Kandidat Presiden Amerika: Kritis versus Konservatif Agama, dan Cermin bagi Kita


Screen-Shot-2015-10-07-at-11.11.39-AM

Dari Demokrat tampaknya bisa jadi Hillary Clinton yang maju sebagai kandidat Presiden AS.
Cerdas, pendidikan dari World Class University Yale, toleran dan liberal bahkan amat liberal ciri khas orang Barat yang pro HAM. Saking liberalnya dia pendukung utama LGBT di Amerika dan isu-isu sex lainnya yg oleh agama tabu. Dia ndak terlalu percaya bahwa yang menurut moral agama tabu itu ada manfaatnya untuk dipertahankan. Hilary adalah tipe pemimpin yang kuasai persoalan dengan pikiran jernih dan akal sehat. Hanya secara emosional, banyak masyarakat Amerika menganggap Hilary terlalu liberal pilihan sikapnya terutama jika menyangkut norma-norma kehidupan yang tabu seperti isu-isu sex dan keluarga. Tapi uniknya Hilary mempunyai keluarga utuh hingga saat ini.

Dari Republik tampaknya bisa jadi Donald Trump yang maju sebagai kandidat presiden AS.
Donald Trump khas orang konservatif beragama. Kemana-mana bicara Tuhan lalu berakting amat agamis tapi ironis bisnisnya tercatat banyak di urusan maksiat atau minimal hedonis serta penuh intrik. Seperti umumnya kebiasaan orang konservatif agamis maka dia akan tidak toleran dengan orang beragama yg beda. Dia anggap kepercayaan dialah (dalam hal ini kristen) yg paling benar. Jadilah Islam yg bukan agamanya dimusihin, immigrant dimusuhin serta isu-isu agama konservatif lainnya termasuk menganggap wanita sebagai subordinat lelaki. Trump saat bicara terlihat amat banyak bicara tentang pembelaan umat kristiani dan nilai-nilai kristiani. Dia menempatkan diri seakan sebagai “Guardian Angel” bagi umat Kristiani AS dari musuh bebuyatannya yaitu para muslim. Dia pun berpandangan amat konservatif tapi uniknya kehidupan keluarga Donald Trump itu seperti rock n roll yang dikelilingi para model-model cantik.

Jadi mana yg akan rakyat Amrik pilih? Jika itu adalah Kandidat Presiden Indonesia kira2 anda milih mana?


Indonesia Bercermin: Pertarungan Aliran Pemikiran Konservati vs Kritis

Masyarakat Indonesia itu tampaknya punya kemiripan dengan masyarakat Amerika yaitu sama-sama masyarakat yang heterogen dan sedang terjadi pertarungan aliran pemikiran yang terkait dengan agama. Isu-isu konservatif agama bertarung dengan isu-isu kritis terhadap agama. Kelompok konservatif ini umumnya suka dengan simbol-simbol agama meskipun secara esensi perilakunya hedonis dan intoleran berhadapan frontal dengan kelompok kritis terhadap simbol-simbol agama yang cara pikirnya liberal dan amat memuja akal pikirannya.

Hedonisnya kelompok konservatif bisa dilihat kalau dalam konteks Indonesia mereka akan pakai simbol agama, terutama Islam, secara menonjol. Saat bersamaan mereka pun akan tanpa ragu memamerkan gaya hidup hedonis, pamar kekayaannya, bahkan minta fee besar atas jasa dakwah yang harus diterimanya menjadi kelumrahan. Tidak lupa mereka akan berbisnis “profit oriented” untuk mendapatkan keuntungan nyata dari setiap program “dakwahnya”. Ustadz-ustadz selibritis dan Politisi Partai Islam yang sukses yang hidup secara hedonis adalah contoh nyatanya. Masyarakat pun menjadikan itu adalah panutannya dalam berperilaku hedonis.

