Bukan dari Pengajian di Mesjid!


aarf

Temanku orang Minang Totok je, di Bogor, tahun lalu menyekolahkan putrinya ke Sekolah SMA Katholik ternama. Kutanya lha sekolah negeri kan cukup bagus, NEM anakmu kan masuk di sekolah Negeri bagus di kotamu. Sekolah Islam juga cukup bagus banget, kenapa kok masukkan ke Sekolah Khatolik?

Jawabnya kira-kira begini: Putrinya dari SD sampai dengan SMP sudah sekolah Islam. Dia sudah cukup belajar Islam dari sekolah juga di rumah, belum lagi dengan kakek-neneknya. Kalau kusekolahkan ke Negeri aku lihat malah lebih payah lagi. Itu sekolahnya memang Negeri tapi belajar Islamnya lebih tidak toleran bahkan ngatur2 suruh pakai jilbab segala.

Memang tidak ada aturan wajib jilbab di sekolah tapi klo ndak pakai jilbab akan punya masalah buat putrinya yang di rumah diajarkan berpikir bebas. Hebatnya lagi, kata temanku nenek2nya dia dari keturunan ulama toh ndak pakai jilbab! Mereka yakini jilbab itu budaya seperti layaknya baju kurung sopan dalam tradisi Minang. Lha kok ini guru2 SMA yang tahu Islam cuma sedikit2 “maksa2 siswanya harus berjilbab?! Cukup pakai seragam sopan ndak perlu ada pemaksaan sosial berjilbab yang saat ini sering diterapkan sekolah negeri.

Jadi, dia putuskan sekolah kan anaknya ke Khatolik biar belajar melihat yang beda dari kaca mata minoritas. Kelak putrinya akan dia sekolahkan kembali ke Jerman dimana dia dulu sekolah. Dia tidak mau putrinya saat kuliah di Jerman malah shock melihat perbedaan lalu memutuskan mengisolasi pemikiran dari para pemikir hebat Jerman lalu malah sibuk pengajian. Cukup dia saja yang dulu salah jalan ikut-ikutan pengajian pada “guru yang salah” di Jerman saat ambil kuliah dulu.

Mendengar jawaban temenku, aku godek2 diam bahkan merefleksi pada diriku sendiri saat pertama kali di Jerman. Iya aku tahu Pengajian seperti di Jerman ini justru menurutku membodohkan. Aku dulu amat sangat aktif di pengajian setiap Jumat ngaji di Mesjid Indonesia (mungkin saat mahasiswa, aku termasuk paling aktif karena rajin ngaji), belum kadang aku ngaji juga di mesjid Arab (dalam B. Jerman). Tapi aku tahu itu malah membuatku ter-block sehingga malah anti mempelajari para pemikir2 hebat Jerman dan Barat. Lebih parah lagi Ustadz (atau Murobi) Pengajiannya biasanya berafiliasi dengan Partai Politik di Indonesia.

Dalam pengajian selalu aku di-wanti2: hati2 dengan pemikiran Barat yang Sekular; para barat itu tidak suka Islam. Mereka itu menerapkan “Gazwul Fikri!”. Mereka ingin mencuci otak kita kaum beriman agar meninggalkan agama Islam. jadilah, bertahun2 aku percaya dengan kata2 para penceramah itu dalam pengajian di berbagai mesjid. Lutjunya cara doktrin “Gazwul Fikri” ini bukan cuma mesjid Indonesia bahkan mesjid-mesjid Arab pun di Jerman diskusinya sekitar ini.

Tidak lupa juga di pengajian itu seneng sekali mendengar cerita para Mualaf yang jadi Ustadz atau Ustadzah dadakan. Dulu pernah pengajian di Hamburg menyetel Video tentang Suster Maria yang mualaf dan jelek2in agama lamanya dan muji2 Islam. Mungkin karena inferior complex yah, mendengar cerita itu kita semua mengucapkan: “Subhanallah!”. Sampai sekarang juga ustadz2 mualaf yang amatiran agama laku di pengajian2 dimana pun, ndak cuma di Jerman di Indonesia juga. Hipotesisku karena inferior komplek umat Islam sehingga jika ada yang mualaf merasa itulah kebenaran Islam🙂

Suatu ketika, aku datang ke Perpustakaan ZWB Hamburg, yaitu konon khabarnya salah satu perpustakaan terbaik di dunia untuk bidang Ekonomi. Aku lihat buku-buku hebat. Layaknya orang Islam yang ter-block otakku akan para pemikir sosial, ekonomi dan filsafat barat, maka aku pilih buku yang orang Islam yang menulisnya.

