Untuk Turki dan Pakistan, Doa Empatikku untukmu…


Pakistan Turki

Tulisan ini adalah catatan Refleksi Proses Belajarku selama 30 tahun lebih tentang memaknai Kejahatan Kemanusian yang dilakukan oleh sebagian umat Islam.

Pertama-tama sebelum kutuliskan refleksiku; aku, sebagai muslim, untuk penderitaan saudara-saudara ku di Turki serta di Pakistan beberapa jam lalu, tanpa melihat apapun agama dan kepercayaannya, aku berdoa penuh empatik pada mereka semua termasuk keluarga yang kehilangan orang2 yang mereka cintai. Semoga mereka tabah selalu. Semoga Allah SWT memberikan terbaik bagi para korban.

Refleksiku kumulai dari tahun 1985 lebih dari 30 tahun lalu…
Saat Candi Borobudur tahun 1985 dibom, aku tidak percaya sama sekali pelakunya orang Islam. Aku meyakini bahwa bom Borobudur itu fitnah ORBA terhadap agamaku Islam dan umat Islam. Lalu saat mulai tahun 2000 sampai dengan 2002 terjadi banyak bom dimana-mana di Indonesia, sebut saja: di Kedutaan Philipina, di Bursa Efek Jakarta, bahkan di malam Natal kelabu 2000 yang mematikan, aku tetap tidak percaya pelakunya itu umat Islam.

Aku tetap keras kepala menganggap pelakunya pasti bukan umat Islam meskipun berturut2 terjadi serangan bom dari Gereja HKBP, Plaza Atrium, Kedutaan Australia di bom. Saat WTC Amerika dibom dengan ditabrak 2 pesawat Jumbo Jet, aku pun masih ngotot itu pasti rekayasa barat dan intelejen barat yang Islam phobia yang berniat menfitnah umat Islam.

Tapi Allah yang Maha Penyayang akhirnya mengajarkan padaku akan perlunya menggunakan akal sehat. Keyakinanku atas pelaku kejahatan pasti tidak melibatkan umat Islam menjadi goyah, saat tragedi menyesakkan bom Bali. Aku sebenarnya sudah di Jerman tetapi bom Bali ini benar2 menguras emosiku sehingga aku benar-benar ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi di tanah airku.

Untunglah Indonesia saat itu sudah menjadi negara demokratis. Media cetak dan elektronik memberitakannya secara terbuka. Iman Samudera, Amrozi, dkk adalah pelakunya. Dalam persidangan yang begitu transparan, dilihat oleh semua orang dan sulit sekali ada rekayasa persidangan karena transparansinya yang diliput langsung oleh media elektronik, aku pun ikuti dengan seksama. Akhirnya lemas lah aku saat itu.

Hati kecilku saat itu mengakui bahwa pelakunya memang umat Islam. Hatiku harus mengakui bahwa bom-bom yang berseliweran selama ini sejak tahun 2000 sampai bom Bali itu memang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan sebagian umat Islam. Hanya meskipun hatiku mengakui bahwa itu kejahatan yang pelakunya adalah umat Islam, aku tetap berusaha membela diri.

Aku coba mengatakan pada hatiku, mereka mungkin frustasi karena di belahan dunia sana seperti Palestina umat Islam ditekan Israel yang dibela oleh Barat. Nah, bagi umat Islam yang tidak berpendidikan maka ungkapan frustasi mereka dengan gelap mata sehingga malah membunuh orang tak berdosa, begitu aku melakukan “pembelaan tidak logis” atas kejahatan mereka.

Pembelaanku untuk „membenarkan“ tindakan kejahatan umat Islam ini semakin goyah saat aku mulai mengikuti betapa jahatnya sebagian umat Islam melakukan genosida di Dafur, Sudan Selatan. Itu kejahatan keji kemanusiaan yang tidak kalah kejinya dari pada Isreal. Hanya ada beda uniknya, jika pada kejahatan Israel para Yahudi yang bukan Zionis masih mengecam kejahatan tsb, tetapi pada kejahatan di Sudan nyaris tidak aku dengar pemimpin atau umat Islam mengecamnya (mohon maaf jika mungkin saja ada, tapi kebetulan aku tidak tahu).

Yang lebih menarik justru banyaknya sangkalan dan sanggahan bahwa di Dafur tidak ada kejahatan. Itu cuma media barat saja yang membesar-besarkan, begitu pembelaan orang Islam pada umumnya. Jangan percaya pada media barat yang berkonspirasi ingin menghancurkan Islam, seperti itu lah keyakinanku dan seperti itu pulalah para umat Islam melakukan penyangkalan.

