran. Mereka ndak punya waktu. Jangankan memahami ilmu lain, sebagian di antara mereka saja mencari pasangan pun dokter juga. Dikarenakan dunia mereka memang umumnya (tidak semua) yang berkutat dengan para dokter juga. Jadilah bahkan untuk cari jodoh saja “terpaksa” teman sejawatnya atau senior/yuniornya. Modal cintanya: “witing tresno jalaran soko kulino”.
Just Kidding: bahkan selingkuhnya pun paling sesama sejawat dokter lagi atau paling banter dengan pasiennya yang dianggap cool wkwkwkw…😛

Nah, berangkat dari alasan tersebut maka dokter menjadi target yang paling empuk untuk ditiupkan radikalisasi pada dirinya. Dengan menggunakan Ayat-2 Tuhan sesuai kepentingan si pendoktrin maka dokter akan mudah menerima argumen si pendoktrin. Dikarenakan memang profesi dokter itu dekat dengan urusan kematian, lalu para dokter ini dimasukkan nilai2 radikal. Ditiupkan ini atas nama perjuangan jalan Allah. Jadilah, fenomena cara pikir radikal, konservatif dan fundamental banyak terjangkiti pada para dokter kita. Belum lagi hubungan yang sangat hirerakis antara senior dan yunior membuat dokter tidak kritis jika mereka didoktrin tentang agama. Jadi jangan kaget jika di Fakultas-Fakultas Kedokteran Umum/Gigi di PTN Top kita menjadi terkesan lebih relijius dari pada UIN (Universitas Islam Negeri)🙂

Dari dokter yang terbentuk jiwa radikal, fundamental dan konservatif ini maka penyebaran aliran ini akan jauh lebih mudah ke seluruh masyarakat, kenapa? Dikarenakan dokter itu berinteraksi langsung pada pasien. Bagi pasien dokter itu ”Dewa Penyelamat”. Omongan dokter adalah omongan dewa. Jadi, jika si dokter bicara dengan nilai-nilai radikal, konservatif dan fundamentalnya maka pasien mesti akan kehilangan sikap kritis pada perkataannya. Mereka akan cuma bilang: ”Iya Dok, Iya Dok. Injih Pak Dokter, Injih Bu Dokter!”

Hanya untung lah dokter punya kelemahan besar sehingga penyebarannya tetap tidak efektif. Apa itu kelemahannya? Waktu!

Dokter itu tidak punya waktu sehingga meskipun dalam dirinya sudah tertanam nilai radikal, konservatif dan fundamental sejak dari kuliah di PTN yang memang suasananya seperti itu, meskipun omongannya mesti didengar pasien ibarat omongan dari dewa penyelamat, tapi karena TIDAK punya banyak waktu yah akhirnya tidak banyak yang bisa disebarkan. Dia terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya bahkan ngurusin keluarganya saja kadang dia tidak sempat🙂

Hanya tetap saja jika anda semua memasuki suasana akademik di FK/FKG di PTN-PTN top kita, anda akan merasakan betapa amat “relijius”-nya mereka secara tampilan simbol.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s