Dewi Sinta (Mari Kita Bicara Cinta!)


Sinta

Aku menulis ketidaksetujuanku atas tragedi cinta Dewi Sinta. Tentu saja ini kutulis dari sudut pandangku sendiri. Jadi boleh anda setuju, boleh anda tidak setuju. Yang asyik itukan saat tidak setuju maka saling memperkaya value atas perbedaan sudut pandang🙂

Aku setiap membaca kisah Ramayana berkrenyit dahi ku. Ada yang tidak pas disana yang amat tidak konsisten. Dalam kisah Ramayana itu dikisahkan betapa masih sucinya Sinta dalam penculikan Rahwana. Suci disini dalam arti harafiah belum digauli Rahwana. Disini titik mitos tidak konsistennya.

Dalam pakem cerita Ramayana, Rahwana didefinisikan sebagai Raja yang Amat Berkuasa Mutlak dan Perkasa. Saat bersamaan dia adalah seorang Raja yang cerdas dan penuh strategis, bahkan dalam pengawasan Ksatria Laksmana saja, Dewi Sinta bisa dia culik.

Yang menjadi pertanyaanku: apa sulitnya buat seorang Raja Hebat Rahwana, yang Macho Perkasa, Pandai Berstrategi, Jago Merayu bahkan bisa merayu Sinta terlena dengan binatang lutju jelmaan Rahwana, dan saat itu si Sinta berada dalam istana Rahwana, tapi Sinta bisa tetap suci tanpa disentuh Rahwana?

Rahwana jelas bergelora melihat keelokan Sinta. Saking ngilernya dia sampai berjuang menculik Sinta. Rahwana adalah Casanova. Mungkinkah Rahwana biarkan Sinta begitu saja dalam kurungan kamar Istananya tanpa “dianiaya” ?

Dewi Sinta bukan lah malaikat. Dia wanita yang juga punya hasrat tinggi akan estetika. Ketidakberdayaannya sampai terjebak diculik Rahwana karena dia amat ingin memiliki binantang cantik. Dia tertipu Rahwana adalah salah satu manifestasi kesukaannya atas estetika.

Lantas apa yang sebabkan Sinta bisa mempertahankan diri di depan Raja Perkasa Casanova Rahwana, di kamar istana Rahwana? Jika dijaga Ksatria Tangguh Laksmana saja, Sinta bisa terberdaya oleh Rahwana, lantas bagaimana kok dia bisa teguh bertahan di kamar berdua di Istana Rahwana berbulan2 ?

Sayang bukan aku penulis cerita Agung Ramayana ini. Aku cuma penikmatnya dan membuat pemaknaan sendiri atas kisahnya. Jadi tiada kuasa apa2 atas akhir cerita kisah agung ini selain mengrenyit dahi tanda tidak setuju🙂

Aku berharap akhir dari cerita Ramayana itu realistis. Sinta terlena dan bergumul hebat dengan Rahwana. Bathinnya menyesal di satu sisi karena mengkhianati Rama suaminya, tapi di sisi lain hasratnya untuk pasrah dalam pelukan Rahwana tidak terbendung.

Saat Rahwana tewas diserang oleh Rama, maka Sinta bersedih; dikarenakan meskipun dia awalnya diculik Rahwana tapi toh Rahwana tidak menyakitinya. Rahwana telah bersatu dalam dirinya. Sementara Rama justru meninggalkan dia di hutan untuk kepentingan sang Rama himself yang membuat Sinta kesepian sehingga terjebak Rahwana. Hanya saja Rahwana tewas itu adalah value yang fair dan adil karena “Sinar Matahari” tidak berpihak pada yang salah dan dzalim.

Lalu atas hal ini, kubayangkan akhir ceritanya: Rama menerima fakta bahwa Sinta telah bergumul hebat dengan Rahwana. Di titik inilah apakah Rama bersedia memaafkan Sinta dan menerima “kesalahan” Sinta yang sesungguhnya juga kesalahan Rama yang abai menjaga Sinta?

Nah, kebesaran hati Rama menerima Sinta, itu value yang jauh lebih agung dan realistis dalam kehidupan nyata dari pada cerita yang tidak realistis mengatakan bahwa Sinta tetap suci.

Yang kontrakdiktif juga justru Rama tidak percaya dengan kesucian Sinta. Jelas secara logika Rama tidak percaya, karena memang tidak logis klo Sinta itu masih suci dalam dekapan Rahwana.

Hanya kok kenapa hasil akhirnya bukan mengatakan Sinta itu sudah tidak suci, lalu Rama menerima itu sebagai fakta dan mereka kemudian membangun kembali Rumah Tangga yang lebih baik. Kenapa hasil akhirnya malah tidak realistis dan tragis: Sinta itu suci, karena Rama tidak percaya lalu Sinta bunuh diri untuk membuktikan kesuciannya…😦

Moral point yang kudapat dari cerita2 dongeng kesucian Dewi Sinta ini adalah Budaya Utopis yang tidak realistis yang digunakan sebagai teladan.

Ini jelas sulit diterima dalam realitas, akibatnya di realitas yang termaknai masyarakat adalah munculnya budaya hipokrit. Mereka menerima nilai utopis sebagai nilai kebenaran, tapi mereka tidak mampu laksanakan dalam realitas. Akhirnya mereka hipokrit, demi pencitraan diri agar terlihat mampu memenuhi nilai utopis tadi!

Dari Tepian Sungai Elbe

FR

One thought on “Dewi Sinta (Mari Kita Bicara Cinta!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s