Resiko Radikalisme Agama dan Shock Culture saat sekolah keluar negeri


10609409_10204071707073502_6586170425760641532_n

Tulisan apik yang saya posting dibawah ini berasal dari Sdr. Ahwazy Anhar mahasiswa muda Univ Al Azhar (yang tampaknya) asal Minangkabau, amat sangat relevan untuk jadi renungan pada siapapun orang tua yang ingin sekolahkan anaknya ke luar negeri saat lulus SMA.

Bedanya jika sekolah di Mesir ancamannya akan menjadi radikal, kalau sekolah di Jerman misalkan putra/i anda yang masih belia bisa resikonya antara 2 bandul ekstrim apakah terjerumus RADIKAL ataukah terjerumus LIBERAL.

Kenapa bisa terjadi jika sekolah di Jerman? Dikarenakan saat lulus SMA terlalu belia buatnya sehingga dia bisa masuk dalam pergaulan “indah” ala Eropa/Jerman yang bebas atau karena bingung lalu masuklah dalam kelompok-kelompok pengajian yang membuat dia menjadi konservatif, radikal dan fundamentalis.

Biasanya para pelajar SMA yang bingung ini disambut oleh seniornya untuk diajak pengajian yang seakan itu solusi sesuai agama. Lalu diajak makan bersama, silahturahmi, dianggap saudara, dll. Yah namanya anak muda baru datang di Eropa tentu saja akan merasa senang dan hutang budi pada senior yang “baik hati” ini. Lalu inilah saat yang tepat untuk didoktrin untuk menaruhkan paham2 agama radikal beserta aliansi partai politiknya.

Jika pun kelak si anak muda belia ini sadar, biasanya sudah terlambat karena sudah terikat dengan komunitas tersebut sehingga takut untuk disingkirkan. Jadilah akhirnya mereka sebagai kader radikal dalam beragama dan militan membela afiiasi partainya.

Buat orang tua yang ingin menyekolahkan ke luar negeri seperti ke Jerman maka resiko ini harus juga dipertimbangkan secara matang…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli​


Radikalisme menggorogoti pelajar Minang. Tanggung jawab siapa?
olah: Ahwazy Anhar

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa penganut ajaran radikal banyak dari kalangan ‘urang awak’ yang belajar ke Mesir. Sejauh yang saya tau, kaderisasi ajaran ini lebih banyak menyasar kaum hawa karena memang di keputrian pelajar Minangkabau cukup banyak senior mereka yang menganut ajaran ini. Sementara dari kalangan pelajar laki-laki, mereka cukup kewalahan karena tidak memiliki banyak kader. Apalagi para pembesar mereka sudah banyak kembali ke kampung halaman.

Modus perekrutan yang paling sering terjadi adalah dengan mengajak para mahasiswa/i baru untuk berkunjung tempat senior mereka di daerah Samanud. Setelah itu mereka akan didoktrin sedimikian rupa dengan ajaran keras tersebut. Di saat yang sama, Al-Azhar dan para ulamanya digambarkan ke benak mereka sebagai objek yang bergelimang lumpur dosa dan kesalahan, tukang bid’ah, fanatik mazhab dan anggapan bahwa ajaran mereka sajalah yang benar.

Selain itu, derasnya bantuan finansial ditengarai menjadi salah satu penyebab utama para mahasiswa yang masih belum tahu apa-apa ini untuk cenderung mau mengikuti pengajian yang jaraknya cukup jauh dari Kairo. Bahkan tidak sedikit yang rela untuk menyewa flat di daerah Samanud padahal mereka berkuliah di Kairo. Biasanya mereka akan kembali ke Kairo bila waktu ujian saja.

Kalau kita membuka mata lebar-lebar sebenarnya Mahasiswa Minangkabau di Mesir merupakan merupakan kelompok mahasiswa yang memiliki semangat keislaman yang tinggi. Namun sayang sekali, kita mengalami krisis keazharan terutama bagi kaum hawa. Mereka terpaksa sejengkal demi sejengkal harus mengikuti senior mereka jika tidak mau disisihkan dan dipergunjingkan dalam pergaulan sehari-hari. Hal yang cukup berat ditentang bagi mereka yang baru sampai di daerah asing karena belum punya banyak teman untuk bergaul dan bertukar pikiran. Untuk itulah, mereka sangat memerlukan perhatian kita.

Di Mesir, kalau ada yang menyebut ajaran Wahabi atau Salafi pasti orang-orang akan langsung menganggap miring mahasiswa Minang di sana karena menjadi lambung ajaran keras ini.

Sangat disayangkan. Padahal mereka yang sudah dipercaya oleh orang tua, saudara maupun masyarakat kampungnya untuk menuntut ilmu moderat ternyata salah jalan dan mengandung ajaran keras ini.

Sewaktu masih di sana, sebenarnya saya cukup geram dengan ajaran yang mereka anut ini. Dalam organisasi yang saya pimpin dulu, saya sampai harus bersitegang secara frontal dengan mereka lantaran mereka mengahalangi saya untuk mengerjakan program yang sudah direncanakan.

