Forum Diskusi Online: KAVIR (Kagama Virtual) dan ISNET (Islamic Network)


istock_000004921290xsmall

Saat ini mungkin saya tercatat bergabung puluhan atau mungkin ratusan group diskusi baik Facebook maupun Whatsapp. Dari sekian banyak group diskusi maka ada 2 Group yang saya cukup intens menyimaknya yaitu KAVIR dan ISNET.

Saya mengikuti forum diskusi online mungkin sejak tahun 1995-an saat masih nyantri di Yogya, ndak lama setelah kenal email dan internet. Saat itu mulai coba-coba diskusi online, dan mulai agak intensif diskusi tahun 1997. Diskusi saat itu baru dalam posisi email yahoo dengan “reply all”. Masih amat sedikit saat itu yang terlibat dalam komunikasi online di Indonesia.

Setelah diskusi “Email Replay All”, mulai lah muncul milist “Yahoo Group”. Ini mulai diskusinya intensif, kalau tidak salah tahun 2001 atau 2002 an, saya mulai asyik ikut milist group. Tahun 2004-an, karena saya yang sudah beberapa tahun di Jerman maka amat kangen dengan tanah air, untuk saat itu sudah mulai temen KAGAMA aktif diskusi di Yahoo Group.

Di komunitas Kagama muncullah group-group diskusi milis Yahoo dari seperti UGM Club, Kampung UGM, Kagamamuda dan terakhir Kagamavirtual (Kavir). Semenjak ada Group Facebook maka diskusi pun berubah sekarang tidak lagi di milis yahoo tapi di Group Facebook.

Nah yang paling menarik adalah Group Kavir. Ini mungkin Group terbesar di Facebook di Indonesia yang amat aktif diskusinya dan intens penuh intimasi persahabatan karena satu Almamater UGM, tapi juga penuh dengan intimidasi pertarungan ide dan opini karena saling mempengaruhi “lawan diskusi”. Anda bisa mempekaya sudut pandang disini.

Ada 14.000 lebih anggotanya dari seluruh jaringan alumni UGM sedunia dan terus bertambah, yang akibatnya diskusinya 24 jam tidak pernah berhenti karena saat malam di Indonesia, di Eropa masih sore, saat Eropa mau malam, di Amerika baru saja sedang panas2nya memicu hari. Jadilah diskusi tanpa kenal waktu saling bersahutan dari berbagia belahan benua.

Nah, Kavir adalah Group Plural khas Intelektual Indonesia dari Sabang-Merauka, dari berbagai suku bangsa, dari berbagai agama, dari berbagai etnik, dan berbagai perbedaan lainnya yang disatukan oleh satu value: sama-sama pernah dididik di Kampus Biru Ndeso Gadjah Mada.

Nah, karena karakter inilah maka ini menjadi laobaratorium sosial buat saya. Jika saya punya pemikiran betapapun liarnya pemikiran itu maka pemikiran tsb akan saya uji di ruang diskusi Kavir ini. Ini seringkali saya jadikan tempat “Test the Water” untuk mengukur feedback dari pemikiran saya. Jangan khawatir diskusi disini selain gayeng ala Ngyoyogyakarto Hadiningrat tapi juga bisa frontal dan brutal tanpa tendeng aling-aling.

Jadi, dari sini saya bisa tahu apakah pemikiran saya dapat diterima atau ditolak di komunitas yang Bhineka Tunggal Ika ini, di dalam level cendikia. Ini bagus sehingga bisa mengira-ngira apa respon masyarakat umum karena sudha diuji di laboratorium sosial Kagama Virtual.

Nah, pemikiran-pemikiran yang sensitif tentang agama, batasan tabu, dll akan menarik di-test di Group Kavir ini. Tentu saja pemikiran-pemikiran intelektual dalam ekonomi, sosial, budaya, politik, agama, sains, teknologi, kesehatan juga amat menarik di-test disini. Dikarenakan UGM itu universitas paling komprehensif di Indonesia. Jadilah alumninya adalah pakar dan cendikia dari semua bidang ilmu. Pemikiran apapun pasti akan ada ahlinya yang akan menanggapi dari bidang dan kompentensi keahliannya.

Selain Kavir yang juga sering saya amati adalah suasana diskusi di ISNET. ISNET (Islamic Network) adalah Group Diskusi mungkin yang tertua yang masih eksis dan aktif sampai sama saat ini. Group ini awalnya merupakan komunikasi para mahasiswa Indonesia Islam yang kuliah di Amerika kemudian menyebar melibatkan intelektual Indonesia lulusan dari belahan dunia manapun.

Group ini jika tidak salah berdiri tahun 1988-an. Banyak tokoh-tokoh cendikia Islam yang terlibat dalam dikusi di group ini dan bahkan masih berlangsung hingga sekarang meskipun mereka sudah menduduki posisi penting di berbagai bidang. Komunikasi tetap mereka lakukan.

Saya termasuk “new comer” di Isnet ini, dimulai dari milis Isnet beberapa tahun lalu akhirnya di Group Whatsapp Isnet. Layaknya komunikasi para terdidik yang sudah saling mengenal aturan main komunitasnya maka bahasa yang dipakai pun tanpa tende aling-aling dan blak-blakan.

Saling serang argumentasi secara tajam disertai jurus-jurus pilihan kata yang ciamik mematikan, serta gingkang tenaga dalam data dan informasi pengetahuan dipancarkan dalam diskusi tersebut yang kadang secara sadar by design untuk membunuh argumentasi “lawan diskusi”. Hanya suasana “persahabatan” tetap terasa.

Dari Group Isnet ini saya bisa menangkap suasana kebhatinan serta mainstream pemikiran para intelektual Islam Indonesia yang terdidik di pendidikan luar negeri. Saya bisa merasakan apa yang menjadi konsern para intelektual Islam, merasakan idialismenya dan merasakan cita-cita yang mereka perjuangkan.

Akhirnya, dari diskusi online ini saya bisa menikmati suasana khas Indonesia meskipun belasan tahun di luar negeri. Memang indah menjadi orang Indonesia, keakrabannya tidak bisa tergantikan. Jika pun saya punya keluhan dalam diskusi adalah: isu politik dan agama sering kali mendominasi dalam setiap group diskusi.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s