Bagaimana Intelektual Indonesia itu bergerak? – Bincang Kecil dengan Pak Agus Martowardjojo dan Mas Anies Baswedan


9aa9fc99-54df-44f7-bbbd-fa12657bd182

Ini cerita tahun lalu. Sesaat sebelum Penerbangan Singapura Airlines Frankfurt – Jakarta bergerak, saya berkesempatan ngobrol-ngrobrol santai di ruangan VVIP Bandara Udara Frankfurt dengan Pak Gubernur BI Agus Martowardojo menemani sahabat lama saya Mas Menteri Anies Baswedan. Sambil ketawa senda gurau, beliau Pak Agus, iseng-iseng bertanya pada saya: „Mas Feri, saya (maksudnya: Pak Agus, -red) kadang bingung. Indonesia itu sebenarnya sudah „on the right track“ dan berjalan cukup baik. Tapi kenapa para intelektualnya yang seharusnya menginspirasi rakyatnya supaya optimis malah mereka sering bicara tidak betul dan nakut2in; di media selalu bicara tentang kesuraman selalu?“

Tentu saja saya juga mengangguk bingung. Hanya saya teringat tentang cerita repotase apik dari TV Publik Jerman ZDF yang bercerita tentang latar belakang penyatuan dinasti Jepang: “Japans Krieger – Kampfkunst der Samurai”. Ini bercerita tentang latar belakang Jepang menjadi bangsa hebat yang amat menarik.

Saat itu, para Samurai (catatan: Samurai adalah strata tertinggi di masyarakat Jepang kala itu) amat banyak. Hanya masalahnya mereka “idle capacity”. Mereka terhormat di mata masyarakat, dikagumi tetapi mereka tidak punya pekerjaan nyata karena sudah “terlalu banyak” samurai di masyarakat Jepang. Yang terjadi akibatnya justru samurai yang seharusnya menjaga martabat masyarakat tapi malah merusak dengan cara menjadi preman dan memeras masyarakat dengan kekuatan yang dimilikinya.

Masyarakat Jepang mengarah ke chaos dan “distrust” terhadap samurai serta Shogun yang berkuasa. Saat bersamaan Barat mulai datang dan menekan Jepang. Nah, titik menarik adalah yang dilakukan oleh Shogun Tokugawa Ieyasu untuk mengatasi situasi ini. Sang Shogun berkeyakinan bahwa Samurai yang menganggur itu amat berbahaya dan malah merusak masyarakat. Jadi, cara yang dilakukan adalah diberdayakan. Shogun pun memutuskan Perang dengan membawa para Samurai ini untuk mengkonsolidasi Jepang menjadi satu. Perang besar pun berkobar seluruh Jepang serta para Samurai mendedikasi keahlian seni bela dirinya untuk membangun masyarakat Jepang yang lebih baik; siapapun yang berani menghambat akan dikalahkan. Jadilah, setelah itu Jepang mengalami restorasi Meiji, dengan pemerintah kuat dan modern yang membuat Jepang bangsa yang dihormati di dunia sampai sekarang.

Moral point dari repotase ZDF tentang Jepang ini: : “Japans Krieger – Kampfkunst der Samurai” adalah jika seorang samurai yang punya posisi dan strata terhormat di masyarakat menganggur maka mereka menjadi parasit yang berbahaya merusak masyarakat. Jadi, mereka para samurai harus dikasih lawan yang seimbang supaya mereka sibuk berkompetisi untuk memenangkan persaingan. Dengan mereka berkompetisi maka kemampuannya akan bisa dimanfaatkan secara optimal.

Hal yang sama saat ini terjadi di Indonesia. Para intelektual kita saat ini mirip dengan kisah samurai Jepang kala itu: mereka “idle capacity”. Akibatnya, mereka malah jadi pengganggu di masyarakat. Mereka malah ngerecokin dengan opini-opini “sesat” dan “suram”-nya. Mereka membangun sentimen2 perpecahan yang tidak perlu baik gunakan sentimen agama, ras, suku, dll hanya untuk membuatnya terlihat eksis dan agar tidak terlihat terbuang. Ilmu yang mereka miliki karena kapasitasnya “idle”, malah digunakan untuk hal yang kontraproduktif. Ini yang terjadi pada banyak intelektual kita saat ini yang malah ilmu yang dimiliki bukan sebagai penerang tapi merusak.

Nah, saya sempat bilang ke Pak Agus; ”Pak, kita suruh saja seperti samurai Jepang dulu. Buat saja para intelektual kita ”berperang” (baca: kompetisi) dengan bangsa lain! Kalau mereka perang perang maka mereka justru akan serius mengoptimalkan ilmu dan skill yang dimilikinya untuk memenangkan persaingan. Intelektual yang setengah2 akan terbantai dalam kompetisi, sementara intelektual sejati akan menjadi ”front runner” bagi Indonesia menjadi bangsa yang besar dalam kancah global.

Caranya? Sederhana saja, kita kan sudah punya kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) untuk mulai dijalankan tahun 2016. Nah itu berarti para intelektual, profesional dan akademisi kita benar2 akan bertemu dalam lawan-lawan seimbang dari negara lain dalam pertempuran kapitalis global yang brutal dan frontal. Jika mereka TIDAK serius bertarung maka mereka akan terbantai. Jadi buka saja itu pasar bersama MEA tanpa ragu. Dari pada para intelektual dan profesional kita sibuk terus berorientasi mengkritisi ke dalam karena mereka kurang kerjaan maka biarkan mereka tempur di MEA. Dikarenakan saat lawan2 dari seluruh negara ASEAN datang ke kandang kita maka mereka (para intelektual dan profesional kita) harus hadapi itu. Ini akan menjadikan ”kawah chandradimuka” buat kita semua untuk bisa survive dalam kompetisi global ini.

Kita punya peluang bisa jadi pemenang. Kita punya modal sejarah besar. Tradisi besar kita dari mulai Sriwijaya, Majapahit, Demak, dll adalah tradisi besar. Kita inspirasi negara-negara Asia-Afrika untuk merdeka. Kita Pemimpin terdepan negara-negara non blok. Kita pemain politik dominan di ASEAN yang merupakan pasar besar dengan potensi penduduk lebih besar dari Uni Eropa.

Apalagi kita meyakini saat ini pembangunan kita ”on the right track”. Artinya, pemerintah kita saat ini berjalan dengan mekanisme yang relatif baik. Tetap saja terus ”on the right track” dipertahankan dan membangun sinerji bersama dalam kompetisi MEA. Strategi, metoda dan teknis bisa dirumuskan bersama. Hanya yang terpenting kita punya modal kuat untuk menang: (1) pemerintah ”on the tight track”, (2) relatif banyaknya intelektual dan profesional yang dimiliki serta (3) angkatan kerja muda usia produktif yang besar. Ini modal besar kita untuk bisa dominan secara ekonomi di ASEAN asal kita bisa rumuskan strategi, metoda dan taktik yang tepat.

Jadi, pasar Ekonomi ASEAN malah menjadi ”medan perang” yang baik buat para intelektual dan profesional kita sehingga tidak lagi ”idle capacity”. Mereka jadi harus tempur karena musuhnya datang di depan mata. Sekali lagi, buka saja lebar-lebar Pasar Besar Ekonomi ASEAN. Ini bisa membuat para intelektual kita tidak cuma jadi ”jago kandang” yang kerjaannya merusak isi ”kandang” tapi jadi pemenang dalam kompetisi global yang frontal dan brutal.

Sayang diskusi tidak bisa lebih lanjutkan karena moment ini amat indah untuk ber-photo bersama dulu…🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s