Pendidikan ala Jerman Humanis: Ilmuwan itu adalah Seniman!


Musik adalah Bahasa Keindahan Universal. Pendidikan ala Jerman humanis pada Gymnasium di Jerman sesungguhnya mendidik seorang calon ilmuwan tidak cuma kering kerontang dalam ilmu-ilmu sainsnya saja, melainkan dibentuk secara utuh dalam cita rasa keindahan. Kecerdasan akan ilmu harus diperkaya oleh sentuhan rasa akan seni!

Bukan MINT (Mathe, Informatik, Naturwissenschaft/IPA, Technik) yang membuat seorang ilmuwan menjadi ilmuwan utuh, karena itu adalah hanya keharusan prasyarat dasar untuk menjadi ilmuwan…

Bukan Bahasa, —dimana di Gymnasium ini yang kebetulan Eropa Schule—, selain B. Jerman sebagai Bahasa Ibu, tetapi B. Inggris bagi lulusan didorong sampai Advanced serta bahasa lainnya apakah Perancis ataukah Spanyol sampai level Vantage, karena itu kompetensi komunikasi standard untuk menjadi ilmuwan…

TETAPI citra mereka akan sentuhan senilah yang membuat mereka menjadi ilmuwan secara utuh. Itu sebabnya nafas seni ditanamkan secara dalam pada para siswanya agar dalam keseriusannya menyelesaikan Persamaan-persamaan Matematika/Fisika, Eksperimen Kimia atau Obeservasi di Laboratorium Biologi, mereka tetap menjadi pribadi-pribadi yang seimbang karena kaya akan sentuhan seni.

Saat saya berefleksi, saya pun prihatin dengan banyaknya orang tua di Indonesia yang sibuk memaksakan les anak2nya Fisika, Matematika, dan mata pelajaran lainnya sepulang sekolah.

Kasihan mereka cuma dijejali hal2 kering kerontang yang membuat hidupnya tidak utuh dan seimbang, hanya fokus urusan intelektual. Sementara di belahan dunia lain, para kanak2 yang disiapkan untuk jadi imuwan (di Jerman mereka2 yang sekolah di Gymnasium dididik untuk jadi ilmuwan) justru malah diajari untuk cinta akan seni sedini mungkin.

Jadi, betapa kita mendidik anak2 kita tanpa “soul” saat mereka dipaksa untuk menelan dan memahami berbagai rumus2 persamaan matemarika atau fisika terus menerus tanpa diperkaya untuk melatih ketajaman jiwa seninya.

Ini pendapat saya pribadi, jika putri saya sekolah di Yogya maka yang saya lakukan akan saya antarkan putri2 saya untuk kursus Nari Jawa dan Gamelan! Jadi tidak ada lagi yang namanya tambah untuk les matematika dan fisika sepulang sekolah. Ini sesungguhnya titik keprihatinan sana akan terlalu fokusnya pendidikan kita pada aspek intelektual yang berlebihan.

…Segenap imajinasi Zahra pun tenggelam dalam gesekan Biola-nya mengembangkan cita rasa seninya, disaat yang sama dengan keceriaannya menunjukan hasil latihan olah vokalnya bersama rekan vokal groupnya…

Ilmuwan itu adalah Seniman!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

01 Ikg

02 Ikg

03 Ikg

04 Ikg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s