Mampukah Putriku Lulus Ujian Tulis PTN?


universitas-gadjah-mada-825x425

13220533_1004518462964971_6824575606862100431_o

Kuucapkan selamat pada putra/i anda semua yang lulus SNMPTN. Semoga mereka kelak berhasil meraih masa depan yang cerah. Buat yang tidak berhasil jangan khawatir banyak jalan menuju Roma, meskipun toh manusiawi jika anda mempunyai kekhawatiran tsb. Aku juga akan khawatir jika berada di Indonesia, dan aku was-was malah amat mungkin yakin klo di Indonesia kedua putriku sulit untuk tembus SNMPTN.

Sesungguhnya aku suka dengan cara kedua putriku berpikir dan beragumentasi. Suatu ketika Naura yang berumur saat itu kurang dari 6 tahun, masih Vorschule alias Pra-SD, memperhatikan aku sedang menyusun arsip-arsip surat, dokumentasi dan kertas kerjaku. Dia perhatikan dengan seksama dalam diam. Aku tidak peduli melihat dia menyimak apa yang kukerjakan. Aku ingin cepat selesai semua arsip dokumen ini kususun, begitu pikirku.

Selesai juga begitu kataku lega!
Hanya, sejurus kemudian dengan bahasa tercadel si Naura pun mengingatkan aku dengan PeDe, katanya begini:

“Papa, es geht nicht um die Schnelligkeit, es geht um die Genauigkeit!” – Papa ini bukan cepet2an (selesai) tapi harus selesai dengan benar dan baik!.

“Was du gemacht hast, war total falsch!” – Apa yang Papa lakukan itu salah besar!

“Besser langsam aber richtig, als schnell aber nicht perfekt!” – Lebih baik lambat tapi benar dari pada cepat tapi tidak sempurna.

Si Naura mengkritik aku karena aku mengerjakan sesuatu secara tergegas, yang menurut dia tidak rapih dan tidak diatur secara benar.

Nah, cara pikir yang terdidik dengan pendidikan penuh filosofis ini ditanamkan oleh para pendidiknya dalam sistem pendidikan disini sejak mulai TK; seperti itulah putriku bernafas.

Kuingat juga pada Zahra (saat ini kelas 5 di Gymnasium). Catatan: SD di Jerman sampai kelas 4, lalu anak2 direkomendasikan oleh Gurunya untuk sekolah apakah (1) di Gymnasium biasanya buat yang baik, atau (2) Realschule buat yang biasa, atau (3) Hauptschule buat yang kurang baik. Guru memberikan rekomendasi tapi Orang Tua yang memutuskan kemana anaknya dikirim.

Saat diawal kelas 4 SD, kami pun dipanggil oleh sang Guru. Katanya begini: “Saya (sang Guru, red) khawatir Zahra sulit sukses di Gyamnasium. Bukan karena nilainya, tapi karena Zahra terlalu pemalu untuk utarakan idenya dalam bertanya, menjawab dan berdiskusi. Di Gymnasium sikap aktif menguntarakan ide dan berdiskusi adalah titik penting kesuksesannya, bukan cuma dari nilai”.

Hari ini Zahra di Gymnasium. Meskipun nilai-nilainya cukup bagus (tidak pernah dapat nilai 4, di Jerman yang terburuk adalah 5 dan terbaik adalah 1). Nilai Zahra berkisar antara 1 sd 2, beberapa ada nilai 3. Untuk pelajaran B. Inggris nyaris nilai yang diraihnya selalu 1+, sesuatu klo di Jerman nilai 1+ amat sulit diraih. Itu nilai penghormatan dari Guru pada siswanya.

TETAPI tetap saja setiap aku meeting dengan Sang Guru, aku dapat teguran. Mereka bilang Zahra terlalu pemalu. Jarang terlibat dalam diskusi saat di kelas dibandingkan teman2nya. Jarang berani utarakan idenya dan mengatakan pendapat beda terhadap temannya. Bahkan dalam surat perjanjian (di Jerman selalu ada surat perjanjian antara guru dan siswa diketahui Ortu) bahwa Zahra harus selalu “ngacung” untuk berani utarakan idenya di depan kelas.

“My God!”, kataku dalam hati secara spontan. Setahuku Zahra itu bawel, tetapi tetap saja dianggap kurang bawel oleh gurunya. Sampai perjanjian kami sejak dari kelas 3 SD sampai kelas 5 Gymnasium pun nyaris tidak pernah berubah; Zahra harus lebih aktif bertanya dan menjawab di kelas.

Kulihat kertas kerja Zahra selama 1 tahun ini sekolah di Gyamnasium.
Luar biasa menurutku; dia buat Report Eksperiment Kimia dan Fisika yang dia tulis berlembar2 dalam MS Word lengkap dengan Excel Tabel-nya. Dia buat karangan tentang Detektif selama berlembar-lembar seperti menulis roman dalam pelajaran Bahasa (Jerman). Untuk pelajaran B. Asing (Inggris) dia buat tulisan-tulisan pendek dalam B. Inggris (yang saat aku dulu sekolah kelas 1 SMA pun, temenku dulu belum tentu bisa mengarang dalam B. Inggris). Mereka pun dididik untuk tidak copy paste bahkan bagi mereka itu adalah merendahkan jika tidak membuat karya tulis hasil idenya sendiri. Jiplak, nyontoh dan copy paste adalah aib. Okya, ini bukan Zahra saja yang bisa hal ini, temen2nya di Gymnasium juga setara kemampuannya dengan Zahra.

Ada pengalaman menarik, saat sebelum sebelum lulus SD, aku berkunjung ke calon Gymnasium yang paling tepat dengan Zahra. Nah, Immanuel-Kant-Gymnasium diklaim sebagai “Eropaschule” (atau Sekolah Internasional Eropa). Ini sengaja kupilih karena kita orang asing jadi butuh sekolah yang berbahasa Jerman dan Inggris. Yang aku kaget saat aku coba bicara dengan anak kelas 10 dalam B. Inggris di Immanuel-Kant-Gymnasium ini.

Edyaannn, mereka bicara B. Inggris amat baik dengan logat British! Lancar dan bisa berdiskusi denganku sampai hampir 1 jam. Hebatnya tidak cuma 1 orang tapi banyak diantara mereka bisa lakukan itu. Umumnya mereka kebanyakan ikut program pertukaran pelajar ke English Speaking Countries ada yang short time (klo ini semua melakukan) tapi ada yang 3, 6 bahkan 12 bulan! Jadinya, mereka bisa berbahasa Inggris begitu amat bagus padahal baru kelas 10.

Pada titik ini aku tersenyum senang melihat Zahra dan Naura berada dalam sistem pendidikan yang bagus bahkan teramat bagus. Hanya masalah muncul jika aku memutuskan pulang ke Indonesia. Aku tahu salah satu kunci (meskipun tidak mutlak) untuk mendapatkan pendidikan terbaik di Indonesia adalah suatu ketika kelak HARUS kuliah di Universitas Terbaik di Indonesia.

Nah, SNMPTN adalah kuncinya untuk bisa kuliah di Universitas Terbaik di Indonesia. Masalahnya apakah putriku sanggup ngerjakan soal pilihan ganda dalam SNMPTN yang nota bene seperti soal cerdas cermat? Aku tidak yakin putriku sanggup melakukannya. Mereka tidak diajarkan untuk melakukan itu…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s