Ayo PTN Top Sulitkan Pemberian Nilaimu!


2cfd041a8b01cf7d5f1626a802cc8f7d985dcdc1411c4078e90c5036f4f4b26f

Seorang sahabat saya yang brilyant, dosen PTN top, cukup terbelak bahwa IPK rata-rata mahasiswa di Indonesia itu 3,5!

Saya saat pulang ke Indonesia dan lihat proses perekruitan sebuah perusahaan juga tercengang: lulusan PTN Top UGM, UI, ITB itu IPK-nya berjibung diatas 3,5 dan banyak yang cum laude.

Yang membuat saya kaget adalah kemampuannya biasa-2 saja. Ndak ada yang membuat istimewa sehingga IPK-nya harus perlu 3,5 ke atas.

Kemampuan teorinya biasa saja, pemahamannya pada literatur asing sederhana saja, pemahaman atas persolan dan problem solving biasa aja. Jika IPK-nya 2,1-2,5 saya malah anggap itu bagus. Jadi antara nilai dan kualitas bisa dipercaya. Mereka pantas dengan nilai segitu karena memang mereka berkualitas standard. Maksudnya standard PTN Top kita!

Tapi klo IPK 3,5 keatas itu mereka harusnya extraordinary bahkan istimewa untuk ukuran PTN top kita. Mereka harus bisa tunjukkan extraordinary. Sayangnya kualitas mereka biasa-biasa aja dan standard.

Nah, penilaian obral murah ini berbahaya. Ini membuat generasi muda intelektual kita tidak bisa mengukur dirinya yang sebenarnya. Mereka pikir mereka hebat karena nilai diobral mudah diraih, yang terjadi sesungguhnya mereka biasa2 saja.

Ini membuat mereka tidak aware bahwa di belahan dunia sebelah sana, para kompetitornya harus kerja keras untuk sekedar mendapatkan raihan nilai: lulus! Untuk dapat lulus saja para mahasiwa di belahan bumi sana yang menjadi kompetitornya harus berjuang sampai batas kemampuan terluarnya. Berjibaku jungkir balik demi untuk dapat nilai lulus (alias 2 klo pakai standard kita).

Buat Para Petinggi terutama 3 PTN top yang menjadi “Trend-Setter” kualitas Universitas kita; mohon setting ulang sistem grading di universitas anda semua. Buat untuk dapat lulus dengan nilai 2,0 itu adalah memang mereka yang pantas lulus. Harus ada kerja keras untuk dapat lulus nilai 2,0. Jangan jadikan IPK 3,5 itu adalah nilai rata2 seluruh mahasiswa.

Untuk Pemerintah, HILANGKAN syarat adaministrasi masuk PNS dengan IPK 2,5. Itu syarat pembodohan yang membuat PT jadi obral nilai karena takut lulusannya tidak lolos syarat administrasi.

Harapannya ke depan PTN top lainnya akan ikut untuk tidak memberi nilai obral. Pada akhirnya semua PTN dan PTS akan ikut sistem grading yang benar2 mewakili kualitas mahasiswa sesungguhnya.

Jangan nina-bobok-an mahasiswa kita dengan nilai obral. Spirit fighter mereka akan melempem. Ingat mereka harus bertarung di Pasar Ekonomi ASEAN. Mereka harus disiapkan seperti pasukan komandon yang perlu berjuang keras untuk dapat baret komandonya!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

XXXXX

CATATAN TAMBAHAN: Berikut ini saya lampirkan melalui snipping tulisan tanggapan dari Prof IPB yaitu Bapak Muhammaf Firdaus di aku Facebooknya:

Susahnya Mendaparkan IPK Tinggi (Kasus di IPB)

Tulisan ini saya buat sesaat selesai dari tugas membacakan nama wisudawan Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada wisuda tahap V 23 Maret 2016. Sebagai apresiasi, predikat wisudawan dibacakan setelah menyebut nama orang tuanya. Namun hanya dua gelar yang disebut, yaitu sangat memuaskan dan Cum Laude. Untuk wisudawan yang lulus dengan IPK kurang dari 2,75, atau lulus dengan IPK lebih tinggi dari itu namun ada satu saja nilai mutu mata kuliahnya yang D maka tidak ada predikat yang dibacakan, dan juga tidak tertulis di ijazah lulusan.