Hanya saat Taliban berkuasa di Afghanistan dalam waktu nyaris bersamaan dengan peristiwa Dafur, dengan rejim kekerasannya —termasuk kuingat betul Taliban yang iseng sekali membom Patung Budha di Afghanistan—, aku mulai amat tidak nyaman mendengarkan berita demi berita kekerasan yang dilakukan umat Islam. Juga saat yang sama Al Qaeda melakukan aksi teror bomnya dimana-mana. Aku berpikir mengapa kejahatan kemanusiaan seperti ini harus dilakukan oleh orang yang seagama denganku, yang notabene aku justru dari Islam belajar artinya kasih sayang. Pada titik ini aku sudah benar2 mengakui bahwa pelaku kejahatan kemanusiaan ini adalah umat Islam.

Dari mulai rasa prihatin yang dalam atas kejahatan sebagian umat Islam, aku berubah menjadi amat malu saat ini. Saat ISIS melakukan kejahatan begitu brutal dan frontal atas nama Islam. Hebatnya lagi, kita semua tahu bahwa ISIS itu organisasi Islam bahkan Anis Matta sebagai Presiden PKS kala itu malah membela ISIS. Anis Matta menuduh lebay bagi mereka yang ingin menghancurkan ISIS. Link sikap Anis Matta: http://nasional.kompas.com/read/2014/09/21/1141026/Anis.Matta.Sebut.Respons.terhadap.ISIS.Lebay.

Hanya saat ISIS semakin brutal perilakunya, dengan gampang umat Islam melakukan penyangkalan sambil bilang itu bukan Islam. Padahal jelas-jelas sekali: pemimpin, pelaku di lapangan dan semua simbol yang digunakan ISIS adalah simbol Islam. Alih2 umat Islam ikut menentangnya, justru malah dengan enteng menyangkal eksistensi ISIS sebagai bagian dari umat Islam.

Nah, dari sikap Ambigu masyarakat Islam pada umumnnya itulah, para Islam teroris ini memgambil keuntungan. Mereka merasa dapat simpatik dalam melakukan teror kematiannya terus menerus. Mereka pun melakukan di berbagai negara Barat di Eropa maupun negara-negara Islam.

Iraq dan Afghanistan adalah yang paling menderita. Turki, Pakistan, Mesir bahkan Indonesia pun menerima penderitaan teror ini. Mereka para pelaku teror seperti kehilangan akal sehatnya, yang ada di kepalanya adalah membunuh dan membunuh tidak peduli siapapun yang akan mati atas teror kematian mereka.

Aku bener-bener prihatin sekali dengan beberapa kali bom yang terjadi di Turki baru-baru ini dan juga termasuk beberapa jam lalu bom di Pakistan. Aku tahu baik Turki maupun Pakistan akan ambigu sekali menghadapi teror itu. Pasti sebagian masyarakat mereka justru membela dan bersimpatik terhadap teroris, seperti juga banyak orang Indonesia yang bersimpatik pada teroris karena mereka merasa sama-sama Islam.

Memang amat sulit untuk menerima kenyataan bahwa umat Islam yang seagama denganku adalah para teroris penyebar kematian. Aku sendiri butuh lebih dari 25 tahun untuk menerima kenyataan ini. Bayangkan dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2013 sikapku masih ambigu: dari mulai penolakkan pelakunya pasti bukan Islam, lalu penyangkalan, lalu pembelaan diri, lalu pengabaian, lalu hanya diam saja penuh ambigu!

Baru setelah lebih dari 25 tahun, aku berani jujur mengatakan pada diriku sendiri; iya pelaku kejahatan kemanusiaan yang keji itu adalah umat Islam. Bayangkan 25 tahun lebih waktu yang kubutuhkan untuk mau rendah hati mengakui itu semua! Jadi, aku bisa paham jika banyak umat Islam yang saat ini berempatik pada teroris, atau melakukan penyangkalan atau pembelaan diri atau pengabaian atau diam ambigu, seperti aku dulu.

Hanya setelah mengakui itu semua, apa tindakan selanjutnya?
Aku sadar, di umat Islam itu ada kelompok garis keras tanpa kompromi. Kelompok-kelompok ini menggunakan idiologi kekerasan untuk mencapai tujuannya. Mereka tidak segan2 melanggar hukum dalam melakukan kekerasan. Mereka pun tidak segan2 mengajak makar pada rakyat Indonesia dengan mengatakan Pancasila Haram dan Najis, yang harus dihapus di muka bumi untuk digantikan Khilafah Islamiyah mirip perjuangan ISIS ataupun Al Qaeda.

Cilakanya, justru idiologi kekerasan itu dibiarkan tumbuh subur di kampus-kampus di Indonesia, didoktrinkan ke anak-anak muda generasi kita. Saat bersamaan pelajaran agama Islam terutama pelajaran sejarah Islam tidak terlalu jujur diceritakan tentang kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan umat Islam di masa lalu. Umat Islam sering kali diajarkan bahwa kita selalu benar dalam sejarah. Tidak pernah diceritakan tentang perang saudara sesama Islam yang saling membantai secara keji. Tidak pernah diceritakan bahwa kerajaan2 Islam seperti Turki Ottoman melakukan kejahatan kemanusiaan dan genosida di Armenia misalkan, dll, dll.

