Tepat hari ini 7 tahun yang lalu…


Naura

München, pagi itu tepat 7 tahun yang lalu, aku bilang pada Nanikku, “Piye nduk, uda berangkat kerja ndak?!”
Jawabnya: “Kerja aja kok ndak apa-apa!”

Berangkatlah aku, menuju stasiun U-Bahn (Subway) untuk menuju kantor. Seperti biasa: buka laptop lalu login ke Software SAP. Asyik mulai otak-atik lakukan customizing.

Baru beberapa saat bekerja…, tiba-tiba telpon berdering, di ujung sana sang Nanik teriak-teriak kesakitan; “aduh, uda sakit ndak tahan!”

Detik itu juga, langsung cepat sambar Taxi pulang ke rumah. Zahra yang umurnya baru 3,5 tahun dengan bahasa tercadel marah ke aku: “Papa, kemana aja. Adik Zhafira (dia sudah tahu kalau bakal adiknya bernama Naura Zahfira), sudah mau lahir.

Segera berangkat ke Rumah Sakit. “Klinikum rechts der Isar – Technische Universität München” yang kami tuju. Di sana tempat persalinan sudah kupesan dan kusiapkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Jam 11, Nanik sudah berada di ruang bersalin. Jam 12, Naura Zhafira Ferizal pun lahir dalam berat 3,5 kg dan panjang 53 cm. Dalam 1 jam persalinan selesai. Oleh Dokter segera dicek, lalu ditimbang, diukur dan segera dibungkus dalam handuk.

Aku hadir menemani detik, demi detik Nanik bersalin. Aku menjadi penerjemahnya; sambil kupegang tanganya, lalu kuterjemahkan dokter bilang tarik nafas, tekan, tarik nafas, tekan keras…sampai akhirnya Naura pun lahir.

Saat kepala Naura muncul, segera dengan sergap bidannya tarik cepat itu kepala dan sampai Naura pun lahir dengan selamat. Kata sambutan pertama yang dilakukan Naura kepada kami semua saat lahir: menangis dengan sekeras-kerasnya!!!

Setelah dalam dekapan handuk, Naura pun diserahkan kepadaku. Kudepakan erat: kubisikkan Adzan di telingannya. Untuk dia tahu bahwa Allah SWT lah yang Maha Besar akan selalu menjaganya, begitu lah adzan itu kucupankan amat perlahan dengan gemuruh di dadaku begitu bergelora penuh harapan akan masa depannya.

Sekarang, di hari ini usia mu pun telah menginjak 7 tahun, duduk di kelas 1 Grundschule.
Kamu sudah pandai berhitung tambah, kurang sampai angka 20. Berhitung sampai 100.
Sudah mulai bisa mengeja bacaan dan menulis beberapa kata sederhana yang kata-kata Jerman memang sulitnya nauudzubilah!🙂
Sudah bisa mengucapkan kata-kata “greetings” B. Inggris.
Bahasa Jerman mu lancar dengan B. Indonesia terpatah-patah.
Ikut dalam paduan suara.
Menari Jawa dan Jaipong pun kamu bisa serta ikut lenggak-lenggok mode show. Ikut pertunjukan sirkus pun tidak ketinggalan.
Main bola, main kartu, main loncat-loncat tali, main catur, main monopoli, dll, dll…
Lihat film Lili Fee, Barbie, Monster High, Bibi und Tina, dll. dll..
Nyanyikan Taylor Swift, Ariana Grande, dll, dll…

Tapi yang kamu sukai belajar di alam sambil dengan berani memegang binatang dan berminat sekali mempelajari tumbuhan. Saat belajar di alam bersama Jagawana di hutan dan alam terbuka adalah saat-saat mengasyikkan buatmu tanpa rasa takut.

Saat kutanya ingin jadi apa besar kelak: jawabnya ingin jadi Guru seperti Wali Kelasnya Frau Teuchert yang cantik masih muda tapi penyayang atau kadang dia juga sebut ingin jadi Dokter.

Entah kenapa muncul ide ingin jadi dokter padahal imajinasi dokter disini (Jerman) buat anak-anak kecil itu tidak dekat. Menjadi suster malah lebih dekat dengan imajinasinya karena suster itu dia rasakan yang merawat mereka. Berbeda dengan di Indonesia, imajinasi dokter saat aku kanak2 di Indonesia melekat di anak perempuan karena para orang tuanya “mendoktrin” agar anaknya jadi dokter kelak🙂

Hanya sang Kakak bilang kalau Naura tidak cocok jadi guru.
“Papa, kalau lihat keberanian Naura saat belajar Sachunterricht (IPA). Naura itu suka dengan Biologi (maksudnya: tidak takut dengang binatang dan suka tumbuhan). Naura itu tidak suka omong banyak Papa. Dia cocoknya jadi dokter”, begitu si Kakaknya bicara meyakinkan padaku. Khas Zahra yang memang kalau bicara selalu cerewet dan meyakinkan.

Lalu aku pun bertanya ke Zahra: “Kalau Naura menurutmu cocoknya jadi dokter, lantas kamu mau jadi apa besok?”

Sergap Zahra yang duduk di kelas 5 Gymnasium: “Ich will Rechtsanwalt werden! – Saya ingin menjadi Jaksa

“Warum (kenapa)?”, kataku

Dengan tangkas Zahra kasih jawaban: “Weil…, ich ziemlich gut im Debattieren bin! Wießt du Papa, Sprache ist meine Waffe!” – Karena aku jago berdebat. Tahu kah kamu Papa, Berbicara itu (sesungguhnya) adalah senjataku!

Aku pun mengangguk saja sambil tertawa. Iya, iya mungkin kamu benar Zahra-ku, kamu cocok jadi jaksa atau pengacara dengan kemampuan lancarmu saat ini bisa 3 bahasa; Indonesia, Inggris dan Jerman serta telah lahap banyak ratusan buku. Kamu juga agaknya benar menganalisa adikmu yang amat suka dan amat berani dengan hal-hal yang berhubungan dengan alam.

Tapi biarlah nanti waktu yang menjawabnya. Tugasku cuma ingin membuat kalian berdua bisa berkembang sesuai dengan jati diri dan bahasa citra kalian saat menyambut masa depan.

Di hari ini, di usia Naura yang ke 7 aku cuma ingin mengucapkan pada kalian berdua: “Ich habe euch lieb für immer und ewig – aku menyayangi kalian untuk selalu dan selamanya!”

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s