Memahami Filosofis Perang Amerika dan Konflik Timur Tengah


ISIS

Ini diskusi beberapa waktu lalu saat saya bertemu lagi dengan seorang teman lama Yahudi Fundamentalist sejati tapi amat sederhana lulusan Universitas Cambridge dan juga Universitas Hamburg. Saking begitu puritan dan taatnya ini si Yahudi, di Pojok Halaman Universitas Hamburg itu ada tulisan Peringatan Korban Yahudi yang dibantai oleh Nazi. Tiang papan peringatan menerangkan bahwa di lapangan inilah puluhan ribu Yahudi dikumpulkan, sebelum dikirim di kamp konsentrasi.

Oleh si teman saya yang Yahudi puritan ini, dia selalu rajin meletakkan batu2 kecil diatas papan peringatan tersebut. Katanya, dalam tradisi Yahudi bahwa pemberian batu tersebut adalah bentuk penghormatan dan doa pada si korban. Dari perilaku ini saja, anda bisa bayangkan betapa puritan dan fundamentalisnya teman Yahudi saya ini. Plus dia berjanggot ala Yahudi sambil rambutnya ada yang dikepang kecil2 dan kupluk kepala kecil khas pria-pria Yahudi fundamentalis berpakaian. Hanya jangan lupa yah dia Yahudi nan sederhana lulusan University of Cambridge dan Universität Hamburg. Artinya, dia amat terdidik dan intelek.

Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapatnya tapi saya sharing diskusi saya dengannya disini…

Ini pernyataannya tentang Amerika: “Amerika itu bangsa yang ndak bisa perang. Tidak ada perang yang dimenangkan oleh bangsa Amerika jika tidak di “supervisi” oleh Inggris. Satu-satunya kemenangan Amerika perang sendirian saat melawan Inggris dalam perang kemerdekaan Amerika. Selebihnya, jika tidak di-mentori oleh Inggris maka Amerika pasti selalu kalah. Perang Vietnam, Konflik Kuba, berbagai konflik di Afrika dan berbagai konflik lainnya jika tidak dimentori Inggris maka Amerika akan selalu kalah dihasil akhir.

“Kenapa?”, tanyanya retoris padaku

“Dikarenakan mereka (Amerika, red) pikir perang itu membunuh dan membunuh! Padahal perang itu urusan memenangkan hati melalui perpaduan Intimidasi dan Intimasi!”

“Nah, di titik ini bangsa-bangsa cowboy Amerika memang perlu belajar dari Inggris”, si Yahudi ini tampaknya ingin menekankan betapa cara berpikir Inggris yang ningrat inilah yang sesungguhnya bisa memenangkan perang!

“Sayang persaingan Inggris dengan Jerman di Uni Eropa membuat posisi Inggris semakin melemah. Jadilah, Inggris yang seharusnya menjadi mentor Amerika justru secara Ekonomi tergantung pada Amerika. Ini yang menyebabkan peran Inggris dalam mentoring Amerika melemah. Jadilah kesalahan-kesalahan seperti serangan yang tidak perlu di Afghanistan, di Irak serta akhirnya mendukung ISIS terjadi. Inggris tidak kuasa melarang Amerika untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan itu dan justru mendukung untuk melakukan kesalahan”, begitu kata si Yahudi panjang lebar.

“Akibatnya sesungguhnya bisa fatal. Amerika bisa kalah di Timur Tengah karena terlalu banyak kesalahan yang telah dibuat dan itu point besar buat Rusia dan China”.

“Israel bisa bahaya sekali jadinya. Israel itu negeri kecil yang dikepung oleh bangsa Arab yang ingin memusnahkan Israel. Jika Amerika kalah dalam proxy war di Timur Tengah maka akan terjadi pembantaian pada rakyat Israel”.