Belum lama ini, salah seorang senior saya terpaksa dikeluarkan dari sekolah tempat ia mengajar karena menganggap banyak hal yang bid’ah di sekolah tersebut. Padahal dulunya ia bersekolah di sana. Cerita ini langsung saya terima dari salah satu ulama terkemuka di daerah tersebut.

Selain itu, saya juga diceritakan bahwa ada seorang suami yang berkebetulan berjenggot yang membawa istrinya untuk menjauhi keluarga besar mereka karena menganggap semua orang di sekelilingnya melakukan kesesatan. Kejadian ini berlangsung di Payakumbuh.

Tentunya masih sangat banyak cerita lainnya yang membuat kita cukup geleng-geleng kepala.

Dalam tulisan ini, saya lebih memfokuskan perhatian bagi kalangan pelajar perempuan Minang di Mesir. Sebab, mereka tidak terlalu memiliki kekuatan untuk menentang ‘uni-uninya’.

Salah satu solusi yang sangat mungkin dilakukan sekarang ini adalah dengan memperbanyak rumah mahasiswi di daerah Darrasah. Daerah ini merupakan salah satu basis kalangan Azhari untuk memperkuat keilmuan mereka karena banyaknya pengajian keazharan yang bertebaran di daerah sekitar masjid Azhar ini.

Tentunya hal ini tidak mudah dan akan langsung ditentang oleh para ‘uni-uni’ berpaham radikal ini. Meski sudah ada beberapa rumah Azhariah yang ada di kawasan Darrasah, namun tetap hal ini belum cukup. Masih banyak para pelajar perempuan Minang lainnya yang harus diberi perhatian.

Terkhusus untuk pelajar perempuan, secara garis besar, hal ini akan menjadi tanggung jawab Bundo Kanduang yang merupakan organisasi keputrian mahasiswi Minang, lalu KMM yang merupakan organisasi induk pelajar Minang, PPMI Mesir yang merupakan organisasi induk kemahasiswaan, dan KBRI yang merupakan perwakilan pemerintah di Mesir.

Usaha KBRI Kairo dan PPMI beberapa waktu lalu untuk menjempu mereka ke Samanud memang belum cukup. Harus ada usaha dari kita semua sebelum semuanya benar-benar terlambat. Jangan sampai mahasiswa baru pada tahun yang akan datang dilarang untuk berkuliah ke Mesir karena masalah ini.

Di samping itu, peringatan Drop Out yang dikeluarkan oleh Al-Azhar cukup beralasan karena terlalu banyak kenikmatan yang mereka dapatkan dengan bantuan Al-Azhar. Al-Azhar sudah menunggu terlalu lama mereka untuk kembali ke pangkuan Al-Azhar.

Oleh sebab itu mari ajak sahabat kita, adik atau kakak kita yang berkiblat ke ajaran keras ini untuk kembali ke Kairo, kembali ke ajaran Al-Azhar. Ajak mereka mengikuti pengajian di Masjid Al-Azhar, Medhiyafah Syekh Ali, Medhiyafah Syekh Ismail, Medhiyafah Said Ad-Dah, Muqattam, Masjid Beybers dan tempat lainnya.

Hal ini bukan sekedar masalah ideologi semata, namun lebih kepada masalah persaudaraan sesama mahasiswa di perantauan. Jangan menunggu lagi. Ajak mereka. Siapa tau orang terdekat kita yang akan di DO oleh Al-Azhar dan dideportasi ke kampung halaman. Padahal kita tahu bagaimana susahnya proses untuk belajar sampai di Negeri Para Nabi ini.

Terakhir, tulisan singkat ini saya tulis bukan untuk memperkeruh suasana atau memperkuat gesekan antar golongan. Saya hanya mencoba memperjelas apa yang sebenarnya terjadi di tubuh mahasiswa Minang di Mesir. Apalagi sekarang ajaran keras ini sudah menjadi perhatian Al-Azhar dan pemerintah Mesir. Artinya masalah ini cukup besar dan kita jangan menutup mata.

Hadanallahu wa iyyakum ajma’in.

Ref berita: http://ruwaqazhar.com/al-azhar-minta-pelajar-bermanhaj-azha…

Surat peringatan DO yang dikeluarkan oleh Al-Azhar

2 thoughts on “Resiko Radikalisme Agama dan Shock Culture saat sekolah keluar negeri

  1. Terima kasih sharingnya pak Ferizal. Sangat bermanfaat… Kebetulan saya berminat untuk sekolahkan anak-anak ke Jerman dan sedang baca2 info terkait. Tulisan keren Bapak ini menjadi salah satu concern utama saya juga…. Salam.

    XXXXX

    Hallo Bung Fery,

    Jadi saatnya mempersiapkan anak kita untuk berpikir open minded sehingga dia bisa luwes dengan lingkungannya tapi punya prinsip dalam bersikap.

    Salam hangat

    FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s