Agama (Renungan sebelum Idul Adha)


Agama itu bisa jadi amat berguna jika itu untuk kekayaan hati buat anda sendiri secara individu dan anda ekspresikan ke dalam perbuatan baik ke semua orang yang ada di sekitar anda; dikarenakan pamrih anda hanya keikhlasan pada Tuhan. Pamrih anda berbuat baik bukan karena kepentingan pribadi.

Agama belum tentu baik jika anda memutuskan akal sehat anda digadaikan dalam memahami ayat-ayat Tuhan. Selalu memahami teks secara tekstual dengan lebih mengutamakan pendekatan doktrin surga neraka, dosa pahala dan ketakutan mendapatkan label kafir dari orang lain.

Agama umumnya buruk jika itu dijadikan standard untuk sistem berpolitik bernegara serta menjadi standard hukum bernegara. Agama tidak akan memberi manfaat malah cenderung merusak jika dipaksakan diterapkan dengan menggunakan kekuatan legal formal negara:

Pertama, Perpecahan dan peperangan adalah saudara kandungnya karena merasa paling benar sendiri. Yang berbeda dengan dirinya dan kelompoknya akan diperangi.

Kedua, Korupsi adalah sahabat karibnya karena perbuatan korup penguasanya akan mudah mendapatkan pembenaran. Sikap kritis rakyatnya terhadap penguasa korup akan dibungkam dengan memanipulasi ayat-ayat Tuhan berdasarkan kepentingan penguasanya.

Ketiga, Kemiskinan dan Kebodohan adalah anak kandungnya karena rakyatnya didoktrin dengan ayat-ayat Tuhan berdasarkan kepentingan penguasa belaka, yang berani menentang akan dapat tuduhan sebagai penentang ayat-ayat Tuhan. Jadilah rakyat tenggelam dalam kebodohan. Saat bersamaan rakyat menjadi tuna kuasa dalam kemiskinan atas perilaku korupsi penguasanya yang duduk di singgah sana merasa sebagai wakil Tuhan.

Orang yang bisa mengambil manfaat besar beragama itu jika dia berhasil menemukan formula dan dosis tepat bagi dirinya sendiri;
(1) bagaimana hatinya ikhlas menjalankan nilai-nilai baik dalam agama,
(2) bagaimana akalnya mampu memaknai hikmah dari perintah/larangan ayat-ayat teks dalam agama tanpa terjebak dalam merasa paling benar sendiri mengartikan ayat-ayat agama, serta
(3) bagaimana egonya mampu mengendalikan hasratnya untuk tidak memaksa orang lain harus mengikuti apa yang dia anggap benar.

Jadi, agama itu untuk diri anda sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan dan saat ke masyarakat ketawakalan anda beragama tercermin dari dedikasi dan karya anda yang bermanfaat bagi masyarakat!

Ketawakalan orang beragama TIDAK tercermin dari simbol-simbol yang dia tampilkan, tidak tercermin dengan gemuruh nasehat yang dilontarkan, tidak juga tercermin dari ritualnya menjalankan agama yang dia perlihatkan ke publik…

Di Tulis dalam keadaan Sunyi di Tepian Lembah Sungai Elbe yang agak mulai dingin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s