Debat Politisi: Banyol dan Ngeyel


Bundestag1

Aku sudah berubah menikmati debat politisi Indonesia, Jerman dan Inggris.

15 sampai dengan 10 tahun lalu aku begitu terpesona dengan acara-acara diskusi para politisi kita, mereka selalu diselipkan kata-kata humor dalam debatnya. Aku ketawa-tawa gayeng jika ada politisi sisipkan humornya dan kadang emosional jika lihat politisi yang ngototan. Jika dibandingkan dengan Inggris dan Jerman maka acara favorit debat politisiku adalah politisi Indonesia no: 1 pokoknya top dah debat mereka, lalu politisi UK no: 2 dan terakhir politisi Jerman.

Politisi UK dari dulu aku suka nontonnya berdebat dengan penuh ekspresif, disertai data dan kadang juga disertai guyon aristokrat. Mereka berdebat secara “frontal dan brutal” dalam utarakan argumen tapi jauh dari “ad hominem”. Lebih pada kritis terhadap kebijakan dan argumen lawan diskusinya. Paparan datanya cukup baik.

Politisi Jerman awalnya aku ndak suka sama sekali. Nyaris tidak ada humor dalam berdebatnya. Yang dia paparkan adalah analisa rasional dan argumen logis disertai penguasaan data yang amat matang. Seperti dengar kuliah lah kesan awalku dulu sekali. Meskipun para politisi Jerman itu amat tajam kalau menyerang, tapi nyaris jarang membuat serangan pribadi pada lawan. Rasionalis dingin dan berjarak!

5 tahun terakhir ini pandanganku berubah…
Aku sangat menikmati para politisi Jerman berdebat. Memang mereka miskin humor tapi pilihan2 katanya benar2 menunjukkan para politisi yang berkelas, amat terpelajar dan amat paham masalah.

Contoh: Suatu ketika ada debat untuk posisi Calon Menteri Ristek beberapa tahun lalu, yang masih kuingat sampai hari ini.

Saat itu ada paparan dari incumbent betapa majunya Jerman dalam pengembangan dan implementasi IT yang dinikmati seluruh masyarakatnya secara merata.

Nah klaim itu dibantah dengan sebuah opini yang menarik, kira-kira lawan politiknya menjawabnya begini:

“Melek IT di masyarakat itu bukan dilihat dari kecepatan internet dan akses penggunaan internet pada masyarakat, bukan seperti itu melihatnya. Itu sih variable hedonis yang tidak memberi nilai lebih bagi Jerman. Tapi keberhasilan atas investasi IT yang telah kita (Jerman) keluarkan harus bisa kita ukur dari naiknya tingkat pengetahuan dan produktivitas masyarakat. Nyatanya kita masih belum yang terbaik…” —Lalu dia paparkan data2 riset yang kredibel untuk memetakan secara logis kondisi sesungguhnya. Nah, debat seperti ini benar2 saya suka saat ini.

Setelah lama menikmati debat seperti diatas, lalu saat aku ikuti debat-debat para politisi kita, mulai lah saat itu aku sadar: aku nyaris sama sekali tidak pernah tertawa lagi saat para politisi kita buat banyolan mendiskusikan isu-isu tertentu. Aku jadi sadar umumnya debat politisinya kita itu cuma pakai strategi 2 hal: Banyol dan Ngeyel!

Ada sedikit politisi yang bagus dalam bicara tapi umumnya bukan karena penguasaan masalah yang hebat tapi lebih karena bicara dengan kharisma. Bicara dengan kharisma di saat yang lain banyol dan ngeyel maka membuat politisi kharismatik ini jadi terlihat amat menonjol.

Hanya sayang sudah amat lama sekali aku agak kehilangan minat melihat lagi acara Nata Najwa yang itu sesungguhnya acara terbaik di Indonesia. Indonesia Lawyer Club juga cuma kutonton beberapa kali aja. Bukan ndak cinta tanah air; cuma kontennya lebih banyak acara promosi pencitraan politisi, disertai banyolan dan eyelan. Masih lumayan jika ada politisi yang kharismatik yang omongannya renyah didengar. Tapi tetap saja isi diskusinya secara umum dangkal, bahkan amat dangkal; eyel-eyelan disertai omongan gosip.

Saat ini aku menjadi amat suka dengan politisi-politisi Inggris berdebat. BBC Parlement selalu aku simak sebagai tontonan wajib. Phoenix Bundestag juga kunikmati sebagai tontonan wajib karena membuat aku begitu amat paham masalah-2 kebijakan publik, ekonomi, dll. Mereka berdebat dengan fakta dengan penguasaan masalah dengan amat baik bahkan memberikan terobosan2 solusi dalam opininya…

Tapi ndak ada yang salah kok dengan style debat para politisi kita yang khas dengan “Banyol” dan “Ngeyel”. Kayaknya cuma aku saja yang mungkin sudah berubah dalam menikmati acara debat politisi dan meletakkan standar atas kualitasnya…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

FR

One thought on “Debat Politisi: Banyol dan Ngeyel

  1. Pak Fehrizal, suatu waktu tugas presentasi saya pernah bertanya, memancing dosen PKn saya untuk berdiskusi, pancingan saya itu kira-kira begini “bapak, menurut saya, Indonesia itu belum cocok dengan sistem pemerintahan Trias Politica-nya Montesqiue, karena penggerak utama dalam sistem tersebut adalah rakyat dan gagasannya melalui DPR, nah di sini saya melihat baik rakyat maupun perwakilannya belum siap, rakyatnya yang masih mau duit kalo ada yang mau naik jadi DPR, ya DPR-nya karena lahir dari hal yang enggak baik jadi hasilnya ketika mereka memimpin pun enggak baik pula.”
    Di jawab oleh dosen saya kira-kira begini, “Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang paling baik yang bisa beradaptasi di Indonesia, namun lambat laun itu semua akan membaik”
    Bagaimana pendapatnya,pak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s