Untuk memperoleh nilai Cum Laude, seorang lulusan harus mempunyai transkrip akademik dimana hanya
boleh ada nilai mutu C maksimum 1, dan itu pun hanya untuk mata kuliah yang bukan mayor atau dasar keahlian. Tentu saja indeks prestasi kumulatif (IPK-nya) harus di atas 3,5. Dengan demikian prestasi tersebut patut diapresiasi (dengan cara saya bacakan lebih keras predikat cum laude-nya saat wisuda). Karena selama delapan semester seorang mahasiswa mampu secara konsisten mempertahankan prestasinya. Peraturan yang berlaku menyebutkan bila mendapatkan nilai mutu C, mahasiswa IPB tidak boleh mengambil ulang mata kuliah tersebut dalam rangka memperbaiki menjadi B, AB atau A. Di beberapa tempat lain kadang malah diberlakukan semester pendek untuk memfasilitasi hal tersebut.

Keimpulannya, apakah susah mendapatkan IPK yamg tinggi di IPB? Jujur kondisi saat ini sangat berbeda minimal dengan 20-an tahun yang lalu. Saat itu IPB menerapkan sistem paket. Manakala mahasiswa gagal dalam satu mata kuliah, maka yang bersangkutan tidak naik tingkat, harus mengulang setahun perkuliahan. Di tingkat satu, ssitem ujian pun bukan ujian tengah dan akhir semester. Hampir setiap malam minggu diisi dengan ujian mata kuliah. Pengalaman saya, dari sekitar 1.300 mahasiswa seangkatan, tidak ada 2 persennya yang lulus dengan predikat Cum Laude. Artinya, susahnya mendapat IPK tinggi sebagaimana cerita awal tadi, belum sesusah masa kulaih beberapa dekade sebelumnya.

IPK memang bukan satu-satunya faktor penentu sukses seseorang. Beberapa studi seperti College Grades and Adult Achievement oleh Peter Cohen, menunjukkan kerelasi keduanya ternyata lemah.

Suatu survey terhadap lebih dari 400 CEO di AS menunjukkan bahwa dari 20 faktor penentu sukses, IPK menempati urutan ke-17. Kemampuan komunikasi, integritas dan kemampuan kerjasama adalah beberapa hal teratas yang dianggap lebih menentukan. Tapi IPK memang merupakan indikator yang paling terukur dari tingkat keberhasilan proses belajar di Perguruan Tinggi saat ini. Dan tidak salah juga toh berfikir sederhana: Sudahlah IPK-nya bagus, kalau aspek ketrampilan hidupnya dapat dipoles dengan berbagai aktivitas intra dan ekstrakurikuler tentu sosok lulusan menjadi ideal. Yah memang tidak perlu dipertentangkan antara IPK dan aktivitas organisasi mahasiswa misalnya.
Karena keduanya lebih sering bersifat komplementari.

Jadi belum perlu rasanya mempermudah lagi sistem penilaian untuk IPK mahasiswa saat ini. Karena di IPB, target rata-rata IPK pun di atas 3, bukan 3,5.

Muhammad Firdaus
GB FEM IPB

ps: artikel ini dibuat sebagai respon terhadap tulisan Ferizal Ramli, yang menyebutkan mendapatkan IPK di beberapa PTN Top seperti UI, ITB dan UGM, mudah. Memang IPB tidak disebut di sini, entah karena penulis tahu itu tidak terjadi di IPB atau mungkin IPB bukan dianggap PTN TOP. Padahal berdasarkan pemeringkatan resmi oleh Kemenristekdikti tahun 2015, IPB berada di urutan 3, bahkan urutan pertama untuk kriteria SDM.
imho.

01IPB
02IPB

Serta ini TANGGAPAN BALIK DARI SAYA atas respon Pak Prof. M Firdaus di samping kiri ini:

Berikut ada beberapa point yang menjadi tanggapan saya balik:
1. Saya bukan dosen UGM, saya adalah konsultan bisnis dan praktisi industri yang kebetulan bertugas di Eropa/Jerman. Jadi, tulisan saya adalah tulisan dari perspektif user dalam konteks kompetisi global.

2. Tujuan Tulisan saya saat mengkritisi secara umum IPK rerata di Indonesia yang amat tinggi adalah untuk mengingatkan berbahaya buat kita semua jika sistem grading ini tidak kita perbaiki dengan benar. Ini spirit saya menulis tulisan “Ayo PTN Top Sulitkan Pemberian Nilaimu!”