Akibatnya, umat Islam dininabobokkan seakan sebagai umat yang tidak pernah melakukan kejahatan dalam sejarah. Ini membuat mereka tidak mudah menerima fakta bahwa banyak saudaranya sesama muslim yang bisa keji melakukan tindakan teroris untuk memperjuangkan kepentingan keyakinan kelompoknya.

Ini lah yang membuat umat Islam jadi ambigu dalam bersikap saat melihat kenyataan kejahatan2 yang dilakukan oleh sesamanya. Masalahnya hal ini terjadi secara seragam dimana-mana. Baik Indonesia, Turki, Mesir, Pakistan ataupun Malaysia semuanya ambigu dalam bersikap saat melihat kenyataan bahwa sebagian umat Islam itu pelaku teror kejahatan.

Buat Indonesia ini lebih berbahaya lagi. Kita negara Bhineka, kita benar-benar negara yang amat multi-etnik dan multi agama. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Untuk tindakan keamanan biarkan aparat keamanan yang menyelesaikan. Sementara buat kita umat Islam maka tindakan yag harus dilakukan:

1. NU dan Muhammadyah sebagai organisasi Islam moderat harus lebih aktif lagi menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai. NU harus mengurangi partisipasi berlebihan dalam politik praktis. NU harus mulai merevitalisasi pesantren-pesantrennya untuk menghasilkan para ustadz-ustadz yang moderat yang mengajar langsung di masyarakat di mesjid-mesjid kampung.

Muhammadyah harus mulai lebih mengurangi aktivitas badan usahanya untuk lebih terlibat pada kajian-kajian Islam yang moderat dan diajarkan di sekolah-sekolahnya.
Tidak lupa kedua organisasi ini men-counter pemikiran2 dari kelompok Islam yang mempromosikan kekerasan.

2. Menutup akses generasi muda kita disusupi idiologi kekerasan kelompok Islam politik yang umumnya dari Timur Tengah. Kita tahu Wahabi itu seringkali menggunakan kekerasan di negara ini. Kita juga tahu Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir malah di negara-negara Timur Tengah tempat mereka berasal adalah organisasi terlarang. Oleh karena itu, di Indonesia —andaikan kita tidak mau keras melarang seperti Timteng— organisasi garis keras ini harus ditutup aksesnya ke generasi muda kita.

Salah satunya adalah seperti yang dicontohkan UGM; kewajiban Asistensi Agama Islam (AAI) ditiadakan di kampus-kampus. Silahkan saja jika mau buat forum diskusi agama di kampus yang memang itu adalah kebebasan mimbar akademik. Tapi tidak boleh dalam bentuk kewajiban Program AAI di kampus (Asistensi Agama Islam) apalagi dikaitkan nilai mata kuliah Agama Islam. Program AAI ini diajarkan oleh kakak-kakak kelas, di luar kelas, dimana mudah disusupi oleh idiologi Islam garis keras. Sulit untuk dilakukan kontrol terhadap muatan isi AAI karena itu dilakukan di luar pengawasan dosen.

Bisa anda bayangkan, adik kelas yang masih lugu diplonco saja mereka amat takut ndak berani melawan. Nah, apalagi dalam program AAI dijadikan program wajib dan terkait nilai mata kuliah plus juga ditakut2i ayat serta tuduhan murtad atau kafir jika berani membantah doktrin mereka. Jadilah para mahasiswa baru ini melalui Program AAI menjadi makanan empuk idiologi kekerasan. UGM saat ini telah memelopori penghapusan Program AAI sebagai program wajib di kampus. Semoga kampus lain mengikutinya.

3. Dalam pelajaran Agama Islam dari mulai SMP paling tidak harus mulai diajarkan sejarah Islam secara jujur. Ajarkan keberhasilan Islam di masa lalu beserta hikmahnya. Tapi jangan lupa ajarkan juga kejahatan2 yang pernah dilakukan umat Islam dimasa lalu beserta pemaknaan yang benar agar itu tidak boleh terulang lagi.

Dengan cara mengajarkan secara jujur maka umat Islam ini akan segera mawas diri, jika ada sebagian dari mereka melakukan kejahatan. Nah, karena mereka sudah waspada maka mereka tidak lagi ambigu dalam bersikap. Jika ada sebagian umat Islam melakukan kejahatan maka umat Islam itu sendiri lah yang paling merasa bertanggung jawab mencegahnya. Mereka bukan menjadi pribadi ambigu tapi menjadi pribadi paling merasa bertanggung jawab untuk mencegah kejahatan yang dilakukan oleh sesamanya.

Sesungguhnya Generasi Muda NU sudah melakukannya, mengambil tanggung jawab untuk mencegah kejahatan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam. Tugas kita selanjutnya adalah semua umat Islam berpartisipasi tanpa ragu seperti yang dipelopori oleh para Generasi Muda NU. Seluruh Umat Islam harus jangan ragu untuk berperan mencegah kejahatan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam yang senang dengan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan!

Dini Hari di Musim Semi yang Kelabu
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s