Penari dan Penyinden!


tari gambyong pareanom

Kenapa kamu harus ragu menari tanyaku padanya? Bukankah dulu saat remaja kamu suka pentas menari di Solo dan Yogya? Sekarang putri2 kita sudah besar, kenapa tidak sebagian waktumu selain kerja dan sekolah tidak untuk berlatih menari?

Jawabnya: Aku sudah menuju pertengahan 40 tahunan. Umur kepala 4 sudah lewat. Wah ndak muda lagi, —seperti biasa dia menjawab dengan senyum simpul selalu klo berdialog denganku🙂

Kujawab: Justru Nduk, kamu di atas 40 tahun, kamu harus kembali menari saat seperti masa-masa remaja dulu bahkan lebih intens. Coba resapi kata-kataku ini yah…

1. Wanita diatas 40 tahun itu massa otot-ototnya cenderung mengecil, lemaknya bertambah. Dengan menari seperti misalkan Tari Jawa maka tanpa sadar mindset-mu atas pentingnya vitalistas, akan kokoh kuat mencengkram di pikiranmu.

Kamu jadi merasa perlu berlatih kuda-kuda sehingga otot kakimu kuat. Kamu harus berdiri tegap serta saat bersamaan harus luwes berlenggak-lenggok. Itu latihan otot yang luar biasa untuk vitalitasmu.

Untuk bisa semua itu maka kamu harus aerobik sehingga punya daya tahan dalam bergerak dan otot-ototmu jadi kuat. Kamu dipaksa untuk membakar lemakmu. Selain dari segi estetika bagus, dari segi kesehatan pun kamu akan fit. Ini amat penting meningkatkan kualitas hidup. Jadi, justru di usia di atas kepala 4 harus semakin intensif menari.

2. Menari itu membuat sense senimu makin sensitif. Apalagi kamu pun juga berkesempatan belajar mengolah pita suaramu untuk menjadi sinden gending-gending Jawa maka darah senimu akan semakin peka. Apalagi disini (di Hamburg, Sanggar Margi Budoyo KJRI Hamburg) ada Maestro Tari Nusantara yang penuh dedikasi dan ada Sinden Senior bersuara Emas yang bisa membuatmu belajar darinya.

Dengan Menari dan Nyinden, kamu akan semakin sensitif dan semakin peka membaca sedikit saja sebuah gerak sebagai sasmita. Sensitivitas yang peka ini amat penting yang membuatmu menjadi penuh empatik. Tentu saja atas semua ini yang paling akan menikmati adalah kedua putri jelita kita dan sudah pasti aku juga🙂

3. Menari Jawa dan Nusantara, serta Nyinden itu sebenarnya adalah proses men-transfer identitas budaya kita pada kedua putri kita. Mereka, di darahnya harus mengalir seni budaya Jawa dan Nusantara karena dari sana mereka berasal.

Saat ini realitasnya, kedua putri kita sehari-hari hidup dalam nafas berpikir dalam budaya Eropa. Saat bersamaan mereka pun “dijejali” oleh lingkungan se-agama kita bahwa atas nama Fiqih beserta klaim-klaim surga dan nerakanya, yang terkadang itu campur baur dengan budaya Timur Tengah, dianggap sebagai nilai kebenaran yang harus mereka jalankan.

Lalu dari mana mereka bisa bernafas dengan identitas budayanya sendiri bahkan untuk memahaminya saja dia tidak punya keteladanan? Jangan sampai kedua putri kita menjadi Barat karena lingkungannya atau menjadi Timur Tengah karena sering kali mendengar ditakut2in atas nama agama. Mereka harus hidup dalam nilai dan identitas budaya kita sendiri.

Nah, dengan kamu begitu terlibat dalam budaya Jawa (karena kamu wanita Jawa) maka kamu secara alamiah menstransfer value budaya dan identitas kita pada kedua putri kita. Jadi, jangan ragu untuk terlibat disana: bernafas langsung, terus berlatih menari dan belajar terus menyinden.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s