3. Penting untuk dipahami saat saya kutip pernyataan sahabat saya (yang kebetulan dosen UI) mengeluh bahwa rerata IPK di Indonesia (sekali lagi mohon Pak Muhammad Firdaus baca baik2, itu sinyalemen untuk rerata PTN/PTS Indonesia bukan cuma bicara UGM, UI atau ITB) adalah IPK-nya 3,5.
Untuk kembali dicatat dan dibaca pelan2 itu adalah sinyalemen untuk IPK rerata di Indonesia.

Biar lebih jelas saya copy paste ulang kalimat yang saya tulis: “Seorang sahabat saya yang brilyant, dosen PTN top, cukup terbelak bahwa IPK rata-rata mahasiswa di Indonesia itu 3,5!”

Kalimat ini penting untuk diresapi oleh Pak Muhammad Firdaus, supaya beliau TIDAK terjebak pada label institusi seakan ini bicara tentang IPK rerata 3 PTN top. Lalu terjadi bias persepsi perdebatan IPB termasuk top atau tidak🙂

4. Pada testinomi saya, berdasarkan pengalaman saya (kalau ini saya tidak sedang menjudge IPK rerata lulusan 3 PTN top), saya hanya memberikan kesaksian pengalaman saya. Saya terlibat dalam proses mewawancari kebetulan kadidatnya 3 PTN top yaitu UGM, UI dan IPB mereka ber IPK 3,5 keatas serta cum laude.

Sayangnya kok malah dimaknai bahwa saya mengatakan IPK rerata lulusan 3 PTN top tadi adalah 3,5. Ini pemaknaan yang tidak tepat pada tulisan saya. Lebih tidak tepat lagi saat ada mempertanyakan kok IPB tidak saya anggap PTN Top. Pertanyaan ini semakin tidak pas, karena memang saat saya bicara saya bertemunya dengan 3 PTN tadi, yang kebetulan tidak ketemu lulusan IPB. Jadi testimoni saya yah tentang 3 PTN tadi yang saya anggap top🙂

5. Pada IPB sendiri ternyata juga nilainya tidak sulit meskipun “lebih sulit” dari sinyaleman sahabat saya dalam konteks rerata nasional (sekali lagi mohon dibaca, rerata nasional bukan dalam konteks UGM, UI dan ITB). Menyandur sinyalemen sahabat saya disinyalir IPK-nya mahasiswa Indonesia rata2 3,5 an.

Kembali kita bicara IPB, sebagai PTN terhormat, ternyata nilai IPK IPB jika pakai indikator data yang ada dipublish di google juga ndak sulit-sulit amat.

Mari kita pahami data ini secara datar saja:
Tahun 2010 rerata IPK IPB itu 3,13 dengan trend naik sebagai kecenderungannya.
Ini linknya: http://news.ipb.ac.id/news/id/63c6db26c321c2dda8a67ecb0ae53434/lulusan-ipb-ipk-rata-rata-di-atas-3-0.html

Ada juga tambahan data lain di tahun 2014 meskipun cuma parsial yang mengatakan 90 Mahasiswa IPB mencapai nilai sempurna 4.00 alias semua A.

Saya kutip pernyataan ini: JAKARTA – Sebanyak 90 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dilaporkan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yaitu 4,00.

Demikian disampaikan oleh Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto dalam capaian nilai mahasiswa Tingkat Pertama Bersama (TPB) untuk semester satu. Terkait prestasi mahasiswa, 90 mahasiswa yang mendapatkan IPK 4,00 tersebut, rata-rata keseluruhan memiliki IPK 3,9.

Link: http://news.okezone.com/read/2014/02/22/373/945058/wah-90-mahasiswa-ipb-raih-ipk-sempurna

Benar bahwa data diatas tidak bicara IPK IPB secara keseluruh karena saya sebagai masyarakat umum tidak mendapatkan data itu dari google. Hanya tetap informasi yang saya lampirkan diatas menunjukkan bahwa para pemimpin dan pakar IPB perlu merumuskan standard persepsi yang jelas apa sebenarnya arti sulit meraih nilai di IPB itu?

Tentu saja ini lebih menjadi tugas bapak/ibu yang pakar di pendidikan.

6. Kembali pada tujuan saya menulis adalah ingin agar masyarakat Indonesia “aware” tentang sistem grading kita. Sistem grading yang baik akan selain membuat mahasiswa kita bisa mengukur dirinya, juga membuat mereka tidak terlena dengan raihan angka2 cemerlang tanpa perjuangan serius.

