Sonya Depari dan Budaya Hipokrit Masyarakat Kita


Sonya

Sonya adalah gadis remaja yang masih penuh dengan pemberontak jiwa layaknya kita dulu seumuran dengannya. Di Videonya yang tersebar kemana2 terlihat Sonya begitu angkuh membentak2. Iya memang tidak semua memberontak se-ekspresif dan se-PeDe Sonya. Tapi tetap saja itu cuma ekspresi masih batas “wajar” remaja pemberontak.

Dia tidak sedang melakukan kejahatan kriminal yang mematikan. Dia cuma melakukan ketidaksopanan serta tentu saja pelanggaran lalu lintas tidak bisa ditolerir. Itu sebabnya polisi bertindak. Dia ditilang!

Hanya masyarakat marah pada Sonya bukan karena pelanggaran lalu lintasnya. Masyarakat marah pada Sonya untuk sesuatu yang tidak signifikan dan ada bias hipokrit dalam marahnya. Sonya di-bully karena kurang ajar bentak-bentak polisi. Mengapa masyarakat bisa begitu hipokrit sehingga merasa paling santun sendiri?

Saat aku di Jakarta, aku bosan lihat masyarakat yang main bentak, main potong jalan seenaknya, maki-maki saat ditegur padahal dia yang salah. Itu adalah keseharian yang kutemui saat di Jakarta.

Ada juga yang pakai pakaian militer (entah tentara beneran atau tentara2an) salip antrianku untuk beli tiket bioskop. Ada yang ngamuk-ngamuk hanya karena soal sepele nyerobot Parkir. Kita protes maka malah dibentak ngamuk2 bilang bahwa keluarganya dari santuan keluarga besar Korps Elit Tentara (terpampang stiker di mobilnya untuk bukti ngayanya, padahal mbuh keluarga tentara beneran atau ngapusi. Lha wong cuma stiker kok).

Jadi, apa yang dilakukan Sonya itu adalah keseharian ada di masyarakat kita. Ngawur melanggar aturan saat ditegur malah maki-maki galak dan pamer2 punya kekuasaan, —itu adalah keseharian masyarakat kita.

Ada yang pakai Sirine segala untuk ambil jalan kita secara ngawur dan amat mungkin mereka tidak berhak untuk pakai sirine. Ada yang jalur Busway diterjang. Ada yang lampu merah diterjang. Paling sering Zebra Cross dianggap tidak ada.

Coba ada berani nyebrang di atas Zebra Cross tanpa “mengalah” pada pemakai kendaraan bakal ditabrak, paling sial anda dimaki: “He pakai mata kalau nyebrang!” Padahal kan Zebra Cross itu hak anda sebagai penyebrang.

Tapi jangankan Zabra Cross, lah wong palang pintu kereta api saja diterjang menunjukkan sok kuasanya dan tidak benarnya perilaku kita di ruang publik. Lah ini keseharian masyarakat kita bukan?

Aku jalan di Troatoar di Jakarta, karena kebiasaan di Eropa kalau cuma 1-2 kilometer yah jalan aja. Tubuh butuh begerak agar sehat dan fit sehingga tidak GMK (Gembul Mendahului Karir), apalagi karena kerja selalu di depan komputer jadi butuh jalan. Jadi, kalau cuma beberapa ratus meter lebih baik jalan aja. Ditambah lagi suasannya macet, makin membuat aku semangat jalan. Dari Hotel ke Kantor Klien aku jalan kaki.

Di trotoar pejalan kaki tiba2 aku dikagetkan klakson motor panjang “menggonggong”. Sambil tidak lupa bilang: “He Kampret! klo jalan jangan di tengah2. Ngalangi tahu!”

Bayangkan aku jalan di Trotoar Pejalan Kaki, bisa orang yang naik motor di atas trotoar tersebut ngamuk2 karena aku dianggap ngalangi jalannya😛

Jadi apa yang dilakukan Sonya itu sebenarnya cermin perilaku masyarakat kita sehari-hari. Lantas ketika Sonya melakukan hal itu seharusnya kita semua bercermin. Itulah cermin perilaku kita selama ini: melanggar aturan dan malah kita lagi yang ngamuk2 sok kuasa jika ketangkap basah melanggar!

Sonya cuma mencontoh dari perilaku kita semua. Tidak cuma Sonya tapi banyak anak-anak kita yang melakukan apa yang dilakukan Sonya karena mencontoh dari “keteladanan” kita semua.

Lantas apa yang membuat kita semua langsung mem-bully Sonya merasa sok suci bahwa perbuatan Sonya itu amat rendah sehingga dia harus menerima hukuman yang amat keji: di-bully seluruh masyarakat?!

Mestinya ini jadi titik awal bercermin kita: ada yang salah dengan tingkah pola masyarakat kita. Kita harus mulai bersama-sama membenahinya: ikuti aturan main, dan berani bertanggung jawab secara terhormat jika kita melakukan kesalahan. Bukan malah pamer2 sok kuasa!

Nah, nilai kehormatan seperti ini sudah pudar di masyarakat kita. Sonya cuma sebuah cermin kecil lunturnya nilai-nilai terhormat ini. Cilakanya bukan kita mulai sadar untuk bersama membenahi tapi malah berlomba-lomba merasa paling suci dan mem-bully apa yang dilakukan Sonya.

Sonya salah, iya dia salah. Tapi sadarkah kita semua kalau kesalahan Sonya itu sesungguhnya cermin kecil dari perilaku “wajar, normal dan keseharian” dari banyak di antara kita yang melakukannya?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s