Kenapa Bersedia Mengajar di Universitas Hamburg?


hamburg-uni-semesterbeginn-architektur-8

Kompensasi finansial jelas itu alasan yang harus dibuang jauh-jauh. Beban kerja relatif berat, jika dibandingkan dengan kompensasi sebagai Konsultan Bisnis dan Standard Software SAP jelas “ra cucuk!” alias ndak imbang🙂

Tapi ada 3 alasan yang membuat saya pribadi bersedia terlibat sepenuh hati mengajar di Universitas Hamburg untuk mata asuh “Business Comunication and Intercultural Understanding”

1. Passion atau Leidenschaft. Saya suka sharing ilmu, bertukar pendapat dan mengajar mereka-mereka yang lebih muda. Itu adalah panggilan jiwa.

2. Saya ingin memberitahu para anak-anak intelektual muda Jerman yang kelak mungkin mereka akan jadi pemimpin negera Jerman yang besar ini bahwa Indonesia itu adalah Partner Strategis dan Terhormat buat masa depan anda (dan mungkin Jerman kelak).

Dengan kekuatan Ekonomi yang begini besar maka negara2 Jepang, Korea, China dan Amerika berebut masuk Indonesia. Jerman tertinggal di belakang dibandingkan mereka dikarenakan ketidaktahuan Jerman tentang betapa strategisnya Indonesia. Amat sedikit para intelektual Jerman berminat mempelajari Indonesia.

Padahal Indonesia dan Jerman itu sama-sama saling membutuhkan. Jerman itu negara yang amat tidak pelit dalam transfer teknologi sementara Indonesia butuh teknologi untuk pembangunan masyarakatnya dan meningkatkan daya saing industri manufakturnya. Jerman butuh perdagangan serta melakukan investasi internasional sementara Indonesia memiliki pasar yang besar serta resources besar.

Sayang sekali hanya sedikit intelektual Jerman melihat bahwa Indonesia adalah Partner Strategis bagi Jerman untuk bersama membangun kerja sama bermartabat.

3. Pusat Study Indonesia di Universitas Hamburg itu sesungguhnya adalah media yang tepat untuk menyebarkan “value indigenous” Indonesia ke Jerman dan Eropa.

Apa itu value Indonesia yang original yang perlu disebarkan keseluruh bangsa lain?
(1) Toleransi! Kita adalah bangsa yang terbiasa hidup dengan berbagai perbedaan etnik, bahasa dan agama tapi kita bisa hidup bersama.
(2) Keterbukaan! Kita adalah bangsa yang penuh keterbukaan dengan berbagai sudut pandang.
(3) Cepat Belajar! Kita adalah bangsa yang cepat belajar.
Contoh: dengan cepatnya memberantas buta huruf saat merdeka hanya 5% melek huruf dan sekarang 100%. Tidak banyak negara mampu melakukan ini.
Kita cepat belajar tentang demokrasi hanya butuh seumur jagung untuk bertansformais menjadi negara demokrasi besar.
Kita cepat belajar tentang emansipasi, dll., dll.

Tentu saja kita pun perlu belajar value yang baik dari Eropa seperti akuntabilitas dan bertanggung jawab, taat hukum dan aturan serta value-value baik lainnya.

Itu semua yang membuat saya begitu bergairah saat bisa berintekasi dengan para calon intelektual Jerman yang kuliah di Universitas Hamburg dan ingin memperlajari Indonesia. Saya ingin berkontribusi meskipun secuil untuk memberi tahu pada mereka semua bahwa Indonesia itu adalah mitra strategis yang bermartabat buat karir anda serta diharapkan kelak saat anda semua menduduki jabatan tinggi maka akan mempererat hubungan Jerman dan Indonesia.

Tentu saja langkah saya ini terlalu sederhana jika dibandingkan dengan visi yang ada di kepala saya. Tidak mengapa, lebih baik melakukan tindakan kecil bermanfaat dari pada hanya cita-cita mengawang-ngawang tanpa aksi🙂

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s