Refleksiku pada Dr. Zakir Naik


Naik

Dulu 10 tahunan lalu, saat aku baru pertama kali sekolah ke luar negeri, dengan B. Inggris yang levelnya baru lumayan standard boleh kuliah di LN, aku terkagum2 dengan Dr. Zakir Naik. Berjam-jam diskusinya kudengar dalam berbagai ceramahnya. Apalagi saat di Indonesia dulu, diajarin agama itu jarang sekali dalam bentuk diskusi. Kita dulu lebih banyak didoktrin belajar agama. Jadi, bagiku Dr. Zakir Naik itu oase ilmu yang berlimpah tiada terkira.

Dengan Dr. Zakir Naik, —selain serasa keren dalam B. Inggris (maklum baru ke luar negeri jadi klo bisa mengikuti diskusi B. Inggris perasaan keren bergelayut di hati), aku merasa inilah sejatinya intelektual Islam yang cerdas. Dia bisa bicara lancar dan hapal banyak buku. Aku saat itu amat mengangguminya dan seakan setiap mendengar ceramahnya imanku semakin tebal.

Tapi itu tidak lama berlangsung, aku mulai melihat ada banyak salah logika dari Pak Dr. Zakir Naik ini dan kadang dia memaksakan untuk menguasai panggung dengan gaya kharismanya mengalahkan lawannya. Dia bisa jadi singa panggung yang hebat. Buat politisi ini performa yang bagus sehingga orang akan terpesona karenanya. Tapi ini buat pembelajaran umat, omongan Dr. Zakit Naik ini membuatku sering kali misleading memahami realitas. Cilakanya aku tinggal di Jerman, negeri dimana dialektika adalah nafas hidupnya. Pendapatku, jika salah akan dibantai terbuka oleh temen2 diskusiku.

Saat aku berdiskusi (karena hobbi-ku) dengan kelompok diskusi orang-orang Jerman baik di Uni Hamburg, München dan Frankfurt, aku kedodor-2an dipermalukan mereka karena menggunakan argumen Dr. Zakir Naik. Jadilah di mata para mahasiswa-mahasiswa Jerman yang umumnya Agnostik atau malah Atheis, atau banyak juga Nasrani yang Rasionalis, aku bisanya cuma “plonga-plongo” dengan logika waton ngotot tokh karena merasa ilmu yang kudapat dari intelektual Islam Dr. Zakir Naik kedodoran berdiskusi dengan mereka.

Dalam pembelajaran maka kebenaran sains menjadi penting untuk melihat argumennya berdasarkan fakta, bukan berdasarkan fantasinya dengan didukung kharisma belaka. Setelah beberapa kali aku nonton Dr. Zakir Naik, kuputuskan untuk tidak mendengarkan lagi omongannya. Aku lebih suka melanjutkan membaca puisi Jalaludin Rumi untuk kontemplasiku agar jiwaku tentram.

Aku membaca tulisan Ibn Rusdy dan para pengikutnya dan semua terkait dengannya. Asyik sekali menginspirasiku bahkan para intelektual Eropa pun terinspirasi oleh Ibn Rusdy ini sehingga mereka tercerahkan. Justru setelah itu, aku malah bisa asyik debat seimbang dengan lawan-2 diskusiku. Aku menjadi seorang Islam yang penuh pride dan dignity mempertahankan argumenku diantara temen2 diskusi yang agnostik, atheis atau beragama kristen rasionalis.

Malam ini aku ndak sengaja melihat Dr. Zakir Naik berdiskusi dengan seorang Mahasiswa Kedokteran “anak Kemarin Sore” tentang Teori Evolusi. Terlihat sekali Dr. Zakir Naik seperti para banyak para penentang teori evolusi selalu menuduh itu pendapat Charles Darwin. Sesuatu yang Dr. Zakir Naik bener-bener kedodoran dibuatnya untuk memberikan argumen bantahan tentang fakta dari teori evolusi tsb. Alih2 menjawab pertanyaan yang dilakukan cuma menghina ad hominen belaka, khas gaya eyel2an🙂 Aku cuma ngekek2 mengingat kejadian 10 tahun atau belasan tahun lalu saat begitu terpesona dengan Dr. Zakir Naik.

Dari diskusi ini semakin meyakinkanku atas keputusan lamaku untuk tidak mau lagi mendengarkan ceramah Dr. Zakir Naik—, ternyata adalah sebuah keputusan yang amat tepat…

Ps.
Ini contoh kasus kualitas omongan Dr. Zakir Naik yang amat sangat luar biasa begitu hebatnya “Percaya Dirinya” saat bicara; Bayangkan dalam 5 Menit saja dia bisa membuat 25 kesalahan! Luar biasa dulu aku kok bisa menganggumi orang seperti ini yah?

Tapi aku masih belum terlambat,aku masih cepat sadar ada yang salah dengan dengan Dr. Naik ini. Hanya aku lihat begitu banyak umat Islam terpukau dalam kesesatannya

Ternyata Dialog pada Video Yuotube diatas ada teksnya. Silahkan lihat di link ini: https://wikiislam.net/wiki/Quran_and_Modern_Science_%E2%80%93_Conflict_or_Conciliation#Ruperts_Albert

6 thoughts on “Refleksiku pada Dr. Zakir Naik

  1. Artikel yang cukup menarik untuk dibaca, hanya saja ada yang mengganjal dibenak saya. Bapak menggunakan argumen Dr Zakir Naik dan kalah dalam sebuah diskusi, dan pada akhirnya bapak mencari kesalahan Dr Zakir Naik. Seyakin apakah bapak bahwa 10 tahun lalu ilmu bapak miliki sudah seperti ilmu yang dimiliki Dr Zakir Naik? Terima Kasih🙂

    XXXXX

    Tidak, saya tidak mencari kesalahan argumen Dr. Naik. Saya tahu itu tanpa mencari karena lawan2 diskusi sayalah menelanjanginya.
    Anda bisa banyakan jika saya mengacu 5 menit saja omongan Dr. Naik (seperti dalam video dibawah ini), lalu dalam 5 menit tsb rekan saya mengkritisinya ada 25 lebih kesalahan maka pasti malu lah yang amat sangat yang didapat.