“Anda (dia mengarah pada saya, red) yang muslim apalagi negara Arab bukan lah bangsa yang suka berdamai. Jadi, jika anda jadi pemenang maka anda akan membantai kami. Itu sebabnya kami (Yahudi) terpaksa membangun tembok pertahanan yang tinggi karena kami tahu anda (kaum muslim) bukan bangsa yang tahu apa itu arti damai”

“Saya (maksudnya: si Yahudi menunjuk dirinya sendiri, red) amat menyesali kenapa Amerika begitu teledor dalam perang di Timur Tengah. Perang itu urusan hati, bukan cuma urusan membunuh dan membunuh! Untuk memenangkan perang itu bukan membunuh tapi mengkombinasikan antara intimasi dan intimidasi secara efektif!”, kata si Yahudi panjang lebar.

Saya tidak banyak bertanya saat si Yahudi itu curhat ke saya. Tapi 1 pertanyaan kecil saya ajukan ke si Yahudi:
“Lah kamu kan tahu untuk memenangkan perang itu bukan dengan cara membunuh musuh tapi memenangkan hati lawan, tapi apa yang dilakukan oleh Israel di Palestina?!”

Jawab dia: “Dikarenakan Palestina dan negara-negara Arab tidak mau mengakui kami sebagai bangsa seperti kesepakatan PBB dulu. Jika semua mau mengakui saling merdeka maka kita bisa hidup damai”.

Tentu saja kita berdiskusi panjang tentang hal ini. Hanya jauh di lubuk hati saya membekas 1 pertanyaan penting: “Benarkah jika bangsa Arab mengakui Israel sesuai dengan kesepakatan PBB maka Israel berhenti menyerang Palestina?”. —saya tidak terlalu yakin kebenaran thesis itu.

Nah pertanyaan saya itu saya diskusikan pada teman saya lainnya yang kebetulan orang Islam keturunan Turki yang sedang ambil Doktoral Germanistik di Universität Hamburg.

Katanya dan ini benar2 amat membuat saya katawa meringis: “Analisa temenmu (yang Yahudi itu) logis dalam urusan filosofis Amerika dalam berperang yang amat keliru. Tapi ndak tepat dalam kasus Arab dan Israel. Itu dua bangsa yang ndableg polll. Jadi, ndak usah dipikirkan. Perang memang akan terus berlangsung pada dua bangsa yang hobi perang itu. Biarkan aja perang perang terus sendiri sampai salah satu diantara mereka habis terbantai baru akan berhenti atau mungkin tidak akan pernah berhenti sampai kiamat”.

“Yang harus diperhatikan jangan sampai negaramu (Indonesia) jadi ikut-ikutan perang karena urusan Arab-Israel ini. Lah wong kami (Turki maksudnya) saja ndak peduli kok dengan Arab-Israel ini bahkan berteman dengan keduanya, lah kenapa kalian di Indonesia jadi begitu reseh dengan urusan Timur Tengah. Biarin aja, ndak usah dipikirkan…”

Aku cuma godek-godek kepala untuk diskusi ini semua. Klo dipikir2 Indonesia malah lebih nyata mendukung Palestina yang sampai hari ini tidak mau buka hubungan kerja sama diplomatik dengan Isreal disaat Turki dan Mesir malah punya banyak perjanjian persahabatan dengan Israel…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

One thought on “Memahami Filosofis Perang Amerika dan Konflik Timur Tengah

  1. Rusia sebenernya juga diam2 ikut ngobok-obok konflik Timur Tengah kok pak. Dulu pas konflik di suriah, Putin scr intensif memasok senjata utk pemerintah Suriah buat melawan kelompok oposisi yg merupakan cikal bakal NIIS. Tapi saya juga sepaham dengan opini bapak soal Amerika.

    XXXXXXX

    Yah ini memang konflik kepentingan negara2 yang ingin menggolkan kepentingannya maka akan bermain. Yang kasihan yah rakyat yang menjadi korban perang😦

    Salam Hangat

    Ferizal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s