Al Fatehah saya buat Gus Dur dan Romo Mangun…


11052014173006-Lukisan bergambar Romo Mangun (kanan) dan Gus Dur yang sedang bermain catur

Kala itu saya mahasiswa, masih naif. Saya masih terpesona dengan simbol-simbol agama. Saya masih terpesona dengan keyakinan bahwa kedalaman iman seseorang ditentukan oleh simbol-simbol agama yang diperjuangkan. Jadilah saat sampiyan Gus Dur bicara tentang pluralisme maka saya termasuk yang mengrenyit dahi mendengarnya.

Kelak saya dihantui perasaan amat bersalah dalam diri saya sendiri karena dulu saya salah satu yang amat menentang sikap pluralisme-mu Gus Dur. Saya yang begitu suka cita saat sampiyan diturunkan secara paksa sebagai Presiden, dan saat ini saya tahu bahwa sikap itu salah.

Hari ini saya tahu persis, kelompok Poros Tengah yang saya bela untuk menjatuhkan sampiyan, justru mereka lah yang di Parlemen membuat berbagai UU “Neo-Liberal” untuk menjual Kekayaan Alam, Tambang, Migas bahkan Air Bersih! Mereka lah atas nama Kelompok Hijau di Parlemen yang waktu itu mayoritas justru membuat UU kita tidak memihak rakyat tapi menjadi liberal.

Untung saja, banyak d iantara kami terdasar dan bertanggung jawab mengkoreksinya, berjuang melalui Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan UU yang amat liberal yang berpihak pada kepentingan asing tsb. Beberapa diantaranya sudah banyak yang dikoreksi.

Hari ini juga saya tahu persis, bahwa sikap sampiyan Gus Dur, yang penuh dengan toleransi itulah yang membuat jaringan tenun kebangsaan kita yang terdiri dari berbagai agama, suku, ras menjadi saling terikat kuat. Dikarenakan adanya saling penghormatan dalam perbedaan.

Hari saya tahu persis, usaha sampiyan yang paling amat berhasil adalah membuat Tentara menjadi Profesional dan meninggalkan gelanggang politik. Jadilah Indonesia menjujung tinggi kedaulatan pemerintah sipil tanpa melalui proses pertumpahan darah. Tidak banyak bangsa di dunia ini yang mampu melakukan hal ini.

Untuk keterlambatan saya memahami semua dedikasi sampiyan, serta kenaifan saya, maka saya mohon maaf dan Al Fatehah untuk sampiyan Gus Dur.

Buat Romo Mangun, seharusnya saya tidak Suudzon dengan aktivitas sosial sampiyan untuk membela kaum lemah dan papa. Itu adalah aktivitas amat nyata dan kongrit dalam membela kaum lemah disaat banyak orang menjadikan hal itu sebagai komoditas politik. Sampiyan justru malah secara nyata turun membantu tanpa gembar-gembor untuk memanusiakan para kaum papa pinggir kali.

Tapi perasaan bersalah yang paling besar adalah kenapa saya harus su’udzon pada sampiyan, padahal sampiyan sesungguhnya inspirator saya. Saya penganggum sampiyan dan buku: “Burung-Burung Manyar” serta “Ragawidya” sesungguhnya buku yang membukakan mata saya tentang spirit dari hidup. Saya juga ingat dalam suatu pertemuan mungkin awal 1990-an, saya benar-benar lupa moment apa tepatnya, sepertinya di Kampus Ndeso UGM, saya bertanya pada sampiyan tentang “bagaimana cara bisa menjadi penulis”.

Sampiyan menjawab teduh, yang kira-kira begini: “Mas, bukan cara menulis yang penting dipelajari tapi kesadaran untuk mau menulislah yang lebih penting. Dikarenakan dengan menulis berarti sampeyan mas telah “menyedekahkan” ilmu sampeyan ke orang banyak. Nah, kesadaran seperti itu jauh lebih penting agar anda bisa menulis!”

Saya benar-benar berterima kasih pada sampiyan Romo Mangun karena nasehat itulah yang menginspirasi saya hingga hari ini. Atas semua sikap su’udzon saya ke sampiyan, dengan tulus saya hanya bisa mengirimkan Al Fatehah untuk sampiyan…

Allah yang Maha Penyayang dan Pemurah yang selalu saya sembah, saya yakini pasti akan memberi tempat terbaik buat sampiyan berdua.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

2 thoughts on “Al Fatehah saya buat Gus Dur dan Romo Mangun…

  1. Saya suka kalimat ini: “Mas, bukan cara menulis yang penting dipelajari tapi kesadaran untuk mau menulislah yang lebih penting.”

    Karena selama ini ngeblog mau bikin postingan selalu digrogoti males. Salam kenal mas.. Tulisannya keren2.

  2. “Hari ini juga saya tahu persis, bahwa sikap sampiyan Gus Dur, yang penuh dengan toleransi itulah yang membuat jaringan tenun kebangsaan kita yang terdiri dari berbagai agama, suku, ras menjadi saling terikat kuat. Dikarenakan adanya saling penghormatan dalam perbedaan.”

    ga setuju sama paragraf ini, karena bisa dibilang yang membuat toleransi itu cuma masyarakatnya masing-masing. dan melihat dari kenyataan saat ini, toleransi itu cuma berjalan di bawah 5%, kebanyakan hanya bersifat bicara di bibir saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s