Mesjid Köln dan Salam Hormat Saya yang tidak terkira pada Umat Khatolik Jerman


csm_Zentralmoschee_Koeln__c_DITIB_BUNDESVERBAND_01_1df18ce318

Mosque-Cologne-dpa

004   6196780

Yth Umat Khatolik semuanya…

Saya pribadi mengucapkan salam hormat dan tabik saya yang tiada terkira. Saya sungguh tidak mampu mengucapkan kata apapun buat anda. Bagi saya, kalian umat Khatolik Köln khususnya, adalah pribadi2 amat baik yang penuh toleransi tiada terkira yang sungguh menginspirasi. Tertunduk hormat saya tiada terkira pada anda semua…

Saya tahu persis bahwa Köln adalah salah satu Kota Suci Umat Khatolik di Eropa. Katedral “Hohe Domkirche St. Petrus” menjadi saksi sejarah tentang kota suci Köln bagi umat Khatolik Jerman maupun Eropa. Berdiri megah yang dibangun sejak hampir 1.000 tahun lalu. Itu menjadi kunjungan peribadatan umat khatolik Eropa bahkan dunia, selain tentu saja kita (non Khatolik) nikmati sebagai atraksi turis karena kemegahannya. Saya tahu Köln adalah salah satu kota suci buat anda semua umat Khatolik.

Nah disana, di Köln inilah berdiri Mega Mesjid Super Mewah seakan mengimbangi kemewahan Katedral anda. Mesjid ini hanya berjarak kira-kira 2 km dari Katedral Khatolik terbesar di Jerman ini. Mega Mesjid Monumental itu berdiri megah seakan mengimbangi kemegahan Sang Katedral anda.

Hebatnya lagi Cologne’s St. Theodore Catholic Church juga ikut memberi bantuan para umat Islam yang ingin membangun mesjid yang konon khabarnya merupakan Mega Mesjid yang paling megah di Jerman.

Saya sungguh bercampur-aduk perasaan saya antara kagum dengan toleransi tinggi umat Khatolik dan… sungguh, jujur saya punya perasaan malu sebagai muslim. Saya mememdam rasa malu tiada terkira atas berdirinya Mega Mesjid ini bertetanggaan dengan Kemegahan Katedral anda.

Terpikir pada saya sebagai muslim, kenapa kok umat Muslim yang tinggal di Jerman umumnya numpang hidup agar bisa lebih layak disini, menjadi immigran, dan bahkan banyak dari mereka hidupnya juga dibantu oleh Dinas Sosial Pemerintah Jerman, harus membuat Megah Mesjid Super Megah di Kota Suci Khatolik Jerman, seakan mau imbangin kemegahan Katedral Khatolik mereka?

Tidakkah terpikir empatik kita sebagai muslim kepada umat Khatolik Köln dan Jerman bahwa kita “menyakiti” mereka dengan membangun Mega Mesjid Super Mewah di kota sucinya?

Hanya, umat Khatolik Jerman memang sungguh keteladanan amat sangat. Mereka toh menginjinkan bahkan juga ikut membantu pembiayaan.

Saya hanya berpikir, apakah umat Islam Indonesia, yang katanya Islam ini kita yakini agama toleran dan masyarakat Indonesia ini katanya menghormati perbedaan, mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh Umat Khatolik Köln?

Pada titik ini saya pribadi memaknai pembangunan Mega Mesjid Megah Köln sesungguhnya adalah tempat saya berkaca tentang apa arti toleransi dan empatik yang sesungguhnya…

Sekali lagi Umat Khatolik Köln dan semua umat Khatolik lainnya ucapan terima kasih saya yang tiada terkira. Semoga kami, umat Islam dimana pun kami berada, bisa membalas kebaikan anda dengan menjadi pribadi2 yang mampu memberi manfaat pada orang lain tanpa membedakan agama, suka, ras, etnik, bahasa dengan bersikap adil!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

16 thoughts on “Mesjid Köln dan Salam Hormat Saya yang tidak terkira pada Umat Khatolik Jerman

  1. Maaf sebelumnya, no offense, hanya sekedar berbagi..kenapa mas malu menjadi muslim?di indonesia jg toleransi lbh tinggi, dg berbagai agama malah. Contoh: indonesia itu terkenal dg negara dg mayoritas muslin dan kita saling toleransi dan hidup berdampingan, mesjid istiqlal saling berdampingan (lebih tepatnya) berhadap2an dg gereja katedral.dari dulu sampe skg pun ttp aman damai.lebih berbanggalah dg apa yg kt punya mas. Once again, no offense

    XXXXXX

    Iya mesjid Istiqal berdampingan itu karena kita (Umat Islam) juga yang meminta agar dekat dengan Kemegahan Katedral yang sudah ratusan tahun menjadi simbol di Jakarta (dulu mungkin masih bernama Batavia). Pak Karno lihat bahwa jika mesjid dibangun sama megahnya disana maka itu pasti bagus untuk toleransi. Baru pada jaman Pak Harto mesjid itu dibangun. Itu bagus jadi simbol ada Katedral Tua yang usia ratusan tahun monumental lalu kita bangun mesjid modern megah di sampingnya yang tidak kalah kharismanya dengan Katedral tsb. Saya setuju ini adalah bentuk toleransi. Kita perlu kasih point hormat pada Kristian atas kesediaan bertetangga beribadah. Toh kita Bhineka Tunggal Ika. Kita sama-sama hidup di Indonesia.

