Yang dibutuhkan umat Islam itu Devils’s Advocate!


Devil

Apa yang membosankan jika kita bergabung di Group BBM, WA, Telegram, Facebook dan kalau dulu miling list? Para Hoaxer Islami loper cerita hoax bombastis tentang Islam lalu disambut dengan kata2: Subhanallah, Allahu Akbar dan yang seperti itu.

Padahal klo dibaca itu cerita hoax atau minimal lebay cuma karena dibumbui syar’i maka luar biasa dampaknya. Contohnya : termasuk baru-baru ini cerita bohong hoax nan syar’i tentang mayat terduga teroris Siyono berbau wangi meskipun sudah dikubur 3 minggu.

Juga yang lebih njelehi postingan-postingan yang jelekin agama dan kepercayaan orang lain. Berbagai penghakiman tentang agama dan kepercayaan orang lain dilakukan seakan orang-orang Islam ini para ahli surga semuanya.

Contoh: dengan gampang misalkan seorang muslim menuduh umat Kristen nyembah Patung (Kristus) atau Bunda Maria tapi saat dituduh genti umat Islam nyembah Batu Kubus Hitam yang kain pembungkusnya jarang dicuci, kontan langsung umat Islam akan ngamuk2. Lha dia membuat penghakiman agama orang lain menurut persepsinya, saat dia dihakimi orang lain maka ngamuk 

Meskipun aku jeleh, tapi umumnya aku lebih memilih diam saja. Tapi lebih umum lagi aku paling tinggalkan itu group jika hoax syar’i-nya kebanyakan alias over dosis. Sayangnya aku “ndak sanggup” melakukan koreksi atas sikap ngawur banyak orang Islam baik di mindset maupun dalam berkomunikasi di ruang publik.

Mestinya harus banyak yang berani menjadi devil’s advocate yang mengkritisi cara pikir ngawur di atas pada banyak umat Islam sehingga cara pikir ngawur ini bisa dikurangi. Sayang umat Islam seperti aku tidak terbiasa untuk menjadi devil’s advocate untuk mendidik umat yang salah ini sebagai tujuan untuk membangun kesadaran yang lebih baik.

Satu yang kutandai di Indonesia ini ternyata yang melakukan devil’s advocate amat jarang dari umat Islam. Umat Islam tampaknya terlalu sulit untuk melakukan koreksi diri. Andaikan mau jujur diakui, pada titik ini cuma JIL (Jariangan Islam Liberal) yang mampu melakukannya.

Masalahnya aku bukan JIL bahkan „tidak nyaman“ dengan cara JIL. Jadi, aku pribadi lebih memilih diam jika melihat ada salah mindset berpikir umat Islam seperti penggemar hoax nan syar’i. Meskipun jujur sikap diam ini sesungguhnya tidak mendidik.

Ada beberapa yang berani mengambil tanggung jawab devil’s advocate ke masyarakat Islam ini tetapi lebih banyak bukan umat Islam. Seperti sikapku, umat Islam umumnya diam saja. Mereka yang paham justru lebih memilih membiarkan umat Islam tetap punya mindset ngawur dari pada melakukan selfcorrection.

Yang umumnya menjadi devil’s advocate disini adalah “mantan Islam” yang paham dan pernah menjadi bagian Islam. Dulu aku sempat kaget jika mendengar ada seorang muslim menjadi mantan muslim. Dalam persepsiku dulu tidak mungkin umat Islam meninggalkan agamanya yang dalam doktrin yang kuterima adalah Maha Benar.

Hanya setelah begitu banyak ketemu orang Iran, Arab dan Turki bilang atheis (bukan agnostik yah ini lebih keras lagi: atheis) maka paham lah aku bahwa Islam atau juga Kristen dan agama2 lainnya bisa saja suatu kelak tidak akan laku lagi jika cara pikir ribuan tahun lalu digunakan.

Nah, klo di Barat aku mendengar Kristen dikritisi Islam, dan sebaliknya Islam dikritisi kristen atau mantan kristen (Agnostik atau Atheis) yah biasa aja. Cuma umumnya sih umat Islam yang pendidikan rendah akan ngamuk2 ndak terima dikritisi karena langsung dianggap menyerang keimanannya.

Pengkritik Islam dari Barat harus siap dicap Islam Phobia atau Islam Haters meskipun kritik mereka argumentatif dan berdasrkan riset (catatan penting: kalau yang tipe cemooh terhadap Islam tidak masuk dalam bahasan kita di artikel ini). Hanya di barat diskursus adalah hal biasa bagi mereka jadi yah ndak masalah mendapatkan cap Islam Phobia atau Islam Haters. Jadilah dialog kritis antar agama serta antara agamawan dengan athies/agnostik tetap aja dilakukan

Yang sulit adalah membangun tradisi devil’s advocate di negara Islam. Di Indonesia mungkin termasuk yang paling baik menerima sikap devil’s advocate ini. Paling-paling dibubarin FPI dengan gaya premannya. Kalau di Bangladesh baru-baru ini saja misalkan bloger bisa dibunuh hanya karena berperan sebagai devil’s advocate terhadap Islam. Dia mencoba memberi sudut pandang kritis maka bayarnya adalah kematian. http://www.theguardian.com/world/2015/aug/07/machete-gang-kills-secular-bangladeshi-blogger-niloy-chakrabarti

Kembali pada diskusi kritis tentang agama. Aku mungkin saat ini sudah “tuma’ninah” dengan diskurus mengkritisi Islam karena sudah terbiasa ikuti diskusi di kelompok2 model ini di Jerman selama belasam tahun. Hanya 1 hal yang ingin kukatakan kepada umat Islam Indonesia khususnya para intelektualnya bahwa kita membutuhkan Devi’s Advocate.

Intelektual Islam di Indonesia harusnya berterima kasih kepada mereka-mereka yang berani mengkritis Islam secara argumentatif. Mereka2 inilah yang memberikan kemewahan pada anda semua dengan menyediakan diri menjadi media untuk menguji manfaat dari pendidikan agama secara doktrin yang anda terima selama ini.

Jadi, sebaiknya para Intelektual Islam Indonesia harus mulai menerima para devil’s advocate menjadi bagian tradisi dialog kita beragama…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s