SBY dan Antidot-nya


Tour-De-Java-Mantan-Presiden-SBY-Disambut-Hangat-di-Ciamis-1024x614_c

Kasus “Tour de Java vs Tour de Hambalang” adalah bukti bahwa cara opisisi SBY melalui medsos dan media tidak efektif hadapi Jokowi. SBY akan terus mati langkah jika pakai cara mengkritisi Jokowi melalui corong Medsos dan Media. Apapun langkah yang sudah dibangun susah payah untuk memukul Jokowi, jika SBY hanya mengandalkan pencitraan di media dan medsos, hanya dalam sekali gebrakan akan berantakan bahkan malah menghujam kembali ke ulu hati amat meyakinkan.

Hanya saya pribadi mendukung SBY mengkritisi Jokowi dan menjadi oposisi terhormat bagi pemerintahan Jokowi saat ini. Saat ini tidak ada lagi lawan yang seimbang untuk menjadi oposisi pemerintah Jokowi. Selama SBY membangun budaya oposisi terhormat maka saya yakin banyak orang yang idialis bahkan mereka-mereka yang mendukung Jokowi sekalipun, tetap akan memberi respek besar pada perjuangan SBY. Membangun tradisi oposisi itu adalah dakwah mulia yang berguna bagi bangsa Indonesia.

Masalahnya mengkritisi Jokowi ini tidak mudah apalagi SBY selama 10 tahun menjabat punya begitu banyak coreng-moreng pembangunan. Apalagi jika mengkritisi Jokowi dengan cara membangga-banggakan hasil pembangunannya maka SBY melakukan „harakiri“ politik. Andaikata pun hasil pembangunan SBY mutlak jauh lebih baik dari Jokowi, maka jangan SBY himself yang membangga-banggakan tapi biar masyarakat yang mengatakan.

Menjadi persoalan besar justru saat ini masyarakat merasa pembangunan Jokowi amat baik, SBY malah mencibir dengan membangga-banggakan dia lah yang lebih baik. Yah, sudah pasti cara oposisi melankolis ini malah justru membuat SBY di mata masyarakat terlihat selalu mati gaya.

Sebenarnya ada cara amat efektif untuk menjadi oposisi terhormat bagi Jokowi yaitu:
(1) Menjadi advokasi Masyarakat yang tersisihkan karena tidak berhasil disentuh secara baik oleh kebijakan Jokowi, misal meng-advokasi masyarakat yang „ditelantarkan“ BPJS. Jadilah SBY membentuk Tim Pelayanan Kesehatan bagi masyarakat yang ditelantarkan sekaligus ikut serius mengkritisi BPJS, bisa juga dicari isu lain yang penting itu menyentuh persoalan masyarakat.

(2) Membela kepentingan nasional untuk isu-isu yang dianggap Jokowi salah tapi SBY tidak punya dosa sejarah di isu tersebut. Isu-isu seperti kontrak Migas dan Minerba yang Jokowi lemah, isu tentang lingkungan, isu tentang pemerataan pembangunan, dll. Nah, isu itu dibela oleh SBY untuk kepentingan nasional. Hanya ini pisau mata dua, jika SBY pernah punya dosa sejarah disini maka malah berbalik memukul SBY. Jadi hati-hati di isu seperti ini.

(3) Buat Satgas dan Pokja seperti kebiasaan SBY suka dengan kepanityaan seperti ini yang tujuannya memberi karya pada masyarakat. Libatkan Partai Demokrat disini. Kasarnya mirip perbuatan2 kongrit seperti Gerakan Indonesia Mengajar. Lakukan untuk banyak gerakan lainya yang menginspirasi masyarakat di seluruh daerah dan nusantara. Dengan ini masyarakat melihat bahwa SBY meskipun tidak menjabat lagi tapi tetap bekerja untuk rakyat, jadilah jika SBY kritisi Jokowi maka ini berarti karena kecintaannya pada rakyat Indonesia.

SBY semestinya bisa melakukan oposisi dengan cara diatas dikarenakan SBY memiliki semua potensi yang ada: popularitas sebagai mantan Presiden, dana dan resources yang relatif tak terbatas, Partai Demokrat yang merupakan partai besar dan solid, dll, dll… serta paling penting lagi ada waktu untuk mewujudkannya masih 3,5 tahun sebelum 2019.

Jadi jika sekarang SBY mulai dengan cara oposisi seperti ini maka bukan tidak mungkin akan ada ”Hillary von Indonesia di 2019”

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s