Memahami Filosofi Membantu


150906-germany-migrants-hg-1149_c84baa1a147301b74ce5ddd8010c9694.nbcnews-ux-2880-1000

Anda pasti melihat Jerman membantu banyak pengungsi perang atas nama kemanusian. Mengapa Jerman berani mempertaruhkan beban yang berat menanggung ratusan ribu pengungsi di negaranya? Sebagian skeptis kalau Jerman mampu menanggung beban seberat itu.

Sebagian menuduh nyinyir bahwa Jerman justru sedang mencari keuntungan dari para pengungsi untuk dijadikan tenaga kerja murah di Jerman.

Nah tulisan ini untuk meluruskan cara pikir mlintir pada kedua pendapat diatas sekaligus juga menunjukkan pentingnya kita memahami filosofis membantu ala manajemen Jerman.

Yang benar itu saat Jerman menerima ratusan ribu pengungsi tujuan utamanya adalah kemanusian untuk membantu. Yang salah itu berpikir klo kita berbuat kemanusiaan berarti kita harus terbebani selamanya. Itu yang harus kita semua merubah mindset tentang filosofis membantu.

Jadi cara bekerja atas sebuah Program bantuan klo mau pakai mindset manajemen Jerman dengan mengkombinasikan Idialisme Sosialis dan Profisionalitas Kapitalis, kira-kira begini rantai berpikirnya:
1. Saat tahap Motivasi adalah SOSIALIS tujuannya untuk kepentingan bersama
2. Saat tahap bekerja itu KAPITALIS yaitu bisa mengoptimalkan semua resources untuk dapat gain
3. Saat tahap kompensasi itu KAPITALIS setiap orang dibayar sesuai dengan kontribusinya
4. Saat tahap menikmati hasil keuntungannya itu SOSIALIS dimana keuntungan tidak semua untuk individu yang terlibat semata tapi harus diinvestasikan untuk program Sosial yang baru.

Jika pada kasus pengungsi misalkan maka logika ini akan diimplementasikan sbb:
1. Saat mau menolong pengungsi maka motivasi SOSIALIS yang tujuannya menolong para pengungsi supaya hidup layak
2. Saat program menolong berjalan maka prinsip KAPITALIS dimana resources mereka (tenaga kerja para pengungsi) akan dijadikan asset produksi oleh industri/infrastruktur Jerman
3. Saat memberi kompensasi maka KAPITALIS dimana mereka (para pengungsi) mendapatkan kompensasi layak sesuai dengan kontribusinya sehingga bisa hidup sejahtera di Jerman
4. Saat program ini berhasil maka itu diambil kembali untuk negara dalam bentuk mereka bayar pajak dan mereka menjadi pekerja2 industri Jerman, dimana nanti keuntungan eksport industrinya masuk pajak negara untuk membuat program SOSIALIS baru.

Cara berpikir SOSIALIS kombinasi KAPITALIS ini tampaknya jarang dipahami oleh orang Indonesia. Bagi orang Indonesia itu menolong berarti dia memberi tanpa mengambil dan tanpa melihat bahwa dibalik memberi itu sebenarnya perlu ada mindset “win-win solution”.

Contoh lainnya pada kasus kuliah gratis di Jerman. Sekolah GRATIS di Jerman itu buat warga negara manapun. Ini jelas Program Jerman SOSIAL yang amat humanis. Ini program sosial yang hanya sedikit negara di dunia mampu melakukannya. Tapi jangan anda pikir Jerman tidak dapat manfaat besar dari program ini. Sebenarnya ini prinsip “give and take”, cuma Jerman melakukan GIVE (SOSIAL MEMBANTU) dulu, baru TAKE (CARI PROFIT).

Jerman biarkan sekolah gratis. Lalu para anak2 muda terbaik dari berbagai bangsa datang ke Jerman. Mereka belajar budaya dan B. Jerman sehingga tanpa susah payah budaya dan B. Jerman dipelajari berbagai bangsa di dunia yang padahal B. Jerman bukanlah Bahasa Internasional seperti B. Inggris. Lalu setelah lulus kuliah dari anak2 muda terbaik berbagai bangsa ini, yang dianggap terbaik dari yang amat baik diberi VISA untuk tetap di Jerman. Mereka menjadi memberi kontribusi bagi kekuatan Jerman. Jadilah Jerman TAKE disini.

Andaikan yang lulus pun memutuskan pulang ke negara masing2 maka mereka akan jadi sahabatnya Jerman, yang mungkin akan jadi agen marketingnya Jerman. Padahal sangat mungkin karena lulusan pendidikan Jerman mereka menjadi punya posisi kunci di negaranya masing2. Jadilan mereka sebagai networknya JERMAN. Jerman TAKE disini. Termasuk eksport produk2 Jerman menjadi dominan sehingga mereka pun punya devisa lebih untuk terus bisa membiayai Universitasnya selalu Gratis.

Nah, konsep membantu sekaligus mendapatkan manfaat dari program bantuan ini membutuhkan sistem management yang baik. Sistem GIVE dan TAKE ini sayangnya di kita tidak terbudaya. Malah jadi stigma dengan menuduh: “Ah itu sih anda bukan bantu tapi mau ambil untung”. Akibat dari mindset ini klo di kita membantu maka kita berperiaku seperti lilin. Menerangi orang lain, malah diri sendiri terbakar. Saat dana bantuannya habis maka berhenti pula lah program bantuan tersebut.

Dikarenakan program bantuan TIDAK didesain untuk mendapatkan manfaat atau outcomes dalam bentuk pemasukan cash flow, jadilan kesinambungan bantuannya berhenti saat dana donasinya terhenti. Dimana2 lilin akan redup. Jadi, jangan pernah membantu pakai filosofis lilin.

Tapi bagaimana membedakan antara membantu dengan sistem GIVE dan TAKE dengan perilaku cari kesempatan dalam kesempitan bertopeng program bantuan?

Gampang membedakannya:
1. Jika Program itu awalnya membantu lebih dulu, dimana si yang dibantu menjadi naik derajat dan martabatnya, lalu kemudian si terbantu tersebut didesain untuk memberikan kontribusi balik atas keberhasilannya, maka inilah tujuannya membantu dengan prinsip “GIVE anda TAKE”.

2. Jika Program itu dari awalnya malah langsung membebani si yang dibantu, mereka harus berkorban dan bahkan malah membayar untuk mendapatkan bantuan maka ini namanya bisnis.

3. Jika Program itu untuk membantu tanpa peduli apakah yang dibantu akan melakukan balas jasa atau tidak maka ini namanya sedekah.

Bagi saya sebuah negara jika ingin membuat Program Kemanusiaan harus pada point 1. Dikarenakan Negara membutuhkan kesinambungan dana sehingga program bantuannya juga bisa sinambung.

Bagi bisnis seringkali pada point 2, hanya pebisnis yang gunakan point 2 kadang tidak beretika. Menggunakan gaya bantuan padahal tujuannya jualan dan cari keuntungan.

Contoh banyak PTS membuka program2 kuliah yang katanya dapat potongan harga dalam bentuk beasiswa padahal tujuannya untuk menarik mahasiswa baru adalah contoh point 2 yang kadang malah tidak beretika.

Bagi masyarakat umum atau organisasi sosial kalau mau bantu sedekah yah biasanya pakai point 3. Hanya jika anda ingin membantu secara berkesinambungan maka pakai lah filosofis point 1.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe.

One thought on “Memahami Filosofi Membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s