Ndak tahu apakah ini takdir atau bukan, buku yang kupilih adalah “Islam and Mammon: The Economic Predicaments of Islamism”, Pengarangnya aha, Ilmuwan Islam hebat nih, Prof. Timur Kuran. Langsung kutekuni!

Tiba-tiba, masya Allah, Aku terkejut dengan isi tulisannya bahkan terguncang. Tulisannya 180 derajat berbeda dengan doktrin2 yang kuterima saat pengajian. Hanya ini justru bener2 membuka paradigmaku sambil berpikir pantesan aja orang Islam teriak2 di pengajian sambil maki2 sistem Kapitalis dan bilang kita harus bangun khilafah Islam agar Ekonomi Islam tanpa riba dapat kita jalankan, —tapi teriakan tersebut tidak punya pengaruh apa2.

Ternyata dalam tulisan Timur Kuran TIDAK ADA itu Ekonomi Islam yang ada cuma klaim-klaim teologis belaka tentang anti bunga bank. Lalu dari logika anti bunga bank plus bayar zakat, mereka membangun jargon ekonomi Islam yang diberi branding ”Ekonomi Syariah!”. Jadilah karena cuma basis-nya asumsi suku bunga bank yang riba maka tidak akan pernah ada sampai kiamat pun apa itu Ekonomi Islam.

Bahkan klo Kapitalis saja punya tokoh yang meletakkan dasar-dasar kajiannya yaitu Adam Smith, kalau Sosialis punya Karl Marx, lah klo Ekonomi Islam adanya cuma jargon teologis atas nama kitab suci. Itu yang kubaca dari tulisan Timur Kuran.

Menariknya, menurut Timur Kuran justru sistem perbankan Barat modern ini awalnya dibangun oleh masyarakat Turki Ottoman saat Turki sedang jaya di abad2 awal berdirinya. Tetapi oleh kalangan konservatif Ottoman sistem ini dituduh sesat dan dibilang riba; “ini sistem setan!”. Lalu karena ditakuti2 diancam panasnya api neraka, masyarakat Islam Ottoman pun berhenti mengembangkannya dan itu dikembangkan lanjut oleh non Islam Yahudi yang hidup dalam kekaisaran tersebut.

Itu sebabnya, menurut Timur Kuran sulit sekali orang Islam mengklaim sistem ekonomi Syariah yang dia bangun saat ini bisa secara ridgid berbeda dengan sistem Perbankan Modern. Dikarenakan sesungguhnya sistem perbankan modern ini awalnya dari evolusi kemajuan Islam di jaman Emperium Ottoman. Paling banter klaim teologis bahwa sistem Islam ada akad jual beli kepemilikan jelas. Padahal secara eksploitasi tidak ada bedanya bahkan malah lebih buruk karena belum terbangunnya sistem prudent dalam perbankan Islam.

Dari sana, mindset ku mulai berubah. Lalu kok dilalah lagi baca karya Goethe Dr. Faust die Tragödie. Aku mulai tahu ternyata seorang Goethe sekali pun tidak alergi belajar dari Kultur dan Budaya Islam. Padahal kalau mau jujur Barat punya tradisi budaya hebat jaman Yunani tapi toh mereka tidak alergi belajar dari Islam yang mereka anggap maju saat itu. Lantas, apa yang membuat aku dalam pikiranku menerima secara mentah2 doktrin dari pengajian selama ini tentang ”Gazwul Fikri?”

Sejak itu kuputuskan aku tidak pernah lagi datang ke pengajian. Aku juga nyaris tidak pernah mau datang ke undangan orang2 yang katanya silahturahmi. Aku tahu isinya cuma kumpulan orang2 miskin Ilmu bicara tentang Kenikmatan Sorga dan Kejamnya Neraka yang akan mereka terima di akherat. Cuma itu omongan mereka nanti yang mereka ulang2 seperti kaset rosak karena memang mereka tuna ilmu. Enough is enough, cukup sudah buatku bicara tentang tema2 pandir. Itu membuatku menjadi picik dan bodoh.

