Ustadz Jantung: “Sholat!”


Sholat-Awal-Waktu

Hari ini entah mengapa aku begitu amat sentimentil mengingat seseorang yaitu seorang Ulama Besar yang dulu tinggal di Hamburg yang amat aku hormati. Seorang yang mengajarkan banyak hal padaku tentang akhlak Islam yang teduh.

Di Hamburg aku pernah “nyantri” dengan seorang Ulama Besar keturunan Arab Betawi. Semua orang Indonesia yang cukup lama tinggal di Hamburg pasti mengenal beliau. Benar-benar tokoh Islam yang amat baik, santun dan mengajarkan Islam padaku dengan amat lembut.

Jangan ditanya ketawadu-annya, amat luar biasa. Apalagi akhlak beliau yang begitu baik, benar2 sulit dicari tandingannya. Begitu banyak orang Jerman masuk Islam karena salah satunya belajar Islam dari beliau; dari Ahlak yang terpancar padanya.

Jangan pula diragukan “kredibilitas” beliau sebagai penganut Islam yang amat taat. Juga seorang amat penyantun. Hampir semua mahasiswa Islam dari berbagai negara yang pernah kuliah di Hamburg di masaku kuliah, hampir pasti kenal beliau. Semua beliau santuni jika ada mahasiswa butuh bantuan.

Saking baiknya, tanpa pilah-pilih untuk menolong para mahasiswa, bahkan Mohammad Atta dari Hamburg (pelaku bom bunuh diri dengan terbangkan pesawat menabrak Gedung Kembar WTC Amrik), dkk., semuanya pernah juga numpang tinggal dan tidur di rumah beliau di Hamburg.

Gara-gara kasus beliau kenal Atta dkk inilah, hampir saja beliau celaka ditangkap Amerika. Untung pemerintah Jerman melindungi setiap orang yang tinggal di negaranya untuk mendapatkan pengadilan yang adil. Lalu pengadilan Jerman yang adil memutuskan beliau tidak bersalah sama sekali. Beliau terlalu baik untuk melakukan kesalahan serendah itu.

Aku selalu mencium tangan beliau saat bertemu. Uniknya, dengan senyum ramahnya kalau lihat aku dari kejauhan, beliau langsung sudah sodorkan tangannya; untuk dicium. Ini memang adegan lutju. Siapapun yang melihat hal ini pasti tertawa, karena di depan umum dan ini di Jerman lho, aku pasti cium tangan beliau klo bertemu. Aku begitu dekat dengan beliau dan amat hormati beliau seperti Santri amat menghormati Kyai Besarnya.

Eits, jangan salah, ini bukan bentuk feodalism. Beliau melakukan ritual agar aku cium tangannya (dengan bangga kukatakan) hanya aku yang diminta cium tanganya. Paling tidak orang lain tidak diminta seperti aku yang setiap kali ketemu “harus” cium tangannya. Mungkin ada yang cium tangan beliu karena hormat tapi tidak setiap ketemu seperti aku yang selalu beliau langsung disodorkan tangannya untuk dicium.

Itu menunjukkan saking dekatnya aku dengan beliau. Bahkan saking dekatnya beliau padaku, beliau memanggilku dengan sebutan khusus: “Jantung Hati”.
Eh, eh, Karane katanye ada lagu Betawi judulnya: “Jantung-Ati”.
“Nah, ane panggil ente si “Jantung Hati””

Akupun memanggil beliau dengan sebutan: “Ustadz Jantung”, sambil beliau terkekeh kalau kupanggil sebutan Ustadz Jantung.

Sayang sekali saat tahun 2013 saat aku pindah ke Hamburg, aku terlambat bertemu beliau. 1 minggu sebelum aku pindah ke Hamburg, beliau sudah meninggal dunia. Benar2 sesal tidak sempat bertemu beliau di saat-saat terakhir. Sekarang ingatanku kembali pada kenangan beliau belasan tahun lalu atas hikmah yang kudapat saat nyantri dengan beliau yang ingin ku-share dalam tulisan ini.

Hanya ada 1 hal yang amat kuingat saat nyatri pada beliau: SHOLAT dan Akhlak yang baik.

Aku tidak belajar tentang cara ngaji, tidak belajar tentang Fiqih, tidak belajar tentang syariat Islam, tidak, tidak tentang itu aku belajar dari beliau. Aku belajar 1 hal pada beliau yaitu menjadi seorang Islam yang Fundamental tapi penuh kasih sayang dan toleransi! Itu yang aku diajarkan oleh beliau.

Kita tidak menkaji Islam dalam bentuk pengajian atau ceramah. Aku belajar Islam dari beliau dengan melihat keseharian beliau sebagai muslim yang amat baik; penuh kasih sayang. Dengan moral untuk berbuat baik tanpa pamrih pada siapapun. Mendedikasikan hidupnya hanya untuk berbuat baik pada orang lain. Sampai hari ini aku tidak pernah bertemu orang yang punya sifat cinta kasih sebaik beliau.

Satu-satunya pelajaran yang amat dipaksakan oleh beliau padaku dan ini mutlak harus aku lakukan, jika sampai lalai maka beliau amat marah adalah: SHOLAT! (tentu saja kewajiban Puasa Ramadhan dan Zakat Fitrah adalah ibadah yang harus juga dijalankan, red).

Katanya padaku dalam bahasa logat Arab Betawi:
“Jantung Hati, ente boleh dengan kebebasan berpikir menggali Islam”.
“Ente boleh bebas gali Islam dan diskusi Islam menurut akal sehat dan nurani ente”.
“Itu ente bebas melakukannya supaya ente bisa bicara dengan para ilmuwan barat dan mengkoreksi mereka jika mereka salah paham tentang Islam”.
“Ente sudah besar, sekolah tinggi, banyak baca buku”.
“Jadi, ente pasti akan belajar untuk selalu mencari kebenaran”.
“Ente ndak perlu diceramahi atau dikasih nasehat, sudah pinter dan ilmunya sudah tinggi”.

“Tapi satu hal yang ente tidak boleh tinggalkan: SHOLAT 5 WAKTU dengan khusuk!”
“Dikarenakan sesungguhnya seorang muslim harus merasa selalu ingin dekat dengan Allah SWT”.

Dari nyantri dengan beliau inilah aku belajar untuk memaknai apa itu menjadi muslim sejati (menurut Hikmah yang kudapat secara pribadi), yaitu seorang muslim adalah:
1. Seseorang yang berpikir merdeka dengan akal sehat dan mendengarkan nuraninya
2. Seseorang yang akhlaknya baik penuh cinta kasih yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang lain
3. Seseorang yang melakukan Ritual Ibadah Sholat 5 waktu sebagai bentuk ketundukkannya dan kecintaannya pada Allah SWT.

Tentu saja 3 catatan yang kudapat dari pelajaran nyantri itu jauh dari sempurna karena memang keterbatasanku sebagai manusia. Hanya bagiku untuk memenuhi 3 hal itu saja sampai hari tetap saja aku jungkir balik dan jauh dari sempurna.

Akhirnya, malam ini dalam kesunyianku, aku teringat kembali akan pelajaran penting dari Ustadz Jatung yang dipaksakan padaku:
“Ayo Jantung Hati, jangan tinggalkan Sholat!”
“Pokoknya sholat jangan sampat ditinggal!”
“Sholat…!!!”

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s