    Jadi, kesimpulannya saya ndak pernah mencari kesalahan Dr Naik, saat saya diskusi dengan para non Muslim maka saya tahu omongan Dr. Naik klo secara ilmu itu banyak tidak tepatnya. Klo saya menulis artikel ini untuk memberitahu saja (dalam sudut pandang saya), jika untuk bicara hubungan Sains dan Quran maka Dr. Zakir Naik atau juga Dr. Harun Yayah itu malah membuat kita tersesat kehilangan arah. Dikarenakan mereka berdua itu bukan ilmuwan sejati melainkan pseudo saintis alias pura2 ilmuwan…

    Salam

  2. Logika berpikir Dr, Zakir Naik yg seperti apa yg kurang masuk akal, sehingga ketika bapak diskusi dg org jerman menggunakan cara berpikir Zakir Naik malah runtuh dan dibantai saat diskusi? Jujur saat ini saya mirip dg potret pak Ferizal 10 tahun lalu, pengagum Zakir Naik. Mohon pencerahan, soalnya di kumpulan video youtube terbaru, dia lbh sering bicara soal tauhid dan mencoba mengembalikan islam yg berdasarkan Al-Qur’an dan hadist. Saya pikir, match.

    XXXXX

    Sdr Hafidh,

    1. Sudah saya tampilkan contohnya dalam artikel saya diatas (saya copas ulang):
    Ini contoh kasus kualitas omongan Dr. Zakir Naik yang amat sangat luar biasa dipaham “Percaya Dirinya” (atau tidak tahu dirinya?) saat bicara:
    Bayangkan dalam 5 Menit saja dia bisa membuat 25 kesalahan!

    Nah silahkan saja anda ikuti 5 menit saja video ini, anda akan tahu betapa banyak salahnya.

    2. Lalu anda bandingkan dengan Video ini: https://www.youtube.com/watch?v=sXa-UQjSNn0
    Perkataannya sama dan mirip. Hanya sadarkah kita bahwa di kedua video itu terpaut waktu antara Naik muda dan Naik tua. Itu mungkin terpaut belasan tahun. Bayangkan dalam waktu belasan tahun dia ulangi kesalahan yang sama berkali2 tanpa dia sadar itu salah?

    3. Ini salah satu bentuk logika Naik yang membuat kita harus malu jika membangun logika dialognya seperti ini:

    Seorang penanya prostes karena Naik itu merendahkan Bible.

    Tahu logika jawab Naik?:
    (Naik): Ditanya balik ke si penanya: “Benarkah 2 + 2 = 5?”
    (Penanya) Jawab penanya: “salah!”
    Lalu si Naik dengan logika seenaknya menimpali: “Apakah saat kamu menyalahkan perkataan (baca: keyakinan) saya 2 +2 = 5 berarti kamu merendahkan saya?”

    Lihat video ini:


    Komen saya:
    2+2 = 5 itu jelas salah, itu kesepakatan matematika yang semua orang tahu dan bersepakat yang benar 2 + 2 = 4.

    Lha klo Naik salahkan Bible dan rendahkan Bible karena dasarnya Quran, itu persepsi keyakinan dia pribadi atas kebenaran agamanya. Jika dia salahkan bible karena dia bilang itu bukan dari Tuhan tapi cuma ditulis orang maka itu benar dia arogan dan ndak menghormati keyakinan orang lain yang yakin Bible itu Firman Tuhan.

    Bagaimana klo dibalik situasinya, klo ada yang serang Quran itu cuma karangan Nabi Muhammad, toh ndak ada yang bisa buktikan malaikat Jibrl itu datang ke rosul Muhammad atas perintah Allah. Lalu saya dan anda protes, sebagai penghinaan terhadap Quran.

    Lalu si penuduh itu pakai logika Naik: 2 + 2 = 5 is Wrong, Are You Insulting Me?! —inikah benar2 cara pikir ndak tepat dari bukan?

    Nah seperti itu Naik membangun argumen2nya: banyak salah di fakta dan logikanya meloncat2 tidak jelas.

  3. Sekadar memberi alternatif lain. Kalau senang dengar tentang agama Islam dalam bahasa Inggris, coba dengar Nouman Ali Khan dari Bayyinah TV. Memang tidak khusus dengan sudut pandang ilmu. Dia cenderung banyak membahas dari linguistic dalam Al-Quran. Jadi kalau pun tidak mendengarkan lagi Dr. Zakir Naik, bisa mendengarkan dari ‘Alim yang lain.

  4. Itu kan video sedang bahas perbedaan quran dengan bible perihal cahaya bulan. Dimana salahnya dr zakir naik? Tontonnya full jangan setengah setengah.klo nonton cuma sepotong pesannya gak sampai

    XXXXXXX

    Cahaya bulan yang mana? Video pertama Naik itu bicara tentang teori Evolusi yang Dr. Naik benar tidak paham tentang hal tersebut sehingga dia menghentikan diskusi. Video kedua membahsa kesalahan2 faktual dari omongan Dr. Naik saat bicara. Hanya dalam 25 menit bicara, Dr. Naik salah sampai puluhan secara faktual.

    Kok bisa ke cahaya bulan dan bible😀

    Salam

    FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s