Liberalisnya kelompok kritis terhadap agama terlihat dari penolakkannya cara pikir konservatif yang mengartikan ayat-ayat Tuhan secara saklek berdasarkan teks. Kelompok ini sering kali “terlalu” menggunakan akal sehatnya untuk membuat pemaknaan atas ayat secara konteks serta disesuaikan dengan kondisi serta situasi. Tidak jarang mereka meninggalkan tafsir-tafsir lama atas ayat yang mereka anggap itu penginggalan abad pertengahan. Mereka anggap itu sudah tidak bermanfaat lagi dalam konteks saat ini. Akibatnya kelompok ini sering kali cenderung toleran atas perbedaan dengan agama lain termasuk juga terlalu longgar terhadap isu-isu yang dianggap tabu oleh agama.

Secara umum, jika tokoh konservatif berhadapan-hadapan langsung dengan tokoh-tokoh kritis maka tokoh-tokoh kritis lebih unggul dalam pemahaman masalah serta penguasaan persoalan. Hanya tokoh-tokoh konservatif ini lebih mudah berkomunikasi dengan dengan masyarakat awam dikarenakan mereka punya satu thema yang mudah diterima pengikutnya: “Sentimen Agama”. Jadi meskipun saat dimintakan untuk memamparkan idenya secara rasional sering kali gagap saat berhadapan dengan kelompok kritis, tapi dengan sentimen agama membuat kelompok konservatif mampu memobilisasi dukungan masyarakat awam secara solid.

Fenomena pertarungan 2 aliran budaya berpikir ini saat ini terjadi baik di Indonesia maupun di Amerika tampaknya pada posisi sama ketatnya. Kita tidak tahu saat ini mana yang lebih akan mendikte di masa depan. Semoga saja pertarungan ini tidak menyebabkan pertikaian di level masyarakat bawah. Hanya jika kita berkaca pada Eropa dan Timur tengah serta Latin Amerika maka ini menjadi amat menarik…

Eropa pertarungan antara aliran pemikiran konservatif dan kritis sudah lama sekali selesai. Sudah ratusan tahun lalu persoalan ini sudah dimenangkan oleh kelompok Kritis atas agama. Jadilah Eropa yang kita kenal dan lihat saat ini. Silahkan dimaknai sendiri…
Sementara di Timur Tengah pertarungan ini relatif tidak terjadi karena kelompok kritis terlalu kecil sehingga mudah ditindas dan digilas. Kita bisa lihat seperti apa kehidupan Timur Tengah yang mayoritasnya adalah aliran konservatif beragama (Islam). Silahkan dimaknai sendiri…
Latin Amerika juga secara umum konservatif beragama (Khatolik). Hanya pertarungan antara kelompok konservatif agama dengan kelompok kritis nyaris tidak terdengar. Andaikan kita dengar ada pertarungan lebih banyak pertarungan para gangster hedonis berebut lahan keuntungan. Itulah wajah Amerika Latin yang kita lihat.

Indonesia dan Amerika berbeda dengan Eropa, Timur Tengah dan Latin Amerika. Di Eropa, Timur Tengah dan Latin Amerika saat ini relatif sepi dari pertarungan antara aliran konservatif dan kritis. Di Indonesia dan Amerika justru sedang hangat-hangatnya perbenturan kedua aliran ini. Hilary dan Trump sesungguhnya adalah bentuk simbolik atas pertarungan ini. Jika benar nanti yang maju sebagai kandidat Presiden AS adalah Hilary vs Trump maka ini akan menjadi laboratorium sosial buat kita semua untuk melihat manakah yang lebih kuat di Amerika saat ini antara aliran pemikiran Kritis atau Konservatif. Lantas bagaimana hasil selanjutnya dalam kehidupan bermasyarakat. Ini menarik kita cermati karena sesungguhnya masyarakat Indonesia kurang lebih para suasana kebathinan yang sama dengan masyarakat Amerika dalam konteks ini.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

One thought on “Kandidat Presiden Amerika: Kritis versus Konservatif Agama, dan Cermin bagi Kita

  1. Pak Ferizal, saya boleh minta referensi bacaan untuk masalah pertarungan antara kaum konservativ dengan kaum yang kritis dengan agama di Eropa ini? Terimakasih banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s