Adi Sasono, Aku si Dekil dan Sang Wedodari…


Pak Adi Sasono di eranya dikenal sebagai tokoh Ekonomi Rakyat, Cendikiawan Islam yang amat Idealis membela kepentingan rakyat. Saat Pak Adi Sasono diangkat menjadi Menteri Koperasi oleh Pak BJ Habibie maka program-programnya dikenal amat pro rakyat untuk memajukan Usaha Kecil Memengah kala itu. Sayang pemerintahan Pak BJ Habibie berlangsung tidak lama. Jadilah, begitu BJH tidak menjabat Presiden, pak Adi Sasono tidak menjabat Menkop kembali.

Tentu saja tetap ada kritik pro-kontra atas kebijakan Pak Adi Sasono ini, hanya tulisan ini tidak membahas pro-kontrak tentang kebijakan Pak Adi Sasono saat beliau menjadi tokoh dan pimpinan publik. Tulisan ini adalah coretan curcolku membahas tentang cerita memori indahku dengan Sang Wedodari saat masa-masa kuliah dulu di Yogyakarta tercinta 2 dekade lalu…

XXXXX

Ini terjadi di tahun 1995-an. Aku memang sudah tidak terlalu sekali miskin kerenya dibandingkan 1-2 tahun sebelumnya tapi tetap saja masih cukup amat kere sebagai mahasiswa. Kemana-mana jalan kaki di sekitar kota Yogya karena ndak punya cukup uang, cuma untung sering dapat pinjaman motor karena punya banyak teman🙂. Tidur nomaden; numpang dari rumah teman satu ke rumah teman lainnya karena ndak ada uang untuk bayar kost tapi ini pun bisa terjadi karena banyak teman yang baik mau menolong.

Tapi untunglah Pak Adi Sasono menjadi orang tua asuh Program Orbit (ICMI) sehingga beliau memberi bea siswa untukku. Bea siswa yang amat tinggi untuk ukuran saat itu Rp 300.000 per bulan. Bandingkan dengan Bea Siswa Supersemar yang amat terkenal kalau tidak salah cuma 50.000 per bulan. Artinya bea siswaku amat sangat banyak sekali.

Hanya tetap itu mepet, karena itu uang tidak cuma untukku tapi juga buat adik perempuanku yang biaya sekolah dan hidupnya dibawah tanggung jawabku. Kala itu benar2 masa2 yang amat getir dalam hidupkku berserta Emakku dan Adik-adikku yang semuanya perempuan. Kita sekeluarga harus survival untuk mewujudkan cita-cita masa depan kita.

Tapi ndak apa-apa. Ndak usah dipikir dengan masa-masa sulit. Masa-masa sulit itu tidak akan pernah berakhir tapi para petarung-petarung ulet akan bisa menikmatinya dan mengatasinya. Jadi, meskipun aku dalam masa-masa sulit kuliah tetap kunikmati dengan prinsip hidup pantang hidup menjomblo.

Yah, yang namanya kuliah itu harus punya pujaan hati dan belahan jiwa. Miskin, kere itu nasib. Dekil dan kurus ndak terurus adalah konsekuensi atas nasib. Tapi hidup menjomblo itu adalah kesalahan. Seorang lelaki, apalagi aktivis pantang untuk jadi jomblo. Begitu banyak gadis-gadis cantik diluar sana masak milih menjomblo. Buka mata, buka telinga, saat ketemu yang paling menarik maka buru sampai dapat! Aktivis itu pantang menjomblo! –begitu keyakinan prinsip hidupku😀

Singkat kata bertemu lah dengan gadis Yogya yang lembut, manis dan kalem sekali. Kalau bicara lembut dan selalu dengan senyum. Ndak pernah nunjukkan rasa tidak suka. Sejuk bahkan teramat sejuk. Wah ini cocok sekali buatku. Ini namanya sang Wedodari impianku, begitu kata hatiku penuh keyakinan.

