Dialog itu perekat antar agama!


Kavirs

Ini cerita proses belajarku memahami perbedaan antar agama…

Menurutku, dari pengalamanku, Indonesia yang MAYORITAS Islam ini perlu memperbanyak dialog2 antara agama seperti salah satunya yang dilakukan olehn Komunitas Alumni UGM dan KAGAMA termasuk melalui forum “Fesbuk Kagama Virtual” (membersnya aktif diskusi hampir 15.000, sayangnya hanya diperuntukkan secara tertutup oleh KAGAMA) https://www.facebook.com/groups/kagamavirtual/

Hanya aku yakin alumni2 kampus lain juga melakukan dialog2 keterbukaan antar agama dan semoga saja seperti itu.

Dulu tuh temen mainku adalah para sesama Islam tok di Jerman. Nah, saat aku bergabung dengan obrolan temen2 Iran, Arab dan Turki maka jurang perbedaan antara mereka itu amat sulit untuk menyelesaikannya dengan berdialog. Sesama Islam saja mereka tidak bisa dialog apalagi jika sudah melihat non Islam.

Jika ada perbedaan yah jadi ekstrim berbeda; saling salahkan dan merasa paling benar beragama. Mereka tampaknya tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan perbedaan. Jadinya, tidak heran memegang kekuasaan untuk menindas sehingga menjadi pemenang adalah strategi dan metode penting di komunitas ini.

Dari sana aku baru belajar mengapa orang2 ini sering kali suka dengan kekerasan menjadi tradisi sejarah masyarakatnya. Dikarenakan benar atau salah ditentukan oleh kekuasaan untuk meraih kemenangan. Perang adalah solusinya untuk selesaikan perbedaan.

Wah ndak bisa klo Indonesia pakai cara mereka, pikirku dalam hati. Kita 250 juta lebih hidup di ribuan pulau terpisah, agama beda, bahasa beda, budaya beda, etnik beda, cara pikir beda. Jelas kita punya perbedaan satu sama lain yang amat sangat berbeda.

Klo diselesaikan pakai cara Timur Tengah maka:
(1) Cara Revolusi Khomeini Iran. Jadi negara Islam versi salah satu golongan mayoritas di sana, yang lain harus tunduk apapun agama atau kepercayaannya. Bisa bubar kita lah wong kita tuh bener2 heterogen kok.

(2) Cara Turki yang di-plokhoto habis2an oleh Barat dulu baru akhirnya memutuskan sekular njiplak barat. Setelah babak belur tercabik2 kalah baru contoh cara Barat bernegara; selain belum tentu cocok jiplak barat, juga ini memalukan.

(3) Cara Arab, yang lengkap dengan ISIS-nya, Taliban, Al Qaeda dan temasuk Boku Haramnya yang perang ndak selesai2 sampai salah satu musnah di muka bumi agar sebuah perbedaan selesai?

3 cara diatas dalam pikirku ndak cocok buat Indonesia. Bisa bubar kita klo mencontoh cara mereka. Lalu kupikir-2 sendiri. Wah kita harus punya cara untuk selesaikan perbedaan ini tapi bisa hidup saling bantu dan saling menghargai.

Ada 1 kekuatan kita (sebagai mayoritas Islam) dibandingkan masyarakat Islam dunia lainnya: kita biasa hidup bersama dalam perbedaan karena kita suka dialog, tenggang rasa penuh empatik dan tidak suka menindas yang kalah. Ini value nenek moyang kita.

Berarti harus ada media dialog yang kita kembangkan. Aku ingat KAGAMA yang merupakan representatif masyarakat kita yang bhineka di lingkungan elit terdidik Indonesia. Aku ingat ada Group Fesbuk Kagama Virtual dimana kita malah bisa dialog disini.

Semua ketakutan dan keinginan kita (Islam) bisa diutarakan ruang diskusi Fesbuk Kagama Virtual sehingga orang yang non Islam tahu apa yang dipikirkan Islam. Saat bersama yang non Islam melakukan hal sama sehingga kita pun tahu apa yang ditakutkan dan diinginkan umat non Islam.

Dari sini mulai terbangun rasa percaya untuk saling membangun batas maya empatik atas saling berbeda di antara kita. Ini harus dibangun terus dan kalau bisa kita mulai sebarkan nilai ini ke level masyarakat lainnya sehingga mereka ndak gandrung dengan menyelesaikan perbedaan menurut maunya sendiri; cari memangnya sendiri.

Jangan lupa UGM dan KAGAMA perlu bicara pada kampus2 lain untuk menghentikan KEWAJIBAN Pendampingan AGAMA ISLAM atau AAI (Asistensi Agama Islam). Jangan jadikan wajib, biar forum bebas saja. Jika wajib ini sama saja memberi wahana para garis keras untuk masuk mencari kader di kampus. UGM sudah melakukannya menghapus kewajiban AAI. Kampus lain sebaiknya melakukan hal yang sama.

Jadilah anak2 muda kita a-dialogis, —merasa agamanya paling benar sendiri—, seperti sekarang ini bisa kita minimalkan. Lihat gambar; bagaimana mahasiswa2 muda dari PTN Top seperti Unair berubah menjadi pribadi radikal dan a-dialogis menolak demokrasi. Fenomena anak2 muda a-dialogis dan memaksa pendapat dari kelompok radikal Islam ini amat marak akan mudah terjadi pergesekan dengan agama atau kelompok lainnya.

Apabila Kampus PTN dan PTS Top berhasil mengerem generasi mudanya agar tidak radikal maka dialog akan semakin gampang lagi. Saat bersaman UIN dan IAIN harus semakin intensif mengkaji Islam Humanis dan terbuka! Jadi, ke depan Indonesia yang mayoritas Islam akan membangun bangsa yang humanis dalam perbedaan.

Di KAGAMA misalkan, melalui Kagama Virtual salah satunya, temen2 KAGAMA sudah memulainya dan terus melakukan bersama. Diperlukan untuk ditularkan ke masyarakat dialog2 ini sekaligus ajak Universitas Lain terutama PTN dan PTS Top kembangkan dialog seperti ini. Lalu bersinerji dengan UIN/IAIN yang memang kompeten dengan kajian Islam humanisnya.

Saat bersamaan berpartner dalam dialog dengan agama lainya yang juga pasti punya tokoh humanis. Dengan cara inilah kita membangun Indonesia beradab yang tetap bersama dalam perbedaan.

Apabila alumni terdidik dari kampus-kampus PTN dan PTS Top lainnya membuka dialog antar agama secara saling respek maka kita akan menjadi bangsa yang bisa bersinerji dalam perbedaan. Masyarakat akan nyaman dan penuh respek dalam perbedaan. Tidak ada lagi kekerasan dan keonaran menindas agama lain (apapun agamanya) atas nama ayat-ayat Tuhan.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

1934766_10206096088103531_4993952993800320770_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s