7. Selain itu juga untuk autokritik sistem penerimaan pegawai kita terutama PNS termasuk bea siswa yang meletakkan persyaratan administrasi IPK sebagai kriteria KO bagi calon pelamar, misalkan kalau IPK tidak 3,00 tidak boleh daftar bea siswa. Kriteria KO untuk administrasi malah akan membuat PT terpaksa “melonggarkan” sistem penilaian mahasiswanya agar lulusannya bisa lolos persyaratan administrasi.

Berangkat dari situasi itu maka perlu pemerintah bahkan dunia industri tidak meletakkan IPK sebagai kriteria KO untuk persyaratan administrasi.

Salam Hangat

Ferizal Ramli

8 thoughts on “Ayo PTN Top Sulitkan Pemberian Nilaimu!

  1. Indonesia itu butuh gelarnya saja dengan predikat tertinggi, soal keahlian pasti perusahaan bakal training lagi, jadi ip tinggi menjadi tolak ukur untuk masuk pekerjaan, dengan cara apapun pasti mahasiswa/i akan ambil demi dapat ip tinggi

  2. Tanpa data omkos.. Setau saya ya kalo d kampus saya susah bgt buat dpet nilai minimum C aja.. Harus lembur belajar siang malem.. Tapi ya emang osinya anak2 pinter semua ya tetep aja banyak yang bisa n nilai bagus.. Padahal bisa d bilang tingkat kesulitannya udah paling susah.. Soalnya pada dasrnya yang masuk PTN fav itu susah.. Jadi y g heran kalo emang nilainya gede2.. Bukan maksud gmna2 tapi ya panas aja bacanya wkwkwk dpet di atas 3 aja penuh perjuangan..

    XXXXX

    Panas karena terbiasa berpikir sempit. Nanti klo dia melihat dunia yang lebih luas baru tahu itu PTN yang dia pamerkan keliru!🙂

    Salam

    FR

  3. dilematis juga untuk para pengajar, terutama ada beberapa tekanan terhadap pengajar. Ada batasan waktu kuliah yang tidak bisa kompromi sehingga lebih baik meluluskan dari pada mengambil resiko mengulang mata kuliah atau sebagainya.
    Ya toh apakah sepenting itu ya IPK pada akhirnya? kalau memang dunia luar sana sudah mengerti bukan IPK yang dibutuhkan untuk bersaing.

  4. Saya sangat setuju dengan pandangan panjenengan. Lulusan PTN kita tidak memiliki sesuatu yang bisa menggambarkan capaian nilai IPK mereka. Saya sedang research tentang bagaimana membuat mahasiswa kita benar-benar belajar bukan sekedar mencatat penjelasan dosen atau bahkan malah hanya jeprat-jepret power point dosen. Saat mereka diminta untuk memecahkan masalah tertentu, klimpungan. Bolehkan saya mendapatkan data yang lebih akurat tentang kalim ini?

  5. Saya mahasiswa semester awal, diawal IP saya ga begitu memuaskan, saya terima dengan baik, namun banyak kenalan saya yang kemampuannya gajauh beda dengan saya, mendapatkan ip 3,5-4,0 sangat mudah, kenapa? kempali ke kualitas dosen, bahan ada kasus dimana ketua kelas memberi nilai, kalau sudah seperti itu, kualitas dosen harus dipertanyakan.

  6. Mungkin Ada hubungan nya dengan budaya Nyontek Di Indonesia. Kalo soal persulit nilai, saya kurang setuju sih, saya juga lagi kuliah Di luar Indo, disini malah dosen sangat membantu dan transparan dengan cara dia memberi nilai, tergantung kitanya saja mau milih di grade berapa, Karena kriteria sudah dituliskan jelas, bahkan semua slide, materi dan reading list sudah disapkan. Jadi buat mature students ga penting kejar nilai, plus banyak yg kuliah sambil kerja, jadi ga mati2an dapat High Distinction. Di indo Sebagian besar nilai Dari sitting exams, jadi wajar saja dapat nilai tinggi.

  7. Semua pendapat ada benarnya.. intinya kan agar para mahasiswa mau lebih giat belajar.

    Tapi saya rasa lebih baik jika proses skripsi yang diperbaiki..
    Saat ini dikebanyakan perguruan tinggi (termasuk PTN unggulan) mengizinkan mahasiswa mengerjakan skripsi secara kelompok..
    Cara ini biasanya hanya menghasilkan beberapa anggota kelompok yang cuma numpang nama saja..

    Tentang instansi menghilangkan batasan IPK dalam seleksi pegawai masuk sangat tepat.
    Banyak yang cerdas tapi malah rendah IPKnya karena terlalu asyik meneliti atau berkarya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s