Namanya juga aktivis kere maka andalannya saat approach yah cuma yang dimiliki ”Speak-Speak-Janji” serta ”Sejuta Puisi” harus dilancarkan. Pokoknya dia harus diyakinkan bahwa aku kredibel untuk dipilihnya.

Setelah serangan gigih kulancarkan maka iya, aku mulai menangkap sinyal si gadis mulai melirik padaku. Hanya kan ndak bisa dong approach si manis hanya dengan andalkan ”Speak-Speak-Janji” serta ”Sejuta Puisi!” Harus ada bukti kredibel disini untuk membuktikan meskipun guwe ini mahasiswa kere, dekil tapi kredibel! —begitu pikirku dalam hati. Tapi bagaimana caranya?

Nah kebetulan Pak Adi Sasono, yang saat itu begitu amat menginspirasi gerakan reformasi, diundang ke kampus UGM. Wah, pikirku ini bagus aku harus temui Pak Adi, karena aku merasa amat dekat sama beliau. Sekalian aku ajak ah si gadis manis incaranku bertemu Pak Adi Sasono. Akan kuperkenalkan pada beliau langsung…

Singkat kata setelah selesai seminar semua orang (mahasiswa) saat itu berebut ingin dekat dan ngobrol dengan Pak Adi. Aku tenang saja dengan si manis nunggu di pintu menuju ruang makan. Sabar menanti Pak Adi dikerubungi para fans mahasiswanya yang notabene temen2ku juga. Malah banya yang caper sok akrab dengan Pak Adi kala itu.

Nah, begitu persis Pak Adi keluar, beliau melihat aku, spontan beliau tertawa lebar ramah negur aku: „Mas Ferizal, wah makin ganteng saja anak muda nih!“
Bayangkan apa ndak haibaat…, Pak Adi Sasono memuji aku di depan si Manis dan orang banyak (hahaha… lha wong saat mahasiswa aku ini dekil, malah dipuji makin ganteng oleh Pak Adi Sasono di depan si manis, apa ndak sebuah kehormatan😀 ). Tidak lupa kuperkenalkan si Manis ke Pak Adi Sasono himself, direkt! Pak Adi pun menyambut hangat perkenalan itu dan si manis cuma tertunduk selalu dengan senyum simpulnya. Belum cukup sampai disitu, beliau pun tanya: „Sudah makan belum?“

Jadilah saat itu, Pak Adi dan rombongan kecilnya, mengajak aku dan si manis pun makan siang bersama dengan tamu undangan. Aku duduk disamping Pak Adi Sasono sambil ngobrol ketawa-ketawa. Si manis cuma diam, hanya senyum tersimpul seperti biasa menghiasi sudut bibirnya selalu.

Setelah itu, aku dan si manis pulang. Kita pun berboncengan motor lebih erat lagi. Mungkin pikirnya, kalau Pak Adi Sasono yang begitu hebat saja mempercayai ”Mas Uda Fe, maka kenapa aku musti ragu untuk mempercayainya”, kira-kira begitu tebakanku mencoba menjadi dhukun membaca jalan pikirnya…

Jadi, itulah pentingnya menjadi aktivis. Meskipun kere, dekil dan kuliah rodo telat lulus tapi bakat ”Speak-Speak-Janji” dan ”Sejuta Puisi”-nya itu terasah dan teruji sampai tingkat mahir. Ditambah dapat pujian dari tokoh publik yang terhormat jadilah itu sebuah bukti untuk dipilih sang belahan hati untuk membuat janji sehidup semati…🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Catatan: Ini photo Lawas saat ketemu Kopdar dengan Pak Adi Sasono di Jakarta beberapa tahun lalu bersama kedua sahabatku. Beliau masih segar dan sehat selalu…
1074375_10201401580872301_971113576_o

One thought on “Adi Sasono, Aku si Dekil dan Sang Wedodari…

  1. Ping-balik: Bapak Adi Sasono tutup usia | Ferizal Ramli's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s