    Hanya klo di Köln rasa malu itu tampaknya perlu ada. Islam di Jerman ini adalah imigran yang umumnya baru datang beberapa puluh tahun belakang ini. Paling lama moyang mereka baru tinggal sejak tahun 1950 bahkan sebagain besar lebih baru lagi datangnya. Dalam banyak hal mereka kesini karena mau mencari hidup yang lebih layak. Jadi sebaiknya ndak perlu lah harus memaksakan diri membuat mesjid semegah Istiqal, Indonesia misalkan sebagai pembandingnya.

    Toh klo Istiqal boleh dibangun persis didekat Katedral Tua yang sudah ratusan tahun berdiri yah karena memang kita Islam mayoritas. Ijinkah kemegahan Islam ada berdampingan disamping kemegahan katedral tua yang berusia ratusan tahun. Saya pikir masih batas2 wajar. Tapi klo di Köln itukan Islam minoritas kecil yang hidup disini dan “numpang” hidup sebagai imigran. Yah, empatik dikitlah masak harus memaksakan diri ngimbangi tradisi mereka yang sudah ribuan tahun kristen sih?🙂

    Proposional saja lah. Ndak perlu show off gitu.

    Itu moral point yang ingin saya sampaikan sekaligus memberi pemaknaan yang benar dengan konteks Jakarta.

    Salam

  2. Sahabat dan saudaraku Muslim, kita sama2 sepakat dengan kata toleransi itu. Baiklah kita pupuk tolerasni itu agar tumbuh subur di atas persahabatan dan persaudaraan kita serta dalam koridor perikemanusiaan dan peri keadilan. Kita bersatu dan bersama memupuk toleransi itu hingga berbuah indah

  3. Rasanya kurang tepat kalau malunya sebagai muslim ya. Tapi lebih kena kalau mau malu kepada pribadi beberapa orang yg mengaku beragama muslim tapi berbuat ria atau sombong dengan membangun masjid indah dan megah sebagai tempat ibadah. Karena umat muslim yang menjalani gaya hidup dengan berlebihan jelas2 dilarang didalam AlQuran. Tapi yah namanya juga manusia.. mereka adalah ujian bagi manusia yg lain. Yg membedakan pada akhirnya bukan pendapat atau reaksi di medsos tapi amal dan perbuatannya selama di dunia. Mari baca AlQuran dan mengamalkannya.. karena AlQuran adalah panduan hidup di di dunia bukan buat pajangan di lemari. 😊

    • Papua sdh menunjukkannya…!!! Datanglah ke papua dan belajarlah toleransi di sana. Seharusnya semoga muslim di pulau jawa mencontoh umat katolik jerman.

  4. Untuk refleksi kita semua bangsa Indonesia: Jangan sampai ada lagi….kasus2 ingin membangun gereja di Indonesia yg malah di permasalahkan….izin nya belum ada karena belum dapat persetujuan umat muslim di sekitarnya. Se olah2 membangun gereja itu layaknya membangun tempat maksiat saja…. harus minta izin masyarakat muslim disekitarnya. Contoh kasus gereja St Clara di Bekasi, kasus gereja Yasmin di Bogor…dan masih banyak lagi contoh2 lain. Marilah kita bangsa Indonesia mulai skarang mncontoh sikap toleransi bangsa Eropa yg Kristen yg mau menolong dan menerima bangsa lain seperti pengungsi Irak, Suriah, Afganistan yg mayoritas Muslim untuk tinggal dan menetap mencari kehidupan yang layak dan lebih lebih baik di negara2 Eropa seperti di Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Belgia, Denmark dll. Mari kita ciptakan bersama kondisi dan kehidupan yg damai dan penuh toleran serta penuh kasih sayang di Indonesia….bahwa kita betul2 bangsa muslim yg penuh toleran.

  5. Semoga para mayoritas di Aceh, Bekasi, Bogor, dll membuka mata akan berita ini ya…buktikan agama anda memang baik, jangan cuma promosi melulu, talk less di more! :v

  6. Bukan hanya di Papua, di semua wilayah Indonesia, terutama agama yg minoritas ada harus juga dihormati dan dihargai dalam mendirikan rumah ibadah. Tdk dijegal dengan aturan yg aneh-aneh.

  7. setiap agama baik adanya, tergantung bagaimana kita memyikapi dan mengimaninya. dalam ajaran gereja katolik, umat katolik dan gereja DIHARUSKAN bekerja sama dengan seluruh umat manusia yang berkinginan baik. salam, katolik indonesia

  8. Mungkin lebih jelas apabila kita dapat melihatnya secara jernih. Pernahkah Kita mencoba menghitung berapa Gereja yg dibakar (tidak termasuk Gereja yang ,sudah mendapat izin pendiriannya namun dihalangi pembangunannya) oleh masa yg intoleran walaupun pendiriannya sudah mendapat izin resmi dari Pemerintah, bahkan didukung oleh keputusan pengadilan tertinggi di negeri ini? Contoh yg jelas adalah Gereja di Aceh, Bogor, Bekasi Utara.

    XXXXX

    Hallo Halim,

    Jika anda punya data valid silahkan di-share. Saya tidak punya data valid tentang hal itu. Yang saya ikuti dari media adalah turunnya toleransi di masyarakat kita dan ini tanggung jawab kita bersama dari semua agam untuk memperbaikinya.

    Salam hangat

    Ferizal Ramli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s