Lantas yang nikmat adalah aku menekuni waktuku di Perpustakaan ZWB Hamburg, salah satu Perpustakaan Ekonomi terbaik di dunia. Saat di München pun aku ke Perpustakaan Ludwig Maximilliam Universltät München dan saat di Frankfurt yah ke Perpustakaan Johann Wolfgang Goethe-Universität Frankfurt. Buku-buku penulis Jerman nikmat kulahap bahkan buku-buku para penulis Inggris pun kulahap. Asyiknya setelah itu, dari para penulis Barat lah aku tahu mereka menghormati Ibn Rushd!

Hah, siapa Ibn Rushd itu? Kok dipengajian aku cuma dengar sepintas pemikir Islam hebat seperti Ibn Sina, Ibn Farabi, Al Razi, Ibn Rushd, dll. tapi mereka ndak pernah bahas itu di pengajian. Entah karena mereka lebih suka ngomong ibadah agar masuk sorga atau karena mereka sebenarnya ndak tahu apa2 dengan pemikiran ilmu Islam? Jadi dari para pemikir barat lah justru aku mulai mencintai cara pikir para filsuf Islam.

Ah ternyata bukan dari pengajian yang selama ini kuikuti yang membuat aku mengerti Islam. Justru dari perpustakaan ZWB Hamburg dan Universität Hamburg, dari Perpustakaan LMU München atau dari Perpustakaan Goethe-Universität Frankfurt lah aku mengerti Islam.

Aku pun tidak kaget jika akhirnya sahabatku si Orang Padang (seperti juga aku) memutuskan putrinya sekolah di sekolah Khatolik terbaik di kotanya dari pada ke negeri. Jika dia tidak lagi ke sekolah Islam, yah karena nota bene sudah dari SD sd SMP di sekolah Islam. Tapi benar dari pada sekolah negeri di kotanya membuat dia picik berpikir lebih baik sekolah ke Khatolik biar empatiknya ke minoritas terbangun.

Bagiku, sudah saatnya generasi-generasi muda Islam ”diselamatkan” dari cara ngaji yang tidak benar. Cara ngaji yang tidak benar akan mem-block nalar logika mereka dengan ditakut2i oleh ancaman2 yang tidak logis. Mereka harus diajarkan mencintai ilmu sesuai dengan passion-nya dan biarkan logika dan nurani spritual-nya yang akan memaknai jalan hidupnya.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FR

2 thoughts on “Bukan dari Pengajian di Mesjid!

  1. Menarik sekali pak bahasan kali ini. Tapi baru kali ini aku Komentar, hehe
    Saya termasuk orang yang tekun mendalami ilmu agama, karena sudah di suruh mesantren dari sekolah dasar hingga SMA, sampai sekarang kuliah pun saya masih tinggal dalam lingkungan yang “islamis”. Namun ketika di tinggal di lingkungan islamis terkahir tersebut saya melihat islam yang berbeda, akhirnya saya mem-block diri agar tidak tercampur dengan pemikiran islam yang lain. Namun di sini saya menyadari bahwa saya sebenarnya mengisolasi diri dari pemikiran-pemikiran yang lain, tapi karena saya sudah lama sudah tinggal dalam salah satu pemikiran islam, di tambah denga pesan kyai saya yang berpesan “jangan dekat-dekat” dengan pemikiran lain yang akhirnya saya menjadi antipati terhadap pemikiran tersebut, baik di lingkungan saya tinggal maupun di lingkunan saya belajar. dan saya kira ini juga berlaku sama terhadap teman saya yang lain misal dari satu pemikiran yang ada di lingkungannya terhadap lingkungan berbeda yang baru ia tinggali, karena ini semacam kemiripan ATAU sebuah siklus.
    Dan terakhir, saya pernah dapat wanti-wanti seperti ini dari ustadz saya, “belajar itu harus ada gurunya, kalo ndak ada berarti guru kamu syaithan”. Bagaimana pak Fehrizal menjelaskannya ?

